Antara Diri Sendiri dan Orang Lain

Ustadz Nizar Saad Jabal Lc. M.Pd.
01 May 2026 • 1 VIEWS • Durasi: 52:35 YOUTUBE SOURCE WHATSAPP SHARE

DENGARKAN AUDIO KAJIAN

antara-diri-sendiri-dan-orang-lain-nizar.mp3

DOWNLOAD

Pembahasan kajian ini melanjutkan materi tentang itsar, yaitu mendahulukan dan mengkhususkan orang lain. Akhlak yang mulia ini terbagi menjadi dua macam, yaitu itsar berkaitan dengan sesama manusia dan itsar berkaitan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Itsar Sesama Manusia (Perkara Duniawi)

Itsar kepada sesama manusia adalah mendahulukan dan mengkhususkan orang lain dalam perkara-perkara duniawi, bahkan ketika diri sendiri juga sangat membutuhkan. Ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 9. Imam Ibnul Qayyim memberikan catatan penting agar itsar ini tidak menyita semua waktu, tidak menghilangkan keikhlasan kita kepada Allah, dan tidak menutup pintu ketaatan kepada-Nya. Artinya, kita melakukan itsar karena Allah, bukan karena orang lain.

Dalam perkara ibadah dan ketaatan kepada Allah, kita justru diperintahkan untuk berlomba-lomba. Allah berfirman, "Fastabiqul Khairat" (berlomba-lombalah dalam kebaikan), dan "Wa Saari'uu ilaa maghfiratin mir rabbikum wa jannatin 'arduhas samaawaatu wal ardhu u'iddat lil muttaqiin" (bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa). Contohnya adalah berlomba mendapatkan shaf pertama dalam shalat berjamaah atau bersedekah. Dalam hal ketaatan, tidak ada istilah mementingkan orang lain, melainkan berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan.

Tiga kiat untuk memiliki sifat itsar kepada sesama dalam perkara duniawi:

  1. Dorongan menggapai akhlak mulia: Itsar adalah akhlak yang paling mulia dan tinggi kedudukannya. Orang yang berakhlak mulia akan berada di surga tertinggi, bahkan dijanjikan pahala seperti orang yang puasa dan shalat malam. Keinginan menjadi bagian dari pemilik akhlak mulia inilah yang mendorong kita ber-itsar.
  2. Menjauhi akhlak tercela: Kita ingin menjauh dari sifat kikir dan pelit yang menjadikan pelakunya terancam azab kubur dan azab akhirat. Kebencian terhadap sifat kikir ini memotivasi kita untuk mendahulukan orang lain.
  3. Memuliakan dan menjaga hak orang lain: Mereka yang menjaga dan memenuhi hak orang lain adalah mukmin sejati. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia rajin menolong saudaranya. Siapa yang meringankan kesulitan saudaranya, Allah akan meringankan kesulitannya di akhirat. Muslim sejati adalah yang mampu memberikan manfaat dan kesejahteraan kepada orang lain.

Itsar Kepada Allah (Perkara Ibadah dan Ketaatan)

Itsar yang kedua adalah mendahulukan dan mengkhususkan Allah Subhanahu wa Ta'ala daripada dirinya sendiri. Tingkatan ini jauh lebih mulia daripada itsar kepada sesama manusia. Ini berarti mendahulukan keridhaan Allah, kecintaan Allah, takut kepada Allah, harapan kepada Allah, kepatuhan kepada Allah, dan permohonan hanya kepada Allah, daripada keinginan hawa nafsu dan orang lain.

Tanda-tanda seseorang mendahulukan Allah:

  1. Mencintai dan melakukan apa yang dicintai oleh Allah, walaupun hawa nafsu tidak menyukainya atau terasa berat (misalnya shalat tepat waktu, berinfaq, puasa, haji).
  2. Meninggalkan apa yang dibenci oleh Allah, walaupun hawa nafsu mencintainya (misalnya riba, maksiat, zina).

Kelemahan pada diri seseorang dalam ber-itsar bisa terjadi karena dua hal:

  1. Jiwa yang terlalu pasif (jamidah): Tidak cepat dan tidak responsif terhadap kebaikan dan ketaatan, sehingga jauh dari Allah.
  2. Maksiat yang menguasai diri: Jiwa menjadi lemah dan tidak mampu, diperbudak oleh duniawi, kikir, syirik, atau mengikuti hawa nafsu daripada apa yang dicintai Allah.

Tingkatan Itsar Menurut Imam Al-Harawi (dalam kitab Madarijus Salikin):

  1. Mendahulukan orang lain atas sesuatu yang tidak merusak agama: Ini adalah tingkatan standar bagi yang mendahulukan orang lain dalam perkara duniawi, selama tidak mengikat waktu, tidak menghalangi ibadah, tidak merusak ketaatan kepada Allah, dan tidak menjadikan kita bermaksiat.
  2. Mendahulukan keridhaan Allah daripada keridhaan orang lain dan hawa nafsu: Ini tingkatan yang lebih tinggi. Walaupun musibah berat, ia tetap mendahulukan apa yang Allah cintai dan ridhai.
  3. Menyadari bahwa semua itsar adalah karunia Allah: Tingkatan tertinggi adalah menyadari bahwa kemampuan ber-itsar, baik kepada sesama maupun kepada Allah, adalah semata-mata karena karunia dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kajian ini ditutup dengan sesi tanya jawab mengenai etika menceritakan kebaikan orang lain (memotivasi), shalat tahajud saat adzan subuh, kasus pemerasan, kesabaran menanti jodoh, nasihat bagi orang tua yang menyukai musik, dan hukum zakat gaji.

POINTERS & CONCLUSIONS

DALIL & REFERENCES

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"...dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
— QS. Al-Hasyr (59): 9 • REFERENCE LINK
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."
— HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45 • REFERENCE LINK
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"...maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan."
— QS. Al-Baqarah (2): 148 • REFERENCE LINK
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,"
— QS. Ali 'Imran (3): 133 • REFERENCE LINK
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
— HR. Ahmad (hasan shahih) • REFERENCE LINK
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat."
— HR. Muslim no. 2699 • REFERENCE LINK
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."
— QS. As-Saff (61): 3 • REFERENCE LINK

KATA BIJAK UNTUK STATUS

"Mendahulukan orang lain dalam urusan dunia adalah akhlak mulia, selama tidak mengorbankan imanmu."

WHATSAPP

"Di jalan ketaatan, jangan pernah merasa cukup; berlombalah menjadi yang terdepan meraih ridha-Nya."

WHATSAPP

"Keinginanmu untuk menjauhi sifat kikir adalah langkah awal meraih akhlak yang tinggi."

WHATSAPP

"Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu tekun menolong saudaranya."

WHATSAPP

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya."

WHATSAPP

"Dahulukan cintamu pada Allah, meski nafsumu memberontak dan terasa berat."

WHATSAPP

"Hati yang tulus mendahulukan Allah tak akan goyah walau badai datang menerpa."

WHATSAPP

"Jangan takut untuk menjelaskan kebenaran, walau kadang kau merasa belum sebaik yang kau sampaikan."

WHATSAPP

"Berani laporkan pemerasan dan intimidasi, jangan biarkan kezaliman terus berlanjut."

WHATSAPP

"Kesabaranmu menanti jodoh adalah ibadah, iringi dengan puasa dan hindari maksiat."

WHATSAPP