Qila Wa Qala, Kebiasaan Berbicara Tanpa Manfaat ○
Kajian rutin malam Sabtu di Masjid Jenderal Sudirman Purwokerto pada 29 Jumadil Akhir 1439 H / 16 Maret 2018. Ustadz Abdullah Zaen melanjutkan pembahasan hadis ke-19 dalam kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, dari sahabat Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu. Hadis ini menyebutkan tiga hal yang diharamkan Allah dan tiga hal yang dibenci-Nya. Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas tiga yang diharamkan: durhaka kepada ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, dan malas memberi serta suka meminta. Malam ini fokus pada yang pertama dari tiga yang dibenci: qila wa qala (katanya dan katanya), yaitu berbicara tanpa manfaat, terutama membicarakan orang lain. Ustadz menjelaskan bahaya lisan, pentingnya menjaga ucapan, dan adab berbicara sesuai tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Qila wa qala adalah perbuatan yang dibenci Allah.
- Banyak bicara tanpa manfaat dapat menjauhkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di hari kiamat.
- Ucapan harus dipertimbangkan: baik, bermanfaat, atau diam.
- Lisan adalah penyebab utama masuk neraka, maka jagalah.
- Allah menciptakan dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengar.
- Jangan bangga mendominasi obrolan yang tidak bermanfaat.
- Hindari membicarakan aib orang lain.
- Praktikkan hadis: berkata baik atau diam.
- Jika ragu, lebih baik tidak berbicara.
- Menjaga lisan adalah jalan menuju surga.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Orang beriman adalah yang berpikir dulu sebelum berbicara, bukan berbicara dulu baru berpikir."
"Jangan bangga karena pintar berbicara, karena banyak bicara tanpa manfaat justru menjauhkan dari Nabi di hari kiamat."
"Lisan yang tidak dijaga bisa menjadi penyebab utama masuk neraka."
"Dua telinga dan satu mulut adalah isyarat agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara."
"Jika ucapanmu tidak bermanfaat, diam adalah pilihan terbaik."
"Membicarakan kekurangan orang lain hanya menunjukkan bahwa kita tidak sibuk memperbaiki diri sendiri."
"Obrolan yang tidak berguna sering menyerempet dosa, maka berhati-hatilah."
"Barang siapa menjaga lisannya, ia telah menjaga kehormatannya."
"Jangan merasa istimewa karena mendominasi pembicaraan, karena keistimewaan ada pada orang yang menjaga lisan."
"Ucapan yang baik adalah yang membawa manfaat, bukan yang menyakiti hati."
"Diam bukan berarti lemah, tetapi bisa jadi tanda kedewasaan dan keimanan."
"Setiap kata yang keluar dari mulut kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah."
"Biasakan berpikir sebelum berbicara, agar tidak menyesal di kemudian hari."
"Menjaga lisan lebih berat daripada menjaga harta, karena lisan bisa menghancurkan segalanya."
"Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjaga lisan dan hanya berbicara yang baik."