299. Tafsir Qs. Ali Imran Ayat 18-20

Ustadz Beni Sarbeni Lc. M.Pd.
16 April 2026 • 2 VIEWS YOUTUBE SOURCE WHATSAPP SHARE

DENGARKAN AUDIO KAJIAN

299-tafsir-qs-ali-imran-ayat-18-20-10-beni.mp3

DOWNLOAD

Kajian ini membahas tafsir Surah Ali Imran ayat 18-20 dari Kitab Tafsir As-Sa'di oleh Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, dengan Ustaz Abu Sumayyah Beni Sarbeni, Lc., M.Pd. Sebagai pembuka, Ustaz Beni membacakan sebuah hadis riwayat Imam Muslim dari sahabat Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu yang mengisahkan tentang keutamaan berkumpul untuk belajar Islam. Rasulullah ﷺ mendapati para sahabat di masjid sedang saling mengingatkan tentang Islam dan nikmat Allah. Jibril 'alaihis salam kemudian mengabarkan kepada Nabi bahwa Allah membanggakan para sahabat tersebut di hadapan para malaikat-Nya. Hadis ini memotivasi kita untuk senantiasa belajar dan bermajelis ilmu, dengan harapan Allah juga membanggakan kita.

Dalam tafsir ayat 18-20 Surah Ali Imran, Ustaz Beni menjelaskan bahwa Islam memiliki dua makna: umum dan khusus. Secara umum, Islam adalah agama seluruh para nabi. Sedangkan secara khusus, Islam merujuk pada agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ beserta syariatnya. Allah menegaskan bahwa agama yang benar di sisi-Nya hanyalah Islam, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali Imran ayat 19.

Orang-orang yang diberikan Alkitab (Yahudi dan Nasrani) berselisih bukan karena mereka tidak memiliki ilmu atau wahyu, melainkan karena kezaliman, permusuhan, dan sikap melampaui batas dari diri mereka sendiri. Padahal, ilmu dan kitab suci yang datang kepada mereka seharusnya menjadi sebab terbesar untuk bersatu di atas kebenaran dan meninggalkan perselisihan. Siapa pun yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, maka Allah sangat cepat perhitungan-Nya. Setiap orang akan dibalas sesuai dengan amalnya, terutama bagi yang meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya; mereka berhak mendapatkan ancaman dan siksaan yang pedih.

Demikian pula, perpecahan yang terjadi di kalangan kaum Muslimin, sebagaimana yang Nabi kabarkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, sebab utamanya adalah karena meninggalkan Al-Qur'an. Oleh karena itu, ahlusunnah senantiasa menyerukan untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, dengan pemahaman para sahabat dan tabi'in (salafush shalih).

Kajian ini juga mengkritik praktik taklid buta kepada mazhab tertentu jika dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah sudah jelas. Imam Asy-Syafi'i rahimahullahu ta'ala menyatakan bahwa tidak halal bagi seseorang untuk mengikuti pendapat siapa pun jika dalil sudah terang. Kewajiban utama adalah mengikuti dalil (Al-Qur'an dan Sunnah) serta manhaj (pemahaman dan praktik) para sahabat. Ustaz Beni menyoroti fenomena disatukan di Masjidil Haram berdasarkan mazhab, yang menunjukkan perpecahan padahal tidak ada dalil untuk itu. Beliau juga memperingatkan agar tidak menjadikan organisasi kemasyarakatan (ormas) sebagai pengganti agama, karena hal itu dapat menjadi sekat dan penyebab perpecahan. Muslim sejati adalah mereka yang tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ada perselisihan, kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah, sebagaimana diperintahkan dalam Surah An-Nisa ayat 59.

Selanjutnya, Ustaz Beni memberikan peringatan keras terhadap konsep toleransi yang disalahpahami, terutama yang digaungkan oleh kaum liberal. Toleransi versi liberal ini seringkali mengaburkan batas kebenaran, seolah-olah semua agama itu sama-sama baik dan menuju surga, serta melarang menyatakan agama selain Islam itu batil atau menyebut non-Muslim sebagai kafir. Ustaz Beni menegaskan bahwa dalam Islam, toleransi berarti tidak mengganggu ibadah orang lain, namun seorang Muslim harus tetap tegas meyakini bahwa agama selain Islam adalah batil. Hal ini selaras dengan Surah Al-Kafirun, di mana ayat "Lakum dinukum waliyadin" (Untukmu agamamu, dan untukku agamaku) menunjukkan perbedaan akidah yang tegas, bukan pembenaran terhadap keyakinan lain. Kaum liberal yang menganggap pandangan ini 'kampungan' justru disebut Ustaz Beni sebagai berada di puncak kebodohan (fi muntahal jahalah). Tugas dakwah adalah menyampaikan kebenaran, bukan memaksa orang.

Pada sesi tanya jawab, Ustaz Beni membahas beberapa pertanyaan:

  1. **Menjaga Hati dari Riya' dan Sum'ah:** Riya' (pamer) dan Sum'ah (mencari popularitas) adalah syirik kecil yang sangat berbahaya dan lebih besar daripada dosa besar, karena potensi terjadinya sangat tinggi. Kiat untuk menghindarinya meliputi: terus belajar tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), memperbanyak doa Nabi ﷺ seperti "Allahumma Ati Nafsi Taqwaaha...", dan menyadari bahwa pujian manusia di dunia ini fana dan tidak bermanfaat. Kita harus berjuang untuk mengurangi kesenangan dipuji, karena jiwa manusia memang cenderung memerintahkan kepada keburukan (nafsu ammarah bis su'). Sebagaimana perkataan Syekh Abdur Razzaq hafizhahullah, "Seandainya orang yang mencelaku tahu siapa aku sebenarnya, maka sungguh aku lebih pantas dicela lebih daripada itu." Tujuan utama adalah memiliki qalbun salim (hati yang bersih).
  2. **Hukum Puasa Sepekan Sebelum Ramadan:** Tidak masalah puasa sunah Senin-Kamis sepekan sebelum Ramadan bagi orang yang sudah terbiasa melaksanakannya. Yang dilarang adalah memulai puasa di pertengahan bulan Sya'ban atau pada Yaumus Syak (hari yang diragukan apakah sudah Ramadan atau belum).
  3. **Definisi Ahlul Kitab:** Ahlul Kitab adalah sebutan khusus bagi kaum Yahudi dan Nasrani, tanpa memandang ras atau kebangsaan mereka.
  4. **Jamak Salat Maghrib dan Isya:** Jika seseorang tiba di masjid dan imam sedang melaksanakan salat Isya (yang dijamak dengan Maghrib), sementara ia belum melaksanakan Maghrib, maka ia bisa berniat salat Maghrib mengikuti imam. Setelah rakaat ketiga, ia bisa memilih untuk duduk menunggu imam menyelesaikan rakaat keempat dan salam bersama imam, atau ia bisa menyelesaikan salat Maghribnya sendiri (salam), lalu kemudian melaksanakan salat Isya secara terpisah (berjamaah jika ada makmum lain, atau sendiri).
  5. **Warisan (Faraidh):** Jika seorang suami meninggal dunia meninggalkan harta warisan (rumah dan sawah), dan ibunya masih hidup, maka ibu berhak mendapatkan bagian waris sebagai ahli waris. Jika ibu tersebut kemudian meninggal dunia beberapa bulan setelahnya, maka bagian warisan yang menjadi hak ibu tersebut akan menjadi harta peninggalan ibu dan harus dibagikan kepada ahli waris ibu sesuai syariat.

Kajian diakhiri dengan pesan untuk terus belajar Islam, berilmu sebelum berucap dan beramal, serta berdoa agar Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki hati yang bersih.

POINTERS & CONCLUSIONS

DALIL & REFERENCES

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا فَقَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا آللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ فَقَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ
"Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA, ia berkata: “Rasulullah SAW mendatangi suatu majlis sahabatnya seraya bertanya: ‘Apa yang membuat kalian duduk di sini?’ Mereka menjawab: ‘Kami duduk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas karunia Islam yang telah dianugerahkan kepada kami.’ Rasulullah bersabda: ‘Demi Allah, apakah tidak ada yang membuat kalian duduk selain itu?’ Mereka menjawab: ‘Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu.’ Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian, akan tetapi Jibril datang kepadaku dan mengabarkan bahwa Allah SWT membanggakan kalian di hadapan para malaikat.’”"
— HR Muslim No. 2701 • REFERENCE LINK
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
"Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya."
— QS Ali 'Imran (3): 19 • REFERENCE LINK
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kamu bercerai berai; dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara; padahal kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."
— QS Ali 'Imran (3): 103 • REFERENCE LINK
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
— QS An-Nisa (4): 59 • REFERENCE LINK
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾
"Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”"
— QS Al-Kafirun (109): 1-6 • REFERENCE LINK
فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ ۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوا ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
"Kemudian jika mereka membantahmu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (juga) berserah diri?” Jika mereka berserah diri, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."
— QS Ali 'Imran (3): 20 • REFERENCE LINK
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
"Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada jiwaku, dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya. Engkaulah pelindung dan tuan bagi jiwaku."
— HR Muslim No. 2722 • REFERENCE LINK
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Dan aku tidak menyatakan diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang."
— QS Yusuf (12): 53 • REFERENCE LINK
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
"kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."
— QS Asy-Syu'ara (26): 89 • REFERENCE LINK

KATA BIJAK UNTUK STATUS

""Demi Allah tidak ada yang menjadikan kami duduk di sini kecuali itu, mengingat tentang Islam, tentang segala nikmat yang Allah berikan kepada kami." (Jawaban para sahabat kepada Nabi ﷺ)"

WHATSAPP

""Allah sangat bangga bahkan menyebut-nyebut nama kalian di hadapan para malaikat." (Sabda Nabi ﷺ)"

WHATSAPP

""Tidak halal bagi seorang pun jika telah jelas baginya dalil, dia mengikuti pendapat seseorang." (Imam Asy-Syafi'i rahimahullah)"

WHATSAPP

""Al-ilmu Qolallah Qolarrasul Qolassahabah (ilmu itu adalah firman Allah, sabda Rasulullah, dan perkataan para sahabat)." (Imam Az-Zahabi rahimahullah)"

WHATSAPP

""Sesuatu yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil (riya')." (Sabda Nabi ﷺ)"

WHATSAPP

""Seandainya orang yang mencelaku tahu siapa aku sebenarnya, maka sungguh aku lebih pantas dicela lebih daripada itu." (Syekh Abdur Razzaq hafizhahullah)"

WHATSAPP