Bahaya Lisan dan Cara Menjaganya
Lisan adalah anggota tubuh yang kecil, namun ia memiliki daya rusak yang luar biasa besar jika tidak dikendalikan dengan iman. Satu kalimat yang diucapkan bisa mengangkat derajat seseorang ke surga, namun satu kalimat pula bisa menjatuhkan seseorang ke dasar neraka yang paling dalam. Dalam kajian yang sangat praktis ini, Ustadz Sofyan Chalid Ruray membedah dosa-dosa lisan dan bagaimana cara seorang Muslim menjaga ucapannya agar tetap membawa keberkahan.
Lisan: Cermin Isi Hati
Beliau menjelaskan bahwa apa yang keluar dari lisan adalah pancaran dari apa yang ada di dalam hati. Jika hati dipenuhi dengan tauhid dan dzikir, maka lisan akan basah dengan kata-kata yang baik. Namun jika hati dipenuhi dengan kotoran dunia, maka lisan akan mudah tergelincir dalam Ghibah (menggunjing), Namimah (adu domba), dan Dusta. Menjaga lisan adalah bagian dari kesempurnaan Islam seseorang. Beliau menekankan bahwa diam adalah keselamatan jika kita tidak mampu menjamin bahwa apa yang akan kita ucapkan adalah sebuah kebenaran yang bermanfaat.
Bahaya Ghibah dan Namimah di Era Digital
Ustadz Sofyan menyoroti fenomena ghibah yang kini berpindah ke jari-jari melalui media sosial. Beliau mengingatkan bahwa menulis komentar buruk sama dosanya dengan mengucapkannya secara lisan. Ghibah adalah memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namimah (adu domba) adalah penghalang utama seseorang masuk surga. Di zaman banjir informasi ini, kita harus sangat hati-hati dalam membagikan berita yang belum jelas kebenarannya, karena setiap kata yang kita sebarkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.
Cara Menjaga Lisan sesuai Sunnah
Bagaimana cara mengerem lisan kita? Beliau memberikan beberapa tips syar'i:
1. Berpikir sebelum bicara; apakah ini benar? apakah ini bermanfaat? apakah ini perlu diucapkan?
2. Sibukkan lisan dengan dzikir; lisan yang sibuk memuji Allah tidak akan punya waktu untuk mencela makhluk.
3. Menyadari pengawasan malaikat; Rakib dan Atid senantiasa mencatat setiap hembusan kata yang keluar dari mulut kita. Kesadaran akan muroqobah (merasa diawasi) akan membuat seseorang lebih selektif dalam memilih kosakata.
Lisan yang Membawa ke Surga
Sebagai penutup, beliau mengajak kita untuk menjadikan lisan sebagai sarana dakwah dan penyebar kedamaian. Kalimat thayyibah adalah sedekah. Berkata baik kepada orang tua, istri, anak, dan tetangga adalah bagian dari akhlak mulia. Mari kita memohon taufik kepada Allah agar lisan kita tidak menjadi bumerang yang menghancurkan seluruh amal ibadah kita. Jadikanlah lisanmu sebagai kunci pembuka pintu surga, bukan justru menjadi pengetuk pintu neraka.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Lisan adalah anggota tubuh yang paling banyak menjerumuskan manusia ke neraka.
- Keselamatan seorang Muslim terletak pada kemampuannya menjaga lisan.
- Diam lebih utama daripada bicara yang mengandung unsur maksiat atau sia-sia.
- Ghibah (menggunjing) menghapuskan pahala amal shalih secara drastis.
- Namimah (adu domba) adalah penyebab seseorang disiksa di dalam kuburnya.
- Waspadalah terhadap lisan jari (sosmed) yang seringkali lebih tajam dari pedang.
- Sibukkan lisan dengan membaca Al-Qur'an, dzikir, dan mengajak pada kebaikan.
- Jaminan surga bagi siapa saja yang mampu menjamin lisan dan kemaluannya.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam."
"Lisanmu adalah harimaumu; jika engkau tidak mengikatnya dengan iman, ia akan memangsamu sendiri."
"Lebih baik engkau menyesal karena diam, daripada engkau menyesal karena salah berucap."