Tafsir Al Quran Tafsir Surat Abasa Ayat 17

Ustadz Abdullah Zaen M.A.
11 February 2026 • 1 VIEWS • Durasi: 42:00 YOUTUBE SOURCE WHATSAPP SHARE

DENGARKAN AUDIO KAJIAN

tafsir-al-quran-tafsir-surat-abasa-ayat-17-abdullah.mp3

DOWNLOAD

Pada pengajian rutin tafsir Al-Qur'an di Masjid Agung Darussalam Purbalingga, Ustadz Abdullah Zaen M.A. mengkaji surat Abasa ayat 17. Pengajian ini dilaksanakan pada Rabu malam Kamis, 11 Februari 2026. Beliau membuka tafsir dengan membacakan surat Abasa dari ayat 17 hingga 32.

Ayat ke-17 sampai ke-32 dari surat Abasa ini menjelaskan tentang kekuasaan Allah dan keesaan-Nya. Ayat ke-17 berbunyi, "Qutilal insanu ma akfarah." yang berarti, "Terlaknatlah manusia. Alangkah parah kekufurannya."

Ayat ini memiliki korelasi yang kontras dengan ayat ke-16 ("Kiramim barorah.") yang menjelaskan tentang mulianya para malaikat yang taat dan membawa Al-Qur'an. Berbeda dengan malaikat yang sangat patuh dan mulia, manusia justru bersikap ingkar dan kufur terhadap wahyu Al-Qur'an yang telah Allah turunkan. Ini menunjukkan betapa kontrasnya kebaikan malaikat dengan kekufuran manusia.

Kata "Qutila" berarti terlaknat, celaka, atau binasa. Ketika Allah Yang Maha Penyayang mengucapkan kalimat sekeras ini, itu menandakan bahwa perbuatan manusia telah sangat keterlaluan. Kekufuran adalah dosa yang sangat berat, sehingga pelakunya layak mendapatkan kalimat celaka, terlaknat, dan binasa.

Adapun "Al-insan" merujuk kepada manusia yang memiliki tabiat dasar kafir atau punya tabiat asli seperti itu. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Haj ayat 66: "Innal insana lakafur." yang berarti "Sungguh, manusia benar-benar sangat kufur." Ayat ini menegaskan bahwa manusia memiliki potensi besar untuk kufur, yakni mudah ingkar dan ingkarnya sangat parah, baik terhadap kebaikan Allah maupun kebaikan sesama manusia.

Ustadz menekankan pentingnya waspada terhadap potensi kufur dalam diri kita. Mengikuti majelis ilmu (ngaji) adalah salah satu cara untuk menyadari dan meminimalisir potensi keburukan tersebut. Dengan ilmu, kita jadi tahu cara mengambil langkah antisipatif untuk mencegah potensi kufur itu membesar dan merusak diri kita. Ayat "Qutilal insan" adalah peringatan agar kita tahu diri dan tidak merasa aman dari potensi kufur, karena iman manusia bisa naik dan turun.

Frasa "Ma akfarah" diartikan "alangkah parah kekufuran manusia." Kata "ma" di sini adalah sighatut ta’ajjub, ungkapan keheranan yang menunjukkan betapa parahnya kekufuran manusia. Ini bukan karena Allah tidak tahu, melainkan untuk menegaskan bahwa manusia tidak punya alasan logis untuk kufur kepada Allah. Allah adalah sebaik-baik Pencipta dan Pemberi nikmat, jauh melebihi kebaikan ibu kepada anaknya.

Kebaikan Allah sangatlah besar; Dia menciptakan kita dari tiada menjadi ada, memberikan nikmat yang tak terhingga, termasuk menanamkan kasih sayang pada ibu kita, dan memberikan petunjuk melalui wahyu, nabi, rasul, serta kitab suci. Dia juga mengaruniai kita akal, telinga, mata, dan mulut untuk berpikir, mendengar, melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, dan bertanya kepada ahlinya. Setelah sekian banyak kebaikan ini, alangkah parah kekufuran manusia jika mereka tetap ingkar.

Kata "akfarah" berarti kufur, yang secara garis besar terbagi dua: kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar adalah tidak percaya dengan keberadaan Allah atau wahyu-Nya. Sedangkan kufur nikmat (kufur kecil) adalah tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Keduanya sama-sama dosa, namun tingkat keparahannya berbeda.

POINTERS & CONCLUSIONS

DALIL & REFERENCES

قُتِلَ ٱلْإِنسَٰنُ مَآ أَكْفَرَهُۥ
"Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia!"
— QS. Abasa: 17 • REFERENCE LINK
وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَكَفُورٌ
"Dan Dialah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi). Sungguh, manusia itu sangat ingkar."
— QS. Al-Haj: 66 • REFERENCE LINK

KATA BIJAK UNTUK STATUS

"Jangan pernah merasa aman dari potensi kufur, karena iman manusia bisa naik dan turun kapan saja."

WHATSAPP

"Kebaikan Allah jauh melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya, lalu mengapa kita masih ingkar?"

WHATSAPP

"Manusia punya potensi besar untuk kufur, waspadalah dan jangan lengah terhadap diri sendiri."

WHATSAPP

"Allah memberi akal, telinga, mata, dan mulut; jadikan semua itu untuk mendekat kepada-Nya."

WHATSAPP

"Kufur nikmat adalah tidak mensyukuri pemberian Allah, padahal setiap napas adalah karunia."

WHATSAPP

"Ikutilah majelis ilmu agar potensi buruk dalam diri bisa diminimalisir dan terkendali."

WHATSAPP

"Tidak ada alasan logis bagi manusia untuk kufur kepada Allah yang telah menciptakan segalanya."

WHATSAPP

"Allah menciptakan kita dari tiada, memberi petunjuk lewat wahyu, lalu mengapa kita berpaling?"

WHATSAPP

"Kekufuran adalah dosa berat yang membuat pelakunya layak mendapat celaka dan binasa."

WHATSAPP

"Sadarilah potensi kufur dalam diri, lalu ambil langkah antisipatif sebelum merusak iman."

WHATSAPP