Dunia Bagaikan Air
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
dunia-bagaikan-air.mp3
Al-Qur'an dan Sunnah seringkali memberikan perumpamaan yang indah untuk menjelaskan hakikat kehidupan dunia agar manusia tidak terpedaya. Salah satu perumpamaan yang paling mendalam adalah dunia bagaikan air. Dalam kajian ini, Ustadz Ali Hasan Bawazier membedah empat sisi kesamaan antara dunia dan air yang harus dipahami oleh setiap mukmin agar tidak tenggelam dalam kesia-siaan.
Air yang Tidak Pernah Tetap
Sifat dasar air adalah senantiasa mengalir dan tidak pernah diam di satu tempat selamanya. Demikian pula dengan dunia; keadaannya selalu berubah. Hari ini seseorang berada di atas, esok bisa jadi dia di bawah. Kekayaan, kesehatan, dan jabatan adalah hal yang fana. Beliau mengingatkan bahwa siapa pun yang menyandarkan kebahagiaannya pada hal yang terus berubah, maka dia akan senantiasa diliputi kegelisahan. Hanya dengan bersandar pada Yang Maha Kekal, hati akan menemukan ketenangan.
Kebutuhan Secukupnya dan Bahaya Berlebihan
Manusia sangat membutuhkan air untuk bertahan hidup, namun jika air tersebut meluap menjadi banjir, ia akan menghancurkan. Beliau menekankan bahwa dunia adalah sarana, bukan tujuan. Ambillah dunia sekadar kebutuhan untuk menopang ibadahmu. Jika seseorang terlalu rakus mengejar dunia hingga melampaui batas, maka dunia itu sendiri yang akan menenggelamkan dan membinasakannya. Sebagaimana meminum air laut, semakin diminum maka akan semakin haus.
Dunia Tidak Bisa Digenggam
Cobalah menggenggam air dengan tanganmu, maka air itu akan tetap keluar melalui celah-celah jari. Begitulah hakikat dunia; semakin dikejar, ia semakin lari. Beliau memberikan nasehat agar kita meletakkan dunia di tangan, bukan di hati. Jika dunia di tangan, kita mudah untuk melepaskannya demi ketaatan. Namun jika dunia sudah masuk ke dalam hati, maka ia akan menjadi berhala yang disembah secara tidak sadar dan menghalangi kita dari cahaya akhirat.
Menjadi Penyeberang yang Cerdas
Sebagai penutup, beliau mengajak kita untuk menjadi seperti pengembara yang menyeberangi sungai. Fokus kita adalah sampai ke tepian seberang (akhirat) dengan selamat, bukan sibuk membangun istana di tengah arus sungai. Zuhud bukan berarti miskin, melainkan kosongnya hati dari ketergantungan kepada makhluk. Mari kita gunakan dunia ini sebagai kendaraan yang mengantarkan kita menuju ridha Allah Ta'ala.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Dunia selalu berubah dan tidak abadi, jangan habiskan seluruh energi untuknya.
- Ambillah dunia secukupnya sebagai bekal ketaatan, jangan sampai berlebihan.
- Dunia ibarat air laut; semakin dikejar kemegahannya, semakin terasa haus jiwa ini.
- Jangan letakkan dunia di hati, karena ia akan mengeraskan batin dan melalaikan dzikir.
- Seorang mukmin yang cerdas adalah yang menjadikan dunia sebagai ladang akhirat.
- Kekayaan yang berkah adalah yang digunakan untuk menolong agama Allah.
- Waspadalah terhadap fitnah harta dan wanita yang bisa menenggelamkan aqidah.
- Zuhud yang benar adalah mengeluarkan dunia dari hati meskipun ia ada di tangan.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Dunia itu ibarat air; jika engkau mengarunginya dengan kapal yang kokoh, engkau selamat. Namun jika air itu masuk ke dalam kapal, engkau akan tenggelam."
"Letakkanlah dunia di tanganmu agar mudah kau sedekahkan, jangan letakkan di hatimu karena ia akan mencekikmu."
"Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk."