Makna & Dalil Syahadat Muhammad Rasulullah ○
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
live-makna-dalil-syahadat-muhammad-rasulullah-ustadz-beni-sarbeni-lc-m-pd-beni.mp3
Alhamdulillah, pada pagi hari ini kita dapat melanjutkan kembali kajian kitab salah satu ushul. Pada pertemuan sebelumnya, kita telah membahas tentang syarat, rukun, dan makna Syahadat Laa Ilaha Illallah, yang merupakan cabang keimanan tertinggi.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: Iman itu ada 70 sekian cabang, yang paling tinggi adalah Laa Ilaha Illallah. Dengan kalimat ini, seseorang masuk Islam dan karena batalnya kalimat ini, seseorang dapat keluar dari Islam.
Kali ini, kita akan membahas syahadat yang kedua, yaitu syahadat Muhammad Rasulullah.
Dalil syahadat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah Rasulullah dapat dilihat dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
Kemudian, Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga mengabarkan bahwa keberadaan Rasul adalah karunia bagi umat ini. Allah berfirman:
Sungguh, Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang mukmin ketika Dia mengutus seorang rasul dari golongan mereka sendiri. Rasul itu membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, menjelaskan makna Al-Qur'an, dan menyucikan mereka, maksudnya mendidik mereka agar mentauhidkan Allah. Rasul juga mengajarkan kepada mereka Al-Kitab, yaitu Al-Qur'an, dan Al-Hikmah, yaitu Sunnah. Banyak ayat dalam Al-Qur'an yang menunjukkan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, utusan Allah.
Ayat ini menunjukkan bahwa Rasul Muhammad adalah karunia yang Allah berikan kepada umat ini. Kita patut berbahagia dan bersyukur kepada Allah karena dijadikan sebagai umat Muhammad, sebaik-baiknya umat yang pertama kali akan masuk surga.
Makna syahadat bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah Rasul atau utusan Allah, ketika kita bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah, maknanya adalah:
1. To’atuhu Fima Amar (Mentaati perintahnya): Kita harus mentaati perintahnya secara mutlak, sebagaimana ketaatan kepada Allah bersifat mutlak. Berbeda dengan taat kepada penguasa atau ulama yang dibatasi selama perintahnya tidak melanggar syariat. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59). Kalimat ‘ati’ (taatilah) digunakan untuk Allah dan Rasul, namun tidak untuk Ulil Amri, karena ketaatan kepada Ulil Amri tidak bersifat mutlak.
2. Tasdiquhu Fima Akhbar (Membenarkan apa yang dikabarkannya): Kita membenarkan segala berita yang Nabi kabarkan, karena sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, baik yang berupa berita maupun perintah, semuanya adalah wahyu dari Allah. Rasul tidak berbicara atas dasar hawa nafsu. Allah berfirman: “Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsu, melainkan itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4). Contohnya, Nabi bersabda tentang lalat yang masuk minuman, celupkanlah karena salah satu sayapnya racun dan yang lain penawarnya. Kita wajib membenarkan sabda beliau.
3. Ijtinabu Ma Nahahu Wa Zajar (Meninggalkan apa yang dilarangnya): Kita harus meninggalkan apa yang dilarang oleh Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam. Allah berfirman: “Apa yang dibawa Rasul, ambillah. Dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7). Seorang Muslim sejati akan segera melaksanakan perintah Rasul dan segera meninggalkan larangan-Nya.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: “Siapa yang enggan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga. Dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, sungguh dialah yang enggan.”
Contoh larangan: Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Biarkanlah jenggot dan rapikanlah kumis.” Juga, Nabi bersabda: “Apa yang di bawah mata kaki (dari pakaian laki-laki), maka neraka bagiannya.” Ini adalah ancaman yang mengandung larangan. Seorang mukmin yang benar syahadatnya akan segera mengamalkan perintah dan menjauhi larangan ini.
4. Wa La Yu’badallahu Illa Bima Syara’ah (Tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariatnya): Kita tidak bisa beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala kecuali dengan syariat Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Sebagaimana perkataan Syekh Junaid al-Baghdadi: “Setiap jalan menuju Allah adalah tertutup kecuali jalan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.”
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunan dari kami, maka amalan itu tertolak.” Janganlah berkreasi dalam ibadah. Cukuplah apa yang diajarkan Rasul dan dipraktikkan para sahabat. Imam Malik berkata: “Barangsiapa mengatakan bahwa dalam bid’ah itu ada hasanah (bid’ah yang bagus), maka dia telah menuduh Muhammad mengkhianati risalah.” Sebab Allah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu…” (QS. Al-Ma'idah: 3). Sesuatu yang tidak dianggap agama di masa sahabat, tidak bisa kita anggap sebagai bagian dari agama di masa kita sekarang ini.
Intinya, dalam beragama itu mudah: ikutilah apa yang disabdakan Rasulullah dan perhatikan apa yang dipraktikkan para sahabat. Tinggalkanlah sesuatu yang tidak pernah mereka ajarkan dan praktikkan.
Ada pertanyaan mengenai bacaan syahadat “Muhammadan” atau “Muhammadar”. Keduanya bisa dibaca sesuai kaidah bahasa Arab. Pertanyaan lain tentang “berita-berita Muhammad” dalam QS. Al-Mumtahanah: 1, merujuk pada kisah Hatib Ibnu Abi Balta’ah yang membocorkan rencana penaklukan Mekah oleh Nabi. Ini menunjukkan loyalitas kepada orang kafir dalam perkara dunia tidak mengeluarkan dari Islam, namun termasuk dosa besar.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Syahadat Muhammad Rasulullah adalah pilar keimanan kedua setelah Laa Ilaha Illallah.
- Keberadaan Rasulullah Muhammad adalah karunia Allah bagi umat ini.
- Empat makna Syahadat Muhammad Rasulullah: mentaati perintahnya, membenarkan beritanya, meninggalkan larangannya, dan beribadah hanya dengan syariatnya.
- Ketaatan kepada Rasulullah bersifat mutlak, berbeda dengan ketaatan kepada Ulil Amri yang terbatas syariat.
- Segala ucapan Nabi Muhammad adalah wahyu dari Allah, bukan hawa nafsu.
- Pentingnya menjauhi bid'ah karena agama telah sempurna dan bid'ah berarti menuduh Nabi mengkhianati risalah.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Keberadaan Rasulullah adalah karunia terbesar yang patut kita syukuri setiap hari."
"Mentaati perintah Rasulullah adalah bukti cinta dan keimanan yang sejati."
"Kita wajib membenarkan setiap berita dari Nabi karena semuanya adalah wahyu."
"Tinggalkanlah apa yang dilarang Rasulullah agar selamat dunia dan akhirat."
"Beribadahlah hanya dengan tuntunan Nabi, jangan berkreasi dalam agama."
"Ketaatan kepada Rasulullah bersifat mutlak, tidak seperti taat kepada pemimpin."
"Setiap amalan yang tidak ada contoh dari Nabi akan tertolak di sisi Allah."
"Agama telah sempurna, maka jangan menambah atau mengurangi ajaran Rasul."
"Ikutilah sunnah Nabi dan praktik sahabat, tinggalkan yang tidak pernah diajarkan."
"Syahadat Muhammad Rasulullah menuntut kita taat, benarkan, dan tinggalkan larangan."