"di Mana Allah?" Beda Akidah Imam Syafi'i dan Asy'ariyyah ○
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
di-mana-allah-beda-akidah-imam-syafii-dan-asyariyyah.mp3
Kajian ini membahas perbedaan mendasar antara akidah Imam Syafi'i dan Asy'ariyyah dalam memahami sifat Allah, khususnya pertanyaan "di mana Allah?". Ustadz Sofyan Chalid Ruray menjelaskan bahwa Imam Syafi'i dan para ulama salaf meyakini Allah berada di atas langit (istiwa') tanpa menanyakan bagaimana caranya, sementara Asy'ariyyah cenderung menakwilkan sifat tersebut dengan makna lain. Perbedaan ini berimplikasi pada cara kita beribadah dan keyakinan kita terhadap sifat-sifat Allah. Kajian ini mengajak umat Islam untuk kembali kepada pemahaman salaf yang shalih dalam masalah akidah.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Pertanyaan 'di mana Allah?' adalah inti akidah.
- Imam Syafi'i menetapkan sifat istiwa' tanpa takwil.
- Asy'ariyyah menakwilkan istiwa' dengan 'istila'.
- Dalil utama: QS Thaha: 5 dan hadits turunnya Allah.
- Para sahabat memahami sifat Allah secara hakiki.
- Takwil berlebihan bisa meniadakan sifat Allah.
- Doa dengan mengangkat tangan ke langit adalah sunnah.
- Keyakinan ini mempengaruhi kekhusyukan ibadah.
- Perbedaan akidah ini serius dan harus dihindari.
- Kembali kepada pemahaman salaf adalah jalan selamat.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Jangan tanya 'bagaimana' Allah di atas Arsy, karena itu di luar jangkauan akal."
"Akidah yang benar adalah menerima sifat Allah tanpa takwil."
"Allah di atas langit, bukan di mana-mana secara fisik."
"Kekhusyukan doa lahir dari keyakinan bahwa Allah Maha Tinggi."
"Jangan takwil sifat Allah hanya karena akalmu tidak mampu menjangkaunya."
"Salafus shalih adalah teladan dalam memahami sifat Allah."
"Perbedaan akidah bukanlah masalah sepele, ia menyangkut keimanan."
"Istiwa' Allah adalah hakiki, bukan metafora."
"Doa dengan mengangkat tangan adalah bukti keyakinan bahwa Allah di atas."
"Kembalilah kepada Al-Qur'an dan Sunnah, niscaya engkau selamat."