Dilema Ibu Wanita Karir
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
fitya-room-eps-4-dilema-ibu-wanita-karir-abdurrahman.mp3
Diskusi kali ini membahas fenomena ibu wanita karir yang semakin meningkat, dengan data menunjukkan bahwa 54% wanita di Indonesia bekerja. Kondisi ini seringkali menimbulkan dilema dan kompleksitas dalam rumah tangga, terutama ketika suami tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Islam pada dasarnya tidak melarang wanita untuk bekerja, selama pekerjaan tersebut sesuai syariat dan tetap menjaga diri. Namun, Islam memberikan panduan bahwa tempat terbaik bagi wanita adalah di rumahnya. Rumah adalah poros bagi seorang ibu dan keluarga, tempat di mana anggota keluarga dapat kembali dan bertumbuh setelah menghadapi hiruk pikuk di luar. Oleh karena itu, ibu diibaratkan sebagai madrasah, yang jika dipersiapkan dengan baik akan melahirkan bangsa yang kuat.
Meski demikian, banyak kondisi yang tidak ideal terjadi di mana laki-laki (suami) kehilangan kepemimpinannya (qawamah) dan justru mengharapkan istrinya bekerja. Akibatnya, anak-anak seringkali dititipkan di penitipan anak (daycare) dan kehilangan pendidikan yang baik, kehangatan, serta kasih sayang dari ibu. Manusia memiliki ekspektasi yang tidak ada habisnya, sehingga penting untuk kembali pada tuntunan agama.
Banyak ibu terpaksa berjuang di luar rumah karena suami tidak mampu melindungi, mencukupi, atau memberikan kehangatan di rumah. Kondisi ini menuntut ibu untuk keluar rumah, menghadapi dunia luar yang bising, berdebu, dan keras. Ini adalah sebuah kezaliman yang dilakukan oleh laki-laki, yang menyebabkan para wanita terpaksa melakukan pekerjaan berat.
Bagi para wanita yang diuji dengan keadaan tidak ideal seperti ini, bersabarlah dan teruslah berdoa kepada Allah Ta'ala agar diberikan keadaan yang ideal, baik di dunia maupun kelak di surga. Banyak contoh ibunda para ulama besar yang berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya, seperti ibunda Imam Syafi'i, Imam Sufyan Ats-Tsauri, dan Imam Bukhari. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah melihat ayahnya, dan Nabi Ismail ﷺ lebih banyak bersama ibundanya, Hajar.
Tugas sebagai orang tua adalah tugas utama (primary job), bukan pekerjaan paruh waktu. Yang terpenting bukanlah kuantitas waktu yang dihabiskan bersama anak, melainkan kualitas waktu tersebut. Anak-anak akan mengingat momen-momen berkualitas di mana orang tua hadir, bukan hanya jam pulang atau besaran gaji orang tua. Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar susu, suplemen, atau makanan; mereka membutuhkan pemahaman, kehangatan dalam pelukan, tangan yang menyeka air mata, pelukan yang menghangatkan, dan kasih sayang di dalam rumah. Hati mereka perlu dicukupi, bukan hanya energi untuk bergerak seperti robot.
Bila kondisi tidak ideal terjadi, pastikan ada waktu berkualitas yang tetap diberikan kepada anak-anak. Jangan sampai anak-anak di daycare juga kehilangan waktu berkualitas dengan orang tuanya. Ketika orang tua tidak hadir di momen-momen penting, anak-anak bisa menjadi lebih dekat dengan orang lain (seperti pengasuh) atau bahkan gadget mereka. Kehadiran kita sangat dibutuhkan tatkala anak-anak memerlukan, bukan sekadar mencukupi nafkah atau membayar SPP.
Banyak wanita bekerja bukan karena kebutuhan ekonomi semata, tetapi karena gaya hidup atau kebosanan di rumah. Mereka mungkin menganggap aktivitas di rumah membosankan dan mencari pelarian dengan bekerja. Sejatinya, rumah harus menjadi tempat paling nyaman bagi setiap anggota keluarga. Jika rumah tidak nyaman, anggota keluarga akan mencari pelarian di luar, dan ini bisa jadi di tempat-tempat yang tidak diridai Allah.
Tujuan pernikahan adalah untuk menemukan "rumah" atau tempat tinggal yang nyaman. Jika rumah tidak dijadikan tempat pulang, maka akan ada tempat lain yang menjadi pelarian, dan hal ini patut dikhawatirkan.
Bagi ibu yang bekerja di situasi tidak ideal:
- Berharaplah pahala dari Allah Ta'ala.
- Luangkan waktu-waktu terbaik Anda untuk anak dan keluarga.
- Jangan habiskan waktu berkualitas untuk hal yang tidak bermanfaat.
- Mereka membutuhkan pelukan, kehangatan, tangan yang menyeka air mata, sandaran, dan tempat kembali pulang.
Ustaz Abdurrahman Zahier menyampaikan nasihat menyentuh, "Pulanglah wahai ibu. Ada pangeran dan permaisurimu yang menanti di rumahmu. Pulanglah sebab tanganmu terlalu lembut untuk berlama-lama di dunia luar yang seringkali membuatmu terluka. Pulanglah wahai ibu. Sebab dirimu terlalu halus di tengah kebisingan dan kekasaran di luar sana. Pulanglah. Sebab surga di dalam rumahmu menanti. Kehangatan, kebahagiaan dalam rumahmu nanti."
Seorang ibu adalah pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban. Ketenangan dan kebahagiaan di dalam rumah dimulai dan diciptakan oleh seorang ibu, sebagaimana dicontohkan oleh rumah tangga Rasulullah ﷺ yang penuh ketenangan berkat peran Ibu Khadijah radhiyallahu 'anha.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Hukum asal wanita bekerja diperbolehkan selama memenuhi syariat dan menjaga diri.
- Tempat terbaik bagi wanita adalah di rumahnya, sebagai poros keluarga dan madrasah bagi anak-anak.
- Peran orang tua adalah tugas utama (primary job), bukan tugas sampingan (part-time job).
- Kualitas waktu lebih penting daripada kuantitas waktu dalam mendidik anak.
- Kondisi tidak ideal (suami tidak menafkahi/bertanggung jawab) seringkali memaksa ibu untuk bekerja di luar rumah.
- Bagi ibu yang terpaksa bekerja, bersabarlah dan berharap pahala serta ideal surga dari Allah Ta'ala.
- Anak-anak membutuhkan kehangatan, kasih sayang, dan kehadiran orang tua, bukan hanya materi.
- Rumah harus dijadikan tempat paling nyaman, bukan tempat pelarian atau membosankan.
- Tujuan pernikahan adalah untuk saling menemukan 'rumah' atau tempat pulang yang nyaman dan diridai Allah.
- Maksimalkan waktu berkualitas untuk anak-anak, karena momen tumbuh kembang anak tidak terulang dua kali.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Islam pada dasarnya tidak melarang wanita bekerja. Hukum asalnya selama memenuhi syariat, selama menjaga dirinya. Tetapi Islam memberikan panduan bahwa tempat terbaik bagi wanita adalah di rumahnya. Rumah adalah poros bagi seorang ibu, poros bagi keluarga."
"Al umu madrasatun ahata s'ban thyibal araqi. Ibu adalah sekolah universitas. Bila kita mempersiapkan mereka, maka kita mempersiapkan bangsa yang kuat."
"Anak tidak akan ingat jam berapa kita pulang ke rumah. Mereka tidak ingat berapa gaji orang tuanya, tapi mereka akan ingat momen mana orang tua hadir di dalam waktu-waktu berkualitas mereka."
"Pulanglah wahai ibu. Ada pangeran dan permaisurimu yang menanti di rumahmu. Pulanglah sebab tanganmu terlalu lembut untuk berlama-lama di dunia luar yang seringkali membuatmu terluka. Pulanglah wahai ibu. Sebab dirimu terlalu halus di tengah kebisingan dan kekasaran di luar sana. Pulanglah. Sebab surga di dalam rumahmu menanti. Kehangatan, kebahagiaan dalam rumahmu nanti."