Antara Roja dan Khouf ○
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
antara-roja-dan-khouf-sofyan.mp3
Ustadz Sofyan Chalid Bin Idham Ruray Lc. menjelaskan pentingnya menyertakan tiga rukun ibadah hati dalam setiap amal ibadah kita: cinta kepada Allah, berharap rahmat-Nya, dan takut kepada azab-Nya. Ketiga rukun ini disebutkan dalam Al-Qur'an, di antaranya Surat Al-Isra' ayat 57. Allah memuji orang-orang yang beribadah kepada-Nya dengan ketiga rukun ini, meskipun mereka sendiri disembah oleh sebagian manusia (seperti Uzair, Nabi Isa, dan ibundanya Maryam). Ini menunjukkan bahwa mereka adalah hamba yang lemah dan tidak berhak disembah, serta menegaskan batilnya penyembahan kepada selain Allah.
Ustadz juga menjelaskan bahwa Surat Al-Fatihah, surat yang paling agung yang kita baca setiap hari, juga mengandung tiga rukun ibadah hati ini: `Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin` menunjukkan kewajiban cinta kepada Allah karena kebaikan dan kesempurnaan-Nya; `Ar-Rahmanir Rahim` mengandung kewajiban berharap rahmat Allah karena Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; dan `Maliki Yawmiddin` mengandung kewajiban takut kepada Allah karena Dia Maha Kuasa membalas perbuatan di Hari Kiamat. `Iyyaka Na'budu` bermakna kita beribadah kepada Allah dengan cinta, harap, dan takut yang terkandung dalam ayat-ayat sebelumnya. Inilah yang disebut para ulama sebagai Arkanul Ibadah (rukun-rukun ibadah).
Dalil tentang cinta kepada Allah disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 165. Allah berfirman tentang orang-orang musyrik yang menjadikan tandingan bagi Allah dan mencintai mereka seperti mencintai Allah. Sementara itu, orang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah. Cinta yang bernilai ibadah adalah cinta yang disertai dengan pengagungan dan ketundukan mutlak kepada Allah, melebihi siapapun atau apapun. Cinta yang bersifat tabiat (seperti cinta kepada keluarga) hukumnya mubah, namun bisa menjadi haram jika menjerumuskan kepada dosa. Bentuk-bentuk kesyirikan dalam cinta: (1) Mencintai makhluk seperti kecintaan kepada Allah, (2) Lebih mencintai makhluk daripada Allah, dan (3) Hanya mencintai makhluk dan tidak memiliki cinta sedikitpun kepada Allah (kekufuran).
Dalil tentang berharap kepada Allah yang termasuk ibadah hati disebutkan dalam Surat Al-Kahfi ayat 110. Ayat ini menjelaskan dua syarat diterimanya ibadah dan syarat untuk berjumpa dengan Allah dalam keadaan dirahmati: ikhlas (tidak menyekutukan Allah) dan sesuai petunjuk Nabi Muhammad ﷺ (amal saleh). Harapan yang bernilai ibadah adalah berharap kepada Allah yang disertai cinta dan pengagungan kepada-Nya, serta ketundukan hanya untuk-Nya. Bentuk-bentuk kesyirikan dalam harap: (1) Berharap kepada selain Allah dengan harapan ibadah (disertai pengagungan, cinta, dan ketundukan mutlak), (2) Berharap kepada selain Allah untuk sesuatu yang hanya mampu dikabulkan oleh Allah (misalnya kesembuhan dari penyakit, keturunan), dan (3) Tidak ada harapan sedikitpun kepada Allah (kekufuran).
Kewajiban takut kepada Allah disebutkan dalam banyak dalil, di antaranya Surat Ali Imran ayat 175. Allah memerintahkan kita untuk takut kepada-Nya dan jangan takut kepada selain-Nya. Rasa takut yang bernilai ibadah adalah takut kepada Allah yang disertai cinta dan pengagungan kepada-Nya, serta ketundukan mutlak. Takut seperti ini hanya boleh untuk Allah. Bentuk-bentuk kesyirikan dalam takut: (1) Takut kepada makhluk seperti takut kepada Allah (disertai cinta, pengagungan, ketundukan mutlak), (2) Takut kepada makhluk dengan keyakinan bahwa makhluk tersebut mampu menimpakan mudarat yang hanya Allah mampu timpakan (misalnya takut kepada penunggu tempat, makhluk halus yang diyakini bisa mencelakai). (3) Tidak ada rasa takut sedikitpun kepada Allah (kekufuran). Ada pula takut yang bersifat mubah (boleh), yaitu takut kepada sesuatu yang bahayanya jelas (seperti hewan buas, api, musuh kuat). Ini adalah tabiat manusia, seperti takutnya Nabi Musa ﷺ kepada pasukan Firaun.
Harap dan takut ibarat dua sayap burung; keduanya harus seimbang agar ibadah kita berjalan dengan baik. Jika salah satunya hilang atau tidak seimbang, akan terjadi penyimpangan. Allah sering menyebutkan sifat rahmat dan azab-Nya secara bersamaan (QS Al-Maidah, QS Al-Hijr 49-50) agar hamba memiliki takut dan harap secara seimbang. Penyimpangan terjadi jika terlalu mengedepankan takut (seperti Khawarij yang mudah mengkafirkan), terlalu mengedepankan harap (seperti Murji'ah yang meremehkan dosa), atau hanya mengedepankan cinta (seperti Sufi yang menolak harap surga dan takut neraka sebagai bentuk keikhlasan, padahal itu justru bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah). Keikhlasan sejati adalah mengharap ganjaran hanya dari Allah.
Dalam kondisi tertentu, salah satu rukun bisa lebih ditekankan: Saat sehat atau mendapatkan nikmat, kedepankan rasa takut kepada Allah, khususnya dari istidraj (makar Allah yaitu azab dalam rupa kenikmatan) agar terhindar dari maksiat (QS Al-A'raf 99). Saat sakit atau dalam kesulitan, kedepankan harapan kepada Allah, jangan berputus asa dari rahmat-Nya (QS Al-Hijr 56). Ustadz mengingatkan bahwa syirik, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah adalah dosa-dosa besar, berdasarkan hadits Ibnu Abbas. Pentingnya menuntut ilmu agama untuk menguatkan cinta, harap, dan takut kepada Allah, karena ahli ilmu lebih mulia dari ahli ibadah disebabkan ibadah hati yang lebih baik.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Tiga Rukun Ibadah Hati: Cinta, Harap, dan Takut kepada Allah.
- Penyembahan kepada Selain Allah adalah Batil dan Bentuk Kesyirikan.
- Surat Al-Fatihah Mengandung Esensi Tiga Rukun Ibadah Hati.
- Definisi dan Tiga Bentuk Kesyirikan dalam Cinta kepada Allah.
- Definisi dan Tiga Bentuk Kesyirikan dalam Harap kepada Allah.
- Definisi dan Tiga Bentuk Kesyirikan dalam Takut kepada Allah.
- Membedakan Takut yang Bernilai Ibadah dari Takut yang Bersifat Mubah (Tabiat Manusia).
- Pentingnya Menjaga Keseimbangan Antara Harap (Roja') dan Takut (Khouf) dalam Beribadah.
- Bahaya Penyimpangan Keseimbangan Roja' dan Khouf (Kesesatan Khawarij, Murji'ah, dan Sufi).
- Menguatkan Roja' atau Khouf Sesuai Kondisi (Sehat/Nikmat vs. Sakit/Kesulitan).
- Dosa-Dosa Besar: Syirik, Berputus Asa dari Rahmat Allah, dan Merasa Aman dari Makar Allah.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Ibadah hati yang sempurna adalah ketika cinta, harap, dan takut kepada Allah menyatu dalam setiap langkah."
"Jangan biarkan cintamu pada makhluk melebihi cintamu kepada Sang Pencipta, karena itu adalah pangkal kesyirikan."
"Berharaplah hanya kepada Allah dalam setiap kesulitan, karena Dia satu-satunya yang mampu mengabulkan apa yang tak mampu dilakukan makhluk."
"Rasa takut yang benar kepada Allah akan menjagamu dari maksiat, bukan membuatmu putus asa dari rahmat-Nya."
"Seperti burung yang terbang dengan dua sayap, imanmu akan seimbang jika harap dan takut kepada Allah berjalan beriringan."
"Saat nikmat datang, perbanyaklah takut akan istidraj agar hatimu tidak terlena dan lupa bersyukur."
"Ketika kesulitan menghimpit, kuatkan harapan kepada Allah, karena rahmat-Nya tak pernah bertepi meski dosa setinggi langit."
"Cinta kepada Allah yang sejati adalah yang disertai pengagungan dan ketundukan mutlak, bukan sekadar rasa di hati."
"Takut kepada makhluk yang diyakini bisa mencelakai adalah syirik; takut yang mubah hanyalah pada bahaya yang nyata seperti api atau binatang buas."
"Ilmu agama adalah kunci untuk menguatkan cinta, harap, dan takut kepada Allah, karena ahli ilmu lebih mulia dari ahli ibadah tanpa ilmu."