Perubahan Keadaan di Akhir Zaman
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, yang telah memuliakan kita dengan nikmat tauhid, sunah, dan Islam. Setiap Muslim yang bersyukur atas nikmat Iman dan Islam akan memiliki *basirah* (pandangan hati) terhadap setiap peristiwa yang terjadi di kehidupannya, baik personal maupun yang berkaitan dengan zaman. Allah dan Rasul-Nya selalu memberikan *ibrah* (pelajaran) dari setiap ayat Al-Qur'an dan sunah Nabi Muhammad ﷺ.
Kisah-kisah para nabi dan rasul dalam Al-Qur'an diturunkan untuk menguatkan hati Nabi ﷺ dalam berdakwah dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Namun, seringkali kita membaca ayat Al-Qur'an tanpa mengambil hidayah dan mengaitkannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Padahal, Al-Qur'an diturunkan sebagai peringatan (`tazkirah`) agar kita merefleksikan setiap ayat dengan kehidupan pribadi, terutama bagi para dai dan aktivis yang peduli dengan nasib umat, untuk mengaitkannya dengan zaman di mana mereka hidup.
Di antara sejumlah hadis yang Nabi ﷺ sebutkan tentang apa yang akan terjadi pada umatnya, ada sebuah hadis sahih dari sahabat Anas bin Malik dan Abu Hurairah radhiyallahu anhuma, yang disahihkan oleh Syekh Albani rahimahullah dalam Sahih Al-Jami' As-Saghir. Nabi ﷺ bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipuan (`sanawatun khaddaat`), di dalamnya pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya, orang yang amanah dikhianati, dan berbicara pada saat itu `Ruwaibidhah`.” Ketika ditanya, “Siapakah `Ruwaibidhah` itu?” Nabi ﷺ menjawab, “Orang yang bodoh (`tafih`), yang hidupnya hanya main-main, tetapi dia membicarakan permasalahan yang sangat penting tentang urusan umat.”
Di era kita sekarang, fenomena ini sangat dominan. Kita melihat orang-orang yang hidupnya main-main, seperti pemain bola atau film, menjadi tokoh idola umat. Sebagian besar dari kita mengidolakan mereka. Di sisi lain, siswa yang serius belajar dan menuntut ilmu seringkali kurang dikenal, sementara teman yang hanya bermain gadget dan membuat konten mendapatkan jutaan pengikut dan kekayaan. Akibatnya, untuk menjadi pemimpin di zaman yang penuh tipuan ini, tidak lagi dibutuhkan kecerdasan, melainkan cukup menjadi orang yang bodoh namun populer.
Kondisi ini menunjukkan terbolak-balik cara pandang manusia. Orang tidak lagi memuliakan kejujuran dan ilmu agama. Mayoritas konten di media sosial adalah omong kosong, kebodohan, dan kesia-siaan, namun diikuti oleh puluhan juta orang. Sementara konten positif dan edukasi hanya ditonton oleh sedikit orang. Anak-anak kita tumbuh dengan cita-cita menjadi YouTuber atau gamer, melihatnya sebagai jalan instan menuju sukses.
Nabi ﷺ juga menyampaikan tanda-tanda serupa dalam Hadis Jibril. Ketika ditanya kapan kiamat, Nabi ﷺ menjawab, “Yang ditanya tidak lebih mengerti daripada yang bertanya.” Namun beliau menyebutkan cirinya: “Engkau akan melihat seorang ibu melahirkan tuannya (anak menguasai orang tua), dan engkau akan melihat orang-orang miskin, tidak beralas kaki, tidak berpakaian, penggembala kambing saling berlomba meninggikan bangunan.” Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa ini menunjukkan terbolak-balik kondisi dan keadaan.
Kekalahan mental kaum Muslimin membuat kita lemah dan menjadikan orang lain sebagai contoh teladan. Setiap hari kita dicekoki konten yang mempromosikan kehidupan duniawi yang menyenangkan (mobil baru, liburan, gadget baru), yang membuat kita lupa akan akhirat dan terkena penyakit `wahhan` yaitu cinta dunia dan takut mati (`hubbud dunya wa karahiyatul maut`). Ini menjadi pikiran kita dari membuka mata hingga menutup mata kembali.
Tidak akan mungkin kita kembali kepada kemuliaan Islam kecuali dengan kembali kepada ajaran Al-Qur'an dan sunah. Allah ajarkan dalam Surah Al-Kahf ayat 28: “Sabarkan dirimu bersama orang-orang yang beribadah kepada Allah siang dan malam, mengharapkan wajah-Nya. Dan jangan kamu palingkan matamu dari mereka (karena) menginginkan perhiasan dunia. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” Perintah ini mendorong kita untuk bersahabat dengan orang-orang saleh dan memaksa hati untuk bergaul dengan mereka, walaupun mereka fakir. Karena persahabatan dengan orang saleh membawa kebaikan yang tak terhingga.
Jika hati kita lalai dari mengingat Allah, pasti kita akan mengikuti hawa nafsu. Apabila seseorang memperturutkan hawa nafsunya, semua sikap dan perilakunya akan melampaui batas aturan Allah. Untuk memperbaiki kehidupan diri, dunia, dan akhirat, yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah agama. Dengan mempelajari agama dan mengkaji Al-Qur'an dan Sunnah, seseorang akan memahami tujuan hidup dan tanggung jawabnya. Dengan cara ini, Allah akan membereskan semua masalah di dunia dan akhirat.
Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan doa: “Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi penjaga semua urusanku. Perbaikilah duniaku karena di situ aku hidup. Perbaikilah akhiratku karena ke sana aku akan kembali. Jadikanlah hidupku ini adalah kesempatanku untuk berinvestasi dalam semua kebaikan, dan jadikanlah kematianku adalah istirahatku dari semua keburukan yang ada di muka bumi.”
Al-Qur'an dan Sunnah adalah obat dari semua penyakit dan fitnah, termasuk fitnah kedunguan dan dominasi orang-orang bodoh di media sosial. Allah firmankan dalam Surah Taha ayat 131: “Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka, (yaitu) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” Melihat gemerlap hidup orang kaya membuat hati kotor dan tidak bersyukur. Nabi ﷺ mengajarkan untuk melihat orang yang di bawah kita agar lebih mudah bersyukur.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Pentingnya memiliki *basirah* terhadap kondisi zaman bagi seorang Muslim yang bersyukur.
- Kisah-kisah dalam Al-Qur'an dan Sunnah adalah *ibrah* (pelajaran) untuk kehidupan.
- Munculnya `sanawatun khaddaat` (tahun-tahun penuh tipuan) di akhir zaman.
- Ciri-ciri `sanawatun khaddaat`: pembohong dipercaya, jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang terpercaya dianggap pengkhianat.
- Dominasi `Ruwaibidhah` (orang bodoh/sia-sia) dalam urusan umat melalui media sosial.
- Contoh `Ruwaibidhah`: figur publik dari kalangan penghibur menjadi idola dan pemimpin, mengalahkan para penuntut ilmu.
- Terbolak-balik nilai: kepopuleran mengalahkan kecerdasan dalam kepemimpinan.
- Dampak negatif konten media yang tidak bermanfaat pada orientasi hidup dan cita-cita generasi muda.
- Tanda-tanda kiamat dalam hadis Jibril: ibu melahirkan tuannya, penggembala kambing menjadi kaya raya dan saling berlomba meninggikan bangunan.
- Kelemahan umat Islam akibat `hubbud dunya wa karahiyatul maut` (cinta dunia dan takut mati).
- Penyelesaian masalah fitnah zaman: kembali kepada ajaran Al-Qur'an dan Sunnah.
- Perintah bersabar bersama orang-orang saleh yang beribadah hanya karena Allah (QS. Al-Kahf: 28).
- Peringatan untuk tidak mengalihkan pandangan kepada gemerlap dunia, karena hati terpengaruh oleh apa yang dilihat.
- Larangan mengikuti orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah dan memperturutkan hawa nafsu.
- Pentingnya memperbaiki agama sebagai kunci perbaikan dunia dan akhirat.
- Doa yang diajarkan Nabi untuk perbaikan agama, dunia, dan akhirat.
- Obat dari fitnah kedunguan dan dominasi orang bodoh: menjaga orientasi pada Al-Qur'an.
- Pelajaran dari QS. Taha: 131: jangan tergiur kemewahan dunia, karena rezeki Allah lebih baik dan kekal.
- Nasihat untuk melihat orang yang di bawah kita agar bersyukur.