Membantah Penyimpangan Agar Umat Tidak Tersesat ○
Jika semua orang diam dan tidak menjelaskan kebenaran, maka semakin banyak orang yang tersesat. Oleh karenanya, termasuk prinsip Ahli Sunah adalah kita membantah penyimpangan tersebut. Kita jelaskan tokoh-tokoh yang menyimpang agar manusia selamat dan tidak terjerumus dalam penyimpangan mereka.
Termasuk tugas para ulama dan orang-orang yang berilmu untuk menjelaskan penyimpangan yang muncul dari seseorang atau dari satu kelompok. Apakah harus menyebut nama orang atau kelompok yang menyimpang? Ini tergantung sejauh mana maslahat dan mudaratnya.
Seperti para ulama yang membantah penyimpangan golongan Syiah dan tokoh-tokohnya. Ini termasuk amar makruf nahi mungkar. Dalam banyak kitab, ulama menjelaskan kesesatan golongan Syiah dan bahkan menyebut nama tokoh-tokohnya. Ini penting untuk menjelaskan kepada umat agar mereka tidak tertipu dan tersesat.
Seandainya ada orang yang kita tahu tidak jujur dalam berbisnis, lalu ia mendekati saudara kita untuk diajak berbisnis, tentu tidak sepatutnya kita diam saja. Kita harus ingatkan saudara kita, "Hati-hati, orang itu tidak jujur," supaya saudara kita tidak menderita kerugian. Ini wajib kita ingatkan meskipun hanya dalam perkara duniawi.
Bagaimana lagi dengan orang yang bisa menyesatkan akidah dan merusak agama? Lebih pantas untuk kita ingatkan saudara-saudara kita kaum muslimin, "Hati-hati dengan dai tersebut, hati-hati dengan ustaz tersebut. Dia suka mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam." Meskipun orang mengenalnya sebagai ustaz besar atau dai kondang, faktanya ia mengajari masyarakat hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, bahkan ada yang sampai tingkat syirik.
Contohnya, mengajak orang untuk berdoa kepada para wali di kuburan, atau keliling pulau untuk mendatangi kuburan para wali demi mencari berkah. Ini semua adalah syirik. Sebab doa itu adalah ibadah. Rasulullah ﷺ menegaskan, "Doa itu adalah ibadah." Maka berdoa kepada para wali yang sudah wafat adalah syirik.
Jemaah sekalian, seringkali mereka menipu masyarakat dengan mempermainkan logika masyarakat, itulah yang disebut dengan syubhat. Sehingga ini perlu disingkap dan dibantah. Mereka mengatakan, "Para wali itu kan cuma kita jadikan perantara. Kita tetap berdoa kepada Allah, kita tetap berharap kepada Allah, tapi kita butuh perantara." Sama seperti rakyat jelata yang punya keperluan kepada pejabat atau presiden, harus melalui perantara, tidak bisa langsung ketemu presiden.
Ini adalah syubhat, makanya perlu dibantah dan disingkap kepalsuan serta kesesatannya supaya masyarakat tidak tertipu. Kita sampaikan misalkan Rasulullah ﷺ bersabda, "Doa itu adalah ibadah." Jika doa itu adalah ibadah, syariat tidak mengajari kita beribadah melalui perantara. Harus langsung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karenanya, berdoa kepada selain Allah itu adalah syirik sekaligus bidah. Syirik karena mempersembahkan ibadah kepada selain Allah. Bidah karena mereka menganggap itu ajaran agama.
Begitu pula mereka mengatakan kuburan para wali itu mengandung berkah. Maka kita harus jelaskan tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa kuburan para wali itu mengandung berkah sehingga kita perlu ke sana untuk mengusap-usap kuburannya atau pulang membawa batu-batuannya untuk dijadikan sebagai jimat. Yang ada malah larangan berlebihan terhadap kuburan dan juga larangan menggunakan jimat. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Barang siapa menggunakan jimat maka dia telah berbuat syirik." Ini perlu kita jelaskan.
Masih banyak lagi orang-orang yang menjerumuskan manusia dalam kesesatan. Mereka menebarkan syubhat dan menyusun kata-kata untuk menipu. Jika semua orang diam tidak menjelaskan, maka semakin banyak orang yang tersesat. Oleh karenanya, termasuk prinsip Ahli Sunah adalah kita membantah penyimpangan tersebut. Kita jelaskan tokoh-tokoh yang menyimpang agar manusia selamat, tidak terjerumus dalam penyimpangan mereka.
Penulis (Imam Bakar Abu Zaid) perlu menjelaskan ini karena ada orang yang mengira bahwa membantah golongan yang menyimpang bukan perbuatan yang mulia dan seakan-akan itu adalah akhlak buruk kepada seorang tokoh. Beliau menukil penjelasan Al-Allamah Bakar Abu Zaid rahimahullah ta'ala, bahwa orang-orang yang mengingkari bantahan terhadap kebatilan, meskipun pada sebagian mereka ada kesalehan dan kebaikan, akan tetapi di sisi lain itu adalah suatu sifat pengecut, suatu kelemahan, dan kurangnya tekad dalam membela kebenaran. Dan di sisi yang lainnya itu juga menunjukkan kurangnya ilmu terhadap kebenaran. Hakikatnya, kalau kita menyalahkan orang-orang yang membantah golongan yang menyimpang itu sama dengan lari dari medan jihad fisabilillah, lari dari penjagaan dan pembelaan terhadap agama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka ketika itu, orang yang diam tidak mau mengucapkan kebenaran sama dengan orang yang menyampaikan kebatilan itu dalam dosanya.
Ini berbahaya. Maksudnya, tatkala kita mengetahui kebenaran dan kita diam saja, kita membiarkan orang yang menyampaikan penyimpangan, maka ketika itu orang yang diam saja bisa jadi dosanya sama dengan orang yang menyebarkan kebatilan. Abu Ali Ad-Daqqa rahimahullahu ta'ala berkata, "Orang yang diam tidak menyampaikan kebenaran hakikatnya dia seperti setan bisu, dan orang yang berbicara untuk menyampaikan kebatilan, dia seperti setan yang bisa berbicara." Artinya, dua-duanya salah. Orang yang menyebarkan kesesatan itu salah, dan orang yang diam saja tidak mau mengingatkannya, tidak menjelaskan keadaannya kepada umat juga salah. Maka mengingatkan kesesatan orang yang menyimpang itu agar umat tidak tersesat adalah bagian dari amar makruf nahi mungkar.
Seringkali orang-orang yang mengingkari bantahan menggunakan kata-kata yang kedengarannya baik tapi hakikatnya untuk menjauhkan manusia dari kebenaran. Mereka mengatakan, "Jangan memecah belah umat Islam. Jangan membuat kekotoran dari dalam barisan umat Islam. Jangan memperkeruh perselisihan." Mereka juga mengatakan, "Mari kita saling memberi uzur dalam hal yang kita perselisihkan dan kita bekerja sama dalam hal yang kita sepakati." Ucapan-ucapan seperti ini kedengarannya baik. Tetapi jika itu dimaksudkan agar kita diam, tidak mengingatkan golongan yang menyimpang, maka itu hanyalah racun untuk merusak umat Islam.
Padahal kalau kita mengingatkan orang yang menyimpang itu, sesungguhnya itu bukti kita menyayangi dia. Makanya ulama dahulu, kalau mereka salah kemudian ada yang mengingatkan mereka, maka mereka sangat bersyukur, sangat senang, dan mereka akan memberikan penghargaan yang terbaik kepada orang yang berani mengingatkan mereka.
Tapi hari ini berbeda. Orang yang menyimpang ketika diingatkan kesalahannya, dia malah marah dan mulai menuduh niat-niat orang yang mengingatkannya. Mungkin dia mengatakan, "Dia cuma iri karena followernya sedikit, follower saya banyak. Dia ingin pansos supaya juga menjadi terkenal seperti saya," dan berbagai macam tuduhan lainnya. Padahal urusan hati hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Tahu. Dia marah ketika diingatkan dan dia takut mengaku salah, takut pamornya jatuh. Itu bertentangan dengan akhlak para ulama terdahulu.
Para ulama terdahulu tidak malu untuk mengakui kesalahan mereka dan mereka takut kalau ada pendapat mereka yang salah lalu tersebar dan diikuti oleh orang. Sehingga ketika kita mengingatkan orang yang menyimpang atau orang yang salah, itu sebenarnya bukti kita menyayanginya. Sebab kalau pendapatnya yang menyimpang itu tersebar, maka semakin banyak orang yang mengikutinya, dosanya semakin banyak. Sebagaimana Nabi ﷺ mengingatkan, "Barang siapa mengajak kepada kesesatan, mencontohkan satu keburukan, maka dia akan mendapatkan dosa para pengikutnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." Jadi kalau kita membantah kesalahan, penyimpangan orang yang menyebarkan kesesatan itu, hakikatnya kita menyayanginya supaya dosanya tidak semakin banyak.
Tapi kemudian sebagian orang memahami bahwa itu adalah suatu usaha untuk memecah belah, seakan-akan tidak menghormati para tokoh. Padahal itu adalah amar makruf nahi mungkar. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan kepada kita mengapa umat Islam menjadi umat yang terbaik? Karena amar makruf nahi mungkar. "Kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan kepada manusia untuk memerintahkan kepada yang makruf dan melarang kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala." Juga Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan, "Hendaklah ada segolongan dari kalian yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang makruf dan melarang kemungkaran dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Syekhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Al-Harani rahimahullah mengatakan, "Memerintahkan kepada sunah dan melarang berbuat bidah adalah amar makruf nahi mungkar, dan itu termasuk sebaik-baiknya amal saleh." Jadi, jangan kita terpengaruh dengan ucapan-ucapan bahwa kalau suka mengingatkan bahaya bidah, kalau suka melarang perbuatan bidah itu berarti memecah belah umat. Justru sebaliknya, kalau kita melarang perbuatan bidah dan mengajak kepada sunah, itulah persatuan yang hakiki.
Persatuan yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala bukan asal kita berkumpul atau bersama-sama, tapi bersatu di atas sunah, bersatu di atas jalan kebenaran. Sebagaimana di surat Al-An'am Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan bahwasanya inilah satu jalanku yang lurus. Maka ikutilah jalan itu. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena itu akan membuat kalian terpecah belah dari jalan yang lurus tersebut. Demikianlah Allah berwasiat kepada kalian agar kalian bertakwa." Imam ahli tafsir dari generasi tabiin, Imam Mujahid rahimahullah menjelaskan yang dimaksud dengan "as-subul" (jalan-jalan yang lain) yang membuat kalian terpecah belah itu adalah al-bid'u wasy-syubuhat (bidah-bidah dan syubhat-syubhat). Maka kita pun paham, bidah-bidah itulah yang menyebabkan umat terpecah belah, adanya syubhat, yaitu pendapat-pendapat yang kelihatannya ada dalil tapi tidak sesuai pemahaman sahabat. Itu yang membuat umat Islam terpecah belah. Kalau begitu, kita melarang bidah, kita membantah syubhat, itu sebenarnya ajakan untuk bersatu.
Tapi oleh sebagian orang malah dibalik. Kalau suka melarang-larang bidah, kalau suka mengingatkan itu bidah, ini bidah, berarti itu memecah belah kaum muslimin. Padahal justru dengan seperti itu kita mengajak umat Islam bersatu. Tapi bukan sembarang persatuan, namun persatuan di atas sunah. Dan yang lebih penting, itu bagian dari amar makruf nahi mungkar. Dan bahkan Nabi ﷺ mengabarkan kepada kita, orang yang membantah kebatilan, yang menyingkap kesesetan adalah orang-orang terbaik di setiap zaman.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi, Rasulullah ﷺ bersabda, "Yang akan membawa ilmu agama ini di setiap zaman adalah orang-orang terbaiknya, yang mereka memiliki tugas menolak penyimpangan orang-orang yang melampaui batas dalam agama, meluruskan/membantah orang-orang yang berusaha menghapus agama, menghilangkan ajaran-ajaran agama, dan meluruskan takwilnya orang-orang jahil yang semaunya menafsirkan ayat ini maksudnya begini, hadis ini maksudnya begitu. Mereka ada-adakan sendiri penakwilannya, tidak mengikuti pemahaman para sahabat." Maka kata Nabi ﷺ, "Tugas orang-orang yang terbaik di setiap zaman adalah membantah mereka."
Suatu hari dikatakan kepada Imam Ahmad rahimahullah, "Wahai imam, berat bagiku untuk mengatakan si fulan itu begini dan si fulan itu begitu." Artinya, berat bagiku untuk mengingatkan orang, "Hati-hati dengan si fulan karena dia punya pemahaman yang menyimpang," karena takutnya itu menjadi gibah. Maka Imam Ahmad rahimahullah berkata, "Kalau engkau diam dan aku pun diam, maka bagaimana orang yang tidak tahu dapat membedakan antara hadis sahih dan hadis yang tidak sahih?"
Di dalam ilmu hadis ada cabang disiplin ilmu khusus yang disebut dengan Al-Jarh wa at-Ta'dil. Al-Jarh itu artinya menjelaskan tentang cacat-cacat para perawi. Sedangkan at-Ta'dil kebalikannya, menjelaskan kelebihannya. Ini bahkan menjadi satu cabang ilmu khusus dalam ilmu yang paling mulia, ilmu hadis. Di situ ulama berbicara, "Si fulan itu hafalannya lemah, si fulan itu pendusta, si fulan itu sesat. Maka hati-hati kamu meriwayatkan hadis darinya." Atau kebalikannya, "Si fulan itu hafalannya kuat, si fulan itu terpercaya, si fulan itu ahlusunah, maka ambillah hadis darinya." Dari sinilah kita bisa membedakan mana hadis sahih, mana hadis daif, dan mana hadis palsu. Kalau tidak, bagaimana kita bisa bedakan mana hadis sahih dan mana hadis yang didustakan atas nama Nabi Muhammad ﷺ, maka akan rusak ajaran Islam.
Sebagai contoh, di kalangan sebagian orang-orang sufi atau tarekat tasawuf, mereka meriwayatkan hadis tentang Nur Muhammad. Banyak sekali khurafat mereka tentang Nur Muhammad. Tapi ulama ahli hadis menjelaskan, tidak ada satu hadis pun yang sahih tentang itu. Bayangkan betapa banyak keyakinan dan khurafat mereka tentang Nur Muhammad, padahal tidak ada satupun hadis yang sahih. Semua adalah hadis-hadis palsu dan daif, kebanyakan palsu. Kalau semua orang diam tidak menjelaskan, muncul berbagai macam ajaran-ajaran baru. Diklaim sebagai hadis Nabi ﷺ padahal berdusta atas nama beliau. Dan beliau telah memberi peringatan keras, "Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, siapkan tempat duduknya di neraka." Jadi, bayangkan kalau ulama diam tidak menjelaskan, rawi ini pendusta, rawi ini tidak dapat dipegang ucapannya, maka tersebar hadis-hadis palsu.
Imam Ahmad rahimahullahu ta'ala juga pernah ditanya, "Apakah orang yang rajin berpuasa sunah, salat sunah, dan beriktikaf itu yang lebih engkau sukai? Ataukah orang yang berbicara tentang ahlul bidah yang menjelaskan kesesatan mereka?" Maka Imam Ahmad rahimahullah menjawab, "Kalau dia rajin puasa sunah, rajin salat sunah dan beriktikaf, itu adalah kebaikan untuk dirinya sendiri. Namun apabila dia berbicara menjelaskan tentang penyimpangan dan kesesatan ahlul bidah, golongan-golongan yang menyimpang, maka itu manfaatnya untuk seluruh kaum muslimin. Sehingga itu lebih afdal." Lebih afdal kita mengingatkan penyimpangan golongan yang sesat menurut Imam Ahmad rahimahullah daripada kita rajin salat sunah, puasa sunah, dan iktikaf. Meskipun tentu ini bukan untuk mengunggulkan yang satu dan meninggalkan yang satu. Semuanya kita berusaha melakukannya. Tapi kalau kita lihat dari sisi pahalanya, maka lebih besar pahalanya membantah golongan yang menyimpang. Karena itu manfaatnya untuk orang banyak sehingga orang banyak tidak tersesat.
Bahkan ini adalah kewajiban yang disepakati ulama (ijma ulama). Syekhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Al-Harani rahimahullah mengatakan, "Dan semisal para pemimpin, para pengusung kebidahan yang memiliki ucapan-ucapan yang menyelisihi Al-Qur'an dan sunah atau amal-amal ibadah mereka menyelisihi Al-Qur'an dan sunah. Maka sesungguhnya menjelaskan tentang keadaan mereka dan mengingatkan umat akan bahaya mereka, hukumnya adalah wajib menurut kesepakatan ulama kaum muslimin." Jadi, bahkan ini adalah ijma ulama, sepakat ulama. Makanya kita dapati dalam sepanjang sejarah, ulama bahkan menyusun buku-buku khusus untuk membantah golongan yang menyimpang.
Imam Ahmad rahimahullah memiliki buku khusus yang berjudul "Ar-Raddu 'ala Al-Jahmiyyah" (Bantahan kepada golongan Jahmiah). Imam Al-Bukhari rahimahullah memiliki buku khusus yang berjudul "Khalqu Af'alil 'Ibad" (Penciptaan Perbuatan Hamba). Tujuan buku ini adalah membantah golongan Qadariyah. Jadi golongan Qadariyah meyakini perbuatan hamba tidak ada campur tangan takdir Allah, bukan takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka dibantah oleh Imam Al-Bukhari dengan menyusun sebuah kitab.
Masih banyak lagi para ulama besar Ahli Sunah dalam sepanjang zaman bahkan sampai menulis buku-buku khusus untuk membantah golongan yang menyimpang. Adapun sekadar ucapan-ucapan para ulama yang tersebar di banyak kitab itu jauh lebih banyak. Imam Syafi'i rahimahullah termasuk yang paling banyak dinukil dari beliau bantahan-bantahan kepada golongan yang menyimpang. Bahkan sampai pada tahap pengkafiran. Imam Syafi'i rahimahullah pernah mengkafirkan seorang yang bernama Hafz Al-Farq. Kenapa? Karena dia mengatakan Al-Qur'an itu makhluk. Maka Imam Syafi'i mengatakan kepadanya, "Kamu telah kafir kepada Allah yang Maha Agung." Sebab Al-Qur'an itu kalamullah. Kalamullah bukan makhluk. Ucapan Allah adalah sifat Allah. Bukan makhluk. Dan makhluk bisa benar bisa salah. Kalau Al-Qur'an dikatakan makhluk berarti naudzubillah Al-Qur'an bisa benar bisa salah. Sehingga ulama Islam dahulu sepakat tidak berbeda pendapat. Al-Qur'an itu adalah kalamullah, ucapan Allah. Dan ulama juga sepakat orang yang berkata Al-Qur'an itu makhluk dia kafir, murtad keluar dari Islam.
Banyak lagi kalau kita baca bagaimana para ulama dahulu membantah golongan yang menyimpang. Tapi ingat, yang bertugas membantah golongan yang menyimpang tersebut adalah orang yang berilmu. Bukan setiap muslim, bukan kita-kita ini yang masih sangat minim ilmunya. Kemudian mencoba untuk meneliti penyimpangan seorang tokoh, kemudian kita bantah. Yang terjadi sangat dikhawatirkan kita yang terpengaruh kesesatannya. Kenapa? Kita masih minim ilmu. Jadi, untuk mengetahui penyimpangan seorang tokoh, kita tidak perlu membaca sendiri buku yang dia tulis atau mendengarkan kajiannya. "Saya mau dengar dulu apa sih penyimpangannya nanti saya bantah." Itu bukan tugas setiap orang. Itu hanyalah tugas para ulama.
Makanya Nabi ﷺ mengatakan, "Yang memikul ilmu ini di setiap generasi adalah orang-orang terbaiknya." Artinya para ulamanya. Mereka yang bertugas untuk membantah. Kita tinggal menyebarkan saja. Itu yang kita lakukan. Tinggal membantu para ulama untuk menyebarkan bantahan-bantahan para ulama terhadap golongan-golongan atau tokoh-tokoh yang menyimpang. Jadi, ini bukan tugas kita untuk meneliti ucapan-ucapan seorang tokoh yang menyimpang kemudian kita bantah. Kecuali tentu kalau kita punya ilmu. Kalau kita merasa ilmu kita masih minim, jangan. Itu berbahaya. Bukan kita membantah malah kita terpengaruh syubhatnya. Jadi hati-hati.
Dan paling minimal yang kita lakukan adalah berhati-hati. Kita tidak mendengarkan kajian atau hadir di satu majelis ilmu atau membaca sebuah buku, kecuali kita sudah yakin orang yang mengajarkan ilmu itu berada di atas sunah. Mengajak kita kepada sunah. Kalau kita masih ragu, jangan. Itu sangat berbahaya. Apalagi kalau sudah jelas dia menyimpang dari sunah. Di surat Al-An'am ayat ke-68 Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan, "Dan apabila kamu melihat orang-orang yang mengolok-olok ayat kami, maka berpalinglah dari mereka." Imam Asy-Syaukani rahimahullah dalam tafsir beliau menjelaskan yang dimaksud dengan mengolok-olok ayat Allah di antaranya adalah orang yang menafsirkan ayat-ayat Allah itu semau dia, tidak seperti pemahaman salaf, tidak seperti yang dipahami oleh para sahabat Radhiyallahu Ta'ala Anhum Ajmain. Maka Allah mengatakan kepada kita dalam ayat ini, berpalinglah darinya. Jangan mendekatinya. Jangan bermajelis dengannya. Maka minimalnya kita menjauhi majelisnya dan juga kita ingatkan saudara kita yang masih menghadiri majelisnya tersebut.
Sekali lagi, ini sebetulnya bagian dari pertolongan. Pertolongan kepada si dai tersebut agar dosanya tidak semakin banyak. Sebab semakin banyak pengikutnya, semakin banyak dosanya. Dan pertolongan bagi kaum muslimin secara umum agar mereka tidak tersesat. Maka ini termasuk amar makruf nahi mungkar dan termasuk jihad fisabilillah. Imam Yahya bin Yahya rahimahullahu ta'ala, beliau adalah salah seorang gurunya Imam Al-Bukhari dan Muslim, pernah mengatakan, "Membela sunah, membersihkannya dari bidah-bidah itu lebih afdal daripada berjihad." Kenapa? Karena membela sunah dan membantah bidah itu adalah jihad dengan ilmu, jihad dengan Al-Qur'an dan sunah. Maka jihad dengan Al-Qur'an dan sunah lebih afdal daripada jihad dengan pedang.
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, "Berjihad melawan orang-orang munafik adalah dengan menyampaikan hujah, melakukan amar makruf nahi mungkar, membantah mereka." Termasuk contoh orang-orang munafik di masa sekarang adalah golongan liberal. Itu orang-orang munafik di masa sekarang, mengaku muslim tapi merusak Islam dari dalam sampai pada tingkat yang paling parah yaitu kekufuran. Contoh mereka mengatakan semua agama itu sama. Padahal ulama Islam sepakat dari seluruh mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali, kalau ada seorang muslim meyakini semua agama itu sama, Islamnya batal. Apa yang kita lakukan untuk membantah ini? Kalau ini syubhatnya sebetulnya lebih sederhana. Seorang muslim belajar sedikit ini bisa membantah.
Misalkan kita sampaikan ayat "Sesungguhnya agama yang Allah ridai di sisi-Nya hanyalah Islam." Kalau syubhat-syubhat yang ringan seperti ini, bisa setiap muslim yang sudah pernah belajar sedikit membantahnya. Tapi kalau sudah terlalu dalam syubhatnya, maka serahkan kepada ulama. Jangan kita mendengar syubhat-syubhatnya. Sampaikan juga ayat "Barang siapa mencari selain Islam sebagai agama baginya, tidak akan pernah diterima daripadanya. Dan dia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi." Imam Ibnu Qayyim rahimahullah juga mengatakan tentang jihad seperti ini, "Berjihad melawan orang-orang munafik dengan cara menyingkap dan membantah kesesatan mereka itu lebih berat daripada berjihad di medan tempur melawan orang-orang kafir yang sudah jelas kekafirannya."
"Maka ini adalah jihadnya umat yang khusus dan pewaris para rasul" yaitu ulama yang tadi kita sebutkan hadisnya kata Nabi ﷺ mereka adalah orang-orang terbaik di setiap generasi. "Orang-orang yang melakukan jihad ini adalah orang-orang spesial di setiap zaman di alam ini." "Dan orang-orang yang bergabung dalam jihad ini dan ikut menolong (seperti kita membantu para ulama untuk menyebarkan bantahan-bantahan para ulama terhadap golongan-golongan yang menyimpang), maka meskipun jumlah mereka sedikit, mereka yang paling agung kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Bukan berarti kita mengecilkan jihad dengan senjata di medan tempur. Itu jihad yang juga pahalanya sangat besar. Sehingga orang yang mati padanya dia mati syahid dan dijamin masuk surga. Tapi berjihad dengan Al-Qur'an dan sunah dengan membantah kesesatan menurut para ulama ahli sunah itu lebih besar pahalanya. Karena itu lebih dapat membersihkan agama, membela agama dan manfaatnya lebih panjang, lebih lama untuk umat Islam dan tidak bisa dilakukan oleh semua orang kecuali waratsatul anbiya (pewaris para nabi), golongan terbaik setelah para nabi dan rasul yaitu para ulama.
Jadi sangat aneh kalau ada seorang muslim menganggap itu bukan termasuk jihad, bahkan menganggap itu dapat memecah belah umat. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah kemudian menegaskan, "Maka jihad dengan hujah dan lisan kita dalam menyampaikan kebenaran itu lebih didahulukan, lebih utama daripada jihad dengan pedang dan tombak." Bahkan orang-orang yang berjihad itu pun yang bertempur di jalan Allah agar jihad mereka benar, mereka membutuhkan bimbingan ulama. Mereka membutuhkan bimbingan orang-orang yang berilmu. Kalau jihadnya hanya bermodal semangat saja, tanpa bimbingan para ulama, tanpa ilmu, hasilnya lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Lebih besar mudaratnya daripada maslahatnya. Walhamdulillah, inilah pembahasan ringkas. Prinsip Ahli Sunah yang kelima dari kitab Syarh Usul Ahli Sunnah. Semoga bermanfaat. Wabillahitaufiq.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Membantah penyimpangan adalah prinsip Ahli Sunah untuk menyelamatkan umat dari kesesatan.
- Tugas menjelaskan penyimpangan diemban oleh ulama, dengan mempertimbangkan maslahat dan mudaratnya.
- Mengingatkan dari kesesatan akidah (seperti syirik dan bidah) lebih wajib daripada mengingatkan masalah duniawi.
- Berdoa kepada selain Allah (misal: wali di kuburan) adalah syirik dan bidah.
- Tidak ada dalil tentang keberkahan kuburan wali; menggunakan jimat adalah syirik.
- Diam terhadap kebatilan sama dosanya dengan menyebarkan kebatilan (setan bisu vs setan berbicara).
- Kata-kata manis yang mencegah bantahan terhadap penyimpangan adalah racun perusak umat.
- Mengingatkan orang yang menyimpang adalah bentuk kasih sayang agar dosanya tidak bertambah.
- Amar makruf nahi mungkar adalah inti keutamaan umat Islam dan penyebab keberuntungan.
- Melarang bidah dan mengajak kepada sunah adalah bentuk persatuan yang hakiki di atas kebenaran.
- Jalan yang lurus adalah sunah, sementara bidah dan syubhat adalah jalan yang memecah belah.
- Orang yang membantah kebatilan dan menyingkap kesesatan adalah orang-orang terbaik di setiap zaman.
- Ilmu Al-Jarh wa at-Ta'dil penting untuk membedakan hadis sahih dan palsu serta melindungi agama.
- Membantah ahlul bidah lebih afdal daripada puasa sunah, salat sunah, atau iktikaf karena manfaatnya lebih luas.
- Membantah pemimpin bidah dan pengusung ucapan/amalan yang menyelisihi Al-Qur'an dan sunah adalah wajib ijma ulama.
- Para ulama dahulu menyusun kitab khusus dan mengeluarkan fatwa pengkafiran untuk membantah penyimpangan akidah (misal: Al-Qur'an itu makhluk).
- Tugas membantah penyimpangan hanya bagi orang yang berilmu (ulama), bukan setiap muslim.
- Berhati-hati dalam memilih sumber ilmu; jauhi majelis orang yang jelas menyimpang atau menafsirkan ayat semaunya (sesuai Al-An'am: 68).
- Membela sunah dan membantah bidah adalah jihad dengan ilmu, lebih utama daripada jihad dengan pedang.
- Jihad melawan orang munafik (seperti golongan liberal yang menganggap semua agama sama) lebih berat daripada melawan orang kafir.
- Jihad dengan hujah dan lisan lebih utama daripada jihad dengan pedang dan tombak, karena dapat membersihkan agama dan manfaatnya jangka panjang.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Diam terhadap kebatilan sama dosanya dengan menyebarkan kebatilan, jadilah pembela kebenaran bukan setan bisu."
"Mengingatkan kesesatan akidah lebih wajib daripada mengingatkan masalah duniawi, karena menyangkut keselamatan iman."
"Berdoa kepada selain Allah adalah syirik dan bidah, jangan tertipu dengan alasan perantara yang menyesatkan."
"Kata-kata manis yang mencegah bantahan terhadap penyimpangan adalah racun perusak umat, waspadalah."
"Mengingatkan orang yang menyimpang adalah bukti kasih sayang agar dosanya tidak bertambah, bukan memecah belah."
"Amar makruf nahi mungkar adalah inti keutamaan umat Islam dan penyebab keberuntungan di dunia dan akhirat."
"Melarang bidah dan mengajak kepada sunah adalah persatuan hakiki di atas kebenaran, bukan sekadar berkumpul tanpa arah."
"Jalan yang lurus adalah sunah, sementara bidah dan syubhat adalah jalan yang memecah belah umat."
"Orang yang membantah kebatilan dan menyingkap kesesatan adalah orang-orang terbaik di setiap zaman."
"Membela sunah dan membantah bidah adalah jihad dengan ilmu, lebih utama daripada jihad dengan pedang."