Jebakan Dibalik Ketekunan Beribadah ○
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberi kita kesehatan, hidayah, dan taufik sehingga bisa menghadiri majelis ilmu di Masjid Al-Ikhlas. Kajian malam ini mengangkat tema yang sangat penting namun kerap luput dari perhatian: jebakan di balik ketekunan beribadah. Semoga Allah melimpahkan ilmu yang bermanfaat dan menjaga kita semua dari tipu daya setan yang terlaknat.
Imam Ibnu Mubarak meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhd perkataan seorang ulama salaf, Mutharrif bin Abdullah Asy-Syikhir. Beliau berkata, "Aku lebih suka tidak bangun malam untuk salat tahajud, namun di pagi harinya aku menyesal karena tidak bangun, daripada aku bangun malam namun di pagi harinya aku takjub dan sombong dengan tahajudku." Pernyataan ini tentu bukan ajakan untuk meninggalkan ibadah malam, melainkan sebuah peringatan tajam bahwa setelah seseorang beribadah, setan menyiapkan ranjau berupa kesombongan dan rasa bangga diri.
Ketika kita sudah tekun beribadah, sudah hijrah, meninggalkan riba, meninggalkan perbuatan buruk, atau sudah mengubah penampilan dengan memelihara jenggot dan berjilbab, jangan pernah merasa aman bahwa kita pasti akan mati dalam keadaan husnul khatimah. Setan sangat licik. Ia akan mengamati tipe seseorang, lalu menyesuaikan jebakannya dengan karakter orang tersebut. Karena jebakan itu disesuaikan dengan tipe kita, seringkali kita tidak menyadari bahwa kita telah terjebak.
Dalam kitab Hilyatul Auliya, Imam Abu Nuaim menukil perkataan Makhlad bin Husain: "Setiap Allah memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya, setan pasti berupaya menyesatkan manusia dengan dua perangkap." Setan tidak peduli apakah manusia terjerumus ke perangkap A atau perangkap B; yang penting baginya adalah manusia terperangkap. Dua perangkap tersebut adalah ghuluw, yakni berlebihan dalam ibadah, atau taksir, yakni meremehkan dan meninggalkan ibadah.
Bagi orang yang memiliki semangat beribadah, jebakan setan adalah ghuluw. Berlebihan itu bisa pada kadarnya, misalnya ada yang baru hijrah lalu merasa salat subuh dua rakaat kurang sehingga ingin menambahnya menjadi sangat banyak. Atau berlebihan pasca-ibadah, yaitu munculnya perasaan sombong setelah beribadah, seperti merasa dirinya satu-satunya penghuni surga di kampungnya. Sementara bagi yang malas beribadah, setan masuk lewat tipe itu sehingga orang tersebut dibuat semakin malas dan terus meremehkan ibadah.
Akar dari kesombongan setelah beribadah adalah ketidaktahuan akan hakikat ibadah itu sendiri. Imam Az-Zajjaj dalam Ma'anil Quran menjelaskan bahwa ibadah secara bahasa berarti ketaatan dengan ketundukan dan kerendahan hati. Kata ibadah mengandung makna rendah. Maka semakin seseorang tekun beribadah, semestinya ia semakin merendahkan diri di hadapan Allah dan di hadapan sesama. Buktinya, posisi paling afdal dalam salat adalah sujud, ketika anggota tubuh yang paling kita hargai, yakni kepala, kita letakkan di atas tanah sebagai wujud ketundukan serendah-rendahnya.
Kesimpulannya, ketekunan ibadah bukan jaminan keamanan dari tipu daya setan. Kuncinya adalah memahami bahwa ibadah adalah penghambaan yang melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar dijauhkan dari ujub dan diberi keselamatan dalam beribadah.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Jangan merasa aman dari tipu daya setan hanya karena today rajin beribadah.
- Setan menyesuaikan jebakan dengan tipe dan karakter masing-masing manusia.
- Dua perangkap setan adalah ghuluw (berlebihan) dan taksir (meremehkan ibadah).
- Kesombongan setelah ibadah berakar dari ketidaktahuan makna ibadah.
- Ibadah secara hakiki adalah ketaatan dengan ketundukan dan kerendahan hati.
- Sujud adalah bukti nyata penghambaan karena kepala diletakkan di atas tanah.
- Waspadai ujub dan riya yang dapat membatalkan pahala amal ibadah.
- Ambil jalan tengah yang syar'i, hindari ekstrem berlebihan maupun meremehkan.
- Senantiasa bermuhasabah dan memohon perlindungan dari kesombongan.
- Menuntut ilmu hakikat ibadah adalah benteng dari jebakan setan.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Jangan merasa aman dari tipu daya setan hanya karena engkau hari ini rajin beribadah."
"Ketekunan beribadah seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan yang membusukkan amal."
"Setan tidak pernah memakai satu jebakan untuk semua orang, ia selalu menyesuaikan dengan tipemu."
"Lebih baik menyesal karena tertidur daripada bangga diri karena telah bangun malam untuk beribadah."
"Ibadah yang benar akan membuatmu merasa kecil di hadapan Allah, bukan besar di hadapan manusia."
"Berlebihan dalam ibadah bukanlah tanda cinta, melainkan bisa jadi jebakan yang dibiarkan setan."
"Orang yang setelah ngaji justru tambah sombong adalah orang yang belum mengerti apa itu ibadah."
"Sujud mengajarkan kita bahwa puncak kemuliaan adalah meletakkan kepala di atas tanah untuk Tuhan."
"Jangan ukur kedekatanmu dengan Allah dari sedikitnya orang yang menurutmu taat selain engkau."
"Setan akan tetap menunggu di tepi jalan ibadahmu, maka jagalah hati setelah kau sujud."
"Hijrah dan perubahan penampilan tidaklah cukup, yang penting adalah hati yang terus tunduk."
"Kesombongan seberat biji sawi sudah cukup untuk menggagalkan pintu surga, maka waspadalah."
"Jalan tengah yang syar'i adalah tempat selamat, bukan jalan berlebihan dan bukan jalan malas."
"Ilmu tentang hakikat ibadah adalah tameng paling kuat dari bisikan ujub setan."
"Mohonlah husnul khatimah setiap usai beribadah, jangan mengandalkan catatan amal masa lalu."