Kajian ini membahas tentang fenomena kaum yang terlalu mengagungkan akal hingga menjadikannya sebagai satu-satunya sumber kebenaran, mengesampingkan wahyu. Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa akal adalah anugerah Allah yang harus digunakan sesuai fungsinya, bukan untuk menentang dalil. Beliau mengingatkan bahwa banyak orang terjebak dalam pemikiran rasionalisme ekstrem yang menolak hal-hal gaib dan mukjizat. Kajian ini mengajak untuk menempatkan akal pada posisi yang benar, yaitu sebagai alat untuk memahami wahyu, bukan sebagai hakim atas wahyu. Dengan contoh-contoh nyata, pemateri menunjukkan bahaya kesombongan intelektual dan pentingnya tunduk kepada syariat.
POINTERS & CONCLUSIONS
Akal adalah anugerah, bukan tuhan.
Wahyu adalah sumber kebenaran mutlak.
Rasionalisme ekstrem merusak iman.
Tunduklah pada dalil meski akal belum paham.
Salaf adalah teladan dalam menggunakan akal.
Jangan jadikan akal sebagai hakim atas Al-Qur'an.
Mukjizat dan hal gaib di luar jangkauan akal.
Kesombongan intelektual menghalangi hidayah.
Ilmu syar'i adalah kunci keselamatan.
Iman dan akal harus selaras dalam bingkai syariat.
DALIL & REFERENCES
"Dan mereka berkata: 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.'"
— QS. Al-Mulk: 10
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal."
— QS. Ali Imran: 190
"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka memahami?"
— QS. Al-Hajj: 46
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban."
— QS. Al-Isra: 36
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik?"
— QS. Ibrahim: 24
"Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak."
— QS. Al-An'am: 125
"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka."
— QS. Al-A'raf: 40
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.'"
— HR. Malik, Al-Muwatha'
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu yang mengikuti apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.'"
— HR. Tirmidzi, no. 2641
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Janganlah kalian memperdebatkan Al-Qur'an, karena perdebatan tentang Al-Qur'an adalah kekufuran.'"