Agar Amal Menjadi Barokah ○
Kita melanjutkan kajian tentang amalan hati. Pada pertemuan yang lalu telah dijelaskan bahwa rusaknya kondisi hati bisa menyebabkan seseorang mati dalam keadaan _suul khatimah_. Sekarang kita membahas tentang _Shathul qalbi wa barokatul amal_, yaitu baiknya kondisi hati yang bisa menyebabkan barokahnya amal. Salah satu cara agar amal kita barokah adalah dengan membersihkan dan menyucikan hati, karena amal yang lahir dari hati yang bersih akan menjadi barokah.
Apa makna barokah? Barokah maknanya adalah _subutul khair wa kasratuhu wa syuruhu_, yaitu tetapnya kebaikan, banyaknya kebaikan, serta tumbuh dan berkembangnya kebaikan. Istilah ini berasal dari kata _birkah_ (bak penampungan air), di mana air yang tertampung akan meluber karena sumbernya tidak pernah berhenti mengalir. Dalam konteks amal, amal yang barokah adalah amal yang melahirkan banyak kebaikan yang abadi hingga akhirat dan terus berkembang.
Kebaikan yang lahir dari amalan yang benar meliputi pahala, ampunan dari Allah, rida Allah, rahmat Allah, mahabbah Allah (cinta), sanjungan atau pujian Allah di hadapan para malaikat (disebut selawat), serta doa istigfar dan _tarahum_ (permohonan rahmat) dari para malaikat.
Sebagai contoh, amalan seperti menghadiri majelis ilmu di masjid adalah amalan yang barokah. Kehadiran di majelis ilmu mendatangkan pahala, menggugurkan dosa, mengundang rahmat dan sakinah dari Allah, serta dikerumuni malaikat. Allah juga akan memuji kita di hadapan para malaikat, dan seluruh makhluk langit serta bumi berselawat kepada kita. Sebagaimana dalam hadis: _"Majtamaaun fi baitin min buyutillah yatluna kitaballahuna f baidahum illa haathumul malaikahumurahmah wazilat alaihimusakinah wakarahumullahuah."_ Artinya, "Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya, melainkan para malaikat akan mengerumuni mereka, rahmat akan meliputi mereka, sakinah akan turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya." Semua ini terjadi dengan catatan kondisi hati ketika ngaji bagus, ikhlas lillahi taala, khusyuk, dan memperhatikan adab.
Hal ini berlaku untuk semua amalan. Salat yang dilakukan dengan hati yang baik (khusyuk, ikhlas, _mutabaah_) akan melahirkan pahala yang berlimpah, ampunan yang besar, rahmat, rida, dan sakinah dari Allah. Sebaliknya, salat yang dilakukan dengan hati yang buruk, seperti melamun atau ingin dipuji (riya), tidak akan barokah dan bahkan terancam azab, sebagaimana firman Allah: _"Fawailul lil musallin alladzina hum an shatihim sahun alladzina hum yuraun."_ (Celakalah bagi orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya, dan mereka berbuat riya).
Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu taala dalam kitab _Saidul Khattir_ menyatakan, _"ujur waalul qulub tastamiru fi wqtinqatiu fi'alul jawari."_ Artinya, baiknya hati dan istiqamahnya hati bisa membuat amal yang kecil menjadi barokah dan pahalanya dilipatgandakan. Pernyataan Abu Darda radhiallahu anhu yang dikutip oleh Imam Ibnu Qayyim juga menegaskan: _"Sungguh menakjubkan tidurnya orang-orang yang cerdas dan tidak saumnya mereka dibanding salat tahajudnya dan saumnya orang-orang bodoh. Amal kecil sebesar zarah (atom) yang dilakukan oleh orang yang bertakwa dengan penuh keyakinan bisa lebih afdal dibanding amalan sebesar gunung yang dilakukan oleh orang-orang bodoh."_
Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, _"Jangan kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, itu tidak akan menandingi infaknya sahabat walaupun dengan gandum seukuran satu mud atau setengahnya."_ Ini menunjukkan bahwa nilai infak sahabat yang sedikit lebih utama daripada infak kita yang besar karena **ketakwaan dan keyakinan** yang ada dalam hati mereka. Para sahabat menganggap harta sebagai beban yang memberatkan jiwa, sehingga mereka merasa plong setelah menginfakkannya.
Contoh lain, salat fardu yang dilakukan dengan hati buruk (sahun dan riya) terancam neraka, padahal itu adalah rukun Islam. Namun, salat sunah _syukrul wudu_ yang dilakukan dengan hati bersih (khusyuk dan ikhlas), dapat menghapus dosa sebanyak buih di lautan dan menjamin surga, sebagaimana hadis riwayat Imam Muslim: _"Tidaklah seorang muslim berwudu lalu dia membaguskan wudunya, terus dia salat berdiri dua rakaat, fokus menghadap kepala dengan hati dan wajahnya, melainkan Allah menghapus semua dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan,"_ dan dalam riwayat lain, _"wajib surga baginya."_ Ini karena kondisi hati yang sangat baik membuat amal kecil menjadi sangat barokah.
Imam Ibnu Qayyim juga berkata, _"Fa'lam annal abda innama yaq manazilir ilallahi biqalbihi wa himmatihi laadanihi." Attaqwa fil haki hiya taqwal qulub laqwal jawari."_ Artinya, seorang hamba mencapai kedudukan di sisi Allah dengan hati dan cita-citanya, bukan dengan badannya. Ketakwaan sejati adalah ketakwaan hati, bukan ketakwaan anggota badan. Amalan anggota badan memiliki batasan waktu dan tempat, sedangkan ibadah hati tidak kenal waktu dan tempat. Berzikir di dalam WC dengan hati pun dibolehkan, sebagaimana Syekh Islam Ibnu Taimiyah yang memanfaatkan waktu di WC untuk mendengarkan hadis yang dibacakan muridnya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Haj ayat 32: _"Dzalika w yuadim syaairallah fainnaha min taqwal qulub."_ (Yang demikian itu siapa orang yang mengagungkan syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk di antara bentuk ketakwaan hati.) Dan dalam Surah Al-Haj ayat 37: _"Layyanallaha luhumuha wala dimauha wakin yanaluhut taqwa minkum."_ (Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.) Ini menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah dalam ibadah kurban adalah ketakwaan dan keikhlasan hati.
Penderitaan fisik dan mental dalam ibadah haji, jika disertai dengan amalan hati yang bagus, akan membuat kita menikmati dan melahirkan pahala yang super besar. Namun, jika kondisi hati buruk, bisa-bisa menggerutu, berantem dengan sesama jemaah, atau mencari kemudahan yang menghilangkan nilai jihad dalam haji. Akibatnya, ibadah dengan janji pahala besar bisa mengecil, hilang, bahkan berubah menjadi dosa karena kondisi hati yang buruk.
Abdullah bin Mubarak rahimahullahu taala menyatakan, _"Rubba shirin yuadzimun tuadzimuhun niyah warubba kabirin yusiruhun niyah."_ (Betapa banyaknya amalan kecil, tapi pahalanya sangat besar karena niat dan kondisi hati. Sebaliknya, betapa banyaknya amalan yang besar berubah menjadi kecil, kerdil, sedikit pahala, bahkan hilang karena kondisi hati yang buruk.) Ini menunjukkan eratnya hubungan antara kondisi hati dengan keberkahan amal.
Sebaliknya, maksiat hati juga akan terus mendampingi pelakunya dalam setiap keadaan, berbeda dengan maksiat anggota badan yang memiliki batasan waktu. Contohnya, takabur atau hasad akan terus melekat pada hati. Maksiat hati seperti takabur, hasad, dengki, dan riya, membuat pelakunya lebih tercela dibanding maksiat badan seperti zina, mencuri, atau mabuk. Ini karena _mafsadat_ dan keburukan dampak dari maksiat hati lebih besar, lebih _dawam_ (kontinu), dan lebih langgeng. Maksiat hati akan menjadi karakter yang tertancap kuat dalam hati, sedangkan maksiat badan hanya sementara dan bisa terhapus dengan tobat, istigfar, kebaikan, atau musibah.
Maksiat hati menghilangkan barokah, mengundang laknat, azab, murka, dan kemarahan Allah. Oleh karena itu, memperhatikan kondisi hati agar amal yang lahir darinya baik dan mendatangkan barokah adalah hal yang amat sangat penting.
Dalam sesi tanya jawab, Ustadz menjelaskan:
1. Tobat: Tobat dianggap sah jika seseorang benar-benar bertekad tidak mengulangi maksiat tersebut. Jika ada niat untuk kembali bermaksiat di masa depan, tobatnya tidak sah. Namun, jika seseorang terjerumus kembali dalam dosa tanpa direncanakan setelah tobat yang sungguh-sungguh, maka tobat yang pertama sah, dan dosa yang baru perlu ditobati lagi tanpa merusak tobat sebelumnya.
2. Beribadah karena bersyukur: Salat malam atau ibadah lain dalam rangka bersyukur atas rezeki atau nikmat yang didapat adalah perbuatan yang bagus dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
3. Manhaj Sururi: Merujuk pada pemikiran Muhammad Surur Zainal Abidin, seorang tokoh yang akidahnya salaf namun manhaj dakwahnya bersifat _harqi_ atau _hizbi_, yaitu mencela penguasa secara terbuka di hadapan manusia. Para ulama memperingatkan akan bahaya manhaj ini.
4. Mengucapkan barokah kepada non-muslim: Diperbolehkan dengan niat barokah tersebut bisa menjadi hidayah bagi mereka.
5. Perlakuan terhadap keluarga: Keluarga, terutama orang tua, istri, dan anak, adalah prioritas utama untuk diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Bersikap ramah dan dermawan kepada orang lain namun kasar kepada keluarga adalah salah dan termasuk durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.
6. Amal tidak barokah karena sikap buruk: Sikap kasar atau cemberut kepada keluarga menunjukkan kondisi hati yang buruk, yang dapat menghilangkan keberkahan dari amalan seseorang.
7. Hukum kurban bagi istri: Kurban kepala keluarga cukup untuk seluruh anggota keluarga yang masih dalam tanggungannya. Namun, jika istri atau anak sudah memiliki penghasilan sendiri, mereka wajib berkurban atas nama sendiri.
8. Haji dan _gharar_ (ketidakjelasan): Fatwa yang menyatakan haji tidak wajib karena adanya unsur _gharar_ (seperti biaya yang tidak pasti, antrean panjang, dll) adalah tidak tepat. Hampir semua transaksi dan amalan mengandung unsur _gharar_ yang tidak bisa dihindari atau bersifat kecil, dan hal ini dimaafkan dalam syariat. Menarik dana haji atau membatalkan haji karena alasan _gharar_ yang tidak signifikan berarti menghapus kewajiban rukun Islam. Adanya jaminan pengembalian dana 100% juga menjadi faktor pemboleh.
9. Meninggalkan amal karena takut riya: Ini adalah jebakan setan. Fudhail bin Iyad rahimahullahu taala berkata, _"Tarkul amali liajlinas riya. Wal amalu liajlinas syirkun. Wal ikhlas ayyuaafianallahu minhuma."_ (Meninggalkan amal karena manusia adalah riya. Beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas itu semoga Allah menyelamatkan kita dari kedua-duanya.) Amal harus dilakukan semata-mata karena Allah, abaikan penilaian manusia.
10. Berzikir di WC: Berzikir atau berdoa dengan lisan tidak boleh dilakukan di dalam WC. Lakukan di luar sebelum atau setelah masuk WC.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Kondisi hati yang baik menyebabkan amal menjadi barokah.
- Barokah berarti tetapnya, banyaknya, dan berkembangnya kebaikan dari amal.
- Amal yang barokah mendatangkan pahala, ampunan, rida, rahmat, cinta, pujian Allah, serta doa malaikat.
- Kondisi hati yang buruk dapat menghilangkan barokah amal, bahkan mengubahnya menjadi dosa.
- Amal kecil dengan ketakwaan dan keyakinan lebih utama daripada amal besar tanpa keduanya.
- Ibadah hati tidak dibatasi waktu dan tempat, berbeda dengan ibadah fisik.
- Ketakwaan sejati adalah ketakwaan hati, bukan hanya amalan anggota badan.
- Maksiat hati (seperti takabur, hasad) lebih berbahaya dan langgeng dampaknya dibanding maksiat fisik.
- Tinggalkan amal karena manusia adalah riya, beramal karena manusia adalah syirik; ikhlas adalah karena Allah semata.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Bersihkan hatimu, sucikan jiwamu, maka setiap amalanmu akan penuh berkah."
"Kebaikan sejati tak hanya berlimpah, ia juga abadi dan terus bertumbuh."
"Pahala dan ampunan adalah buah minimal dari setiap amal yang tulus."
"Allah mencintai hamba-Nya yang beramal dengan hati yang takwa dan yakin, sekecil apapun itu."
"Jangan biarkan harta menjadi beban yang mengikat hatimu, bebaskanlah dengan keikhlasan."
"Hati yang lalai dalam ibadah akan menghilangkan semua keberkahannya."
"Perjalananmu menuju Allah ditentukan oleh hati dan tekadmu, bukan hanya oleh fisikmu."
"Ketakwaan itu bersemayam di dalam hati, bukan sekadar tampilan luar."
"Amal kecil bisa menjadi gunung pahala jika diiringi niat yang lurus."
"Maksiat hati lebih berbahaya daripada dosa fisik, karena ia merusak jiwamu secara terus-menerus."