Fenomena Hantu ○
Kajian ini melanjutkan pembahasan rukun iman yang keenam, yaitu iman kepada takdir. Kita sedang membahas beberapa keyakinan yang bertolak belakang dengan keimanan kepada takdir. Sebelumnya telah dijelaskan tentang kepercayaan ramalan bintang dan penyakit menular. Kali ini, kita akan membahas mengenai tiarah, hamah, dan ghul (hantu).
Tiyarah adalah keyakinan tentang ramalan kesialan akibat suatu kejadian. Seseorang menggagalkan rencananya karena meyakini tidak akan sukses atau berhasil akibat merasa sial dengan kejadian yang dilihat, didengar, atau dialami. Contohnya, mendengar perkataan buruk, melihat burung tertentu (seperti burung kedasih/sweet uncuing, burung gagak, burung koreak), atau bertemu orang cacat. Keyakinan ini menyebabkan seseorang membatalkan kepergiannya karena takut rugi atau sial. Di Jawa Barat, ada keyakinan burung kedasih berarti ada yang meninggal, kupu-kupu masuk rumah berarti ada tamu.
Tiyarah berasal dari kata "thirir" yang berarti burung, karena awalnya ramalan kesialan dikaitkan dengan burung. Namun, kemudian berkembang menjadi setiap ramalan kesialan, meskipun bukan dengan burung. Bahkan, tiyarah bisa meramalkan kesialan karena kebaikan yang dilakukan orang lain, seperti menimpakan kesialan karena dakwah orang lain kepada kita. Ini terjadi pada Firaun dan kaumnya terhadap Nabi Musa alaihis salam, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-A'raf ayat 131.
Mujahid rahimahullah, seorang ahli tafsir di zaman tabi'in, menjelaskan bahwa Firaun dan kaumnya menganggap Musa sebagai penyebab kesialan mereka. Namun, Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menjelaskan bahwa kesialan mereka itu sudah Allah tetapkan. Segala urusan memang dari Allah, dan itu sudah Allah catatkan 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 22. Dalam Surah An-Naml ayat 47, kaum Nabi Saleh juga menimpakan kesialan kepada Nabi Saleh dan pengikutnya.
Tiyarah adalah syirik kecil, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dari Ibnu Mas'ud: "Tiyarah itu syirik." (HR. Abu Daud). Siapa yang membatalkan keperluannya karena tiyarah, sungguh dia telah berbuat syirik.
Adapun kesialan yang realistis dan logis hanya ada di tiga perkara yang memiliki hubungan sebab akibat:
- Istri durhaka (nusus): membuat suami pusing dan tidak nyaman.
- Rumah yang sempit, lembab, tidak sehat: menyebabkan penghuninya mudah terserang penyakit.
- Binatang tunggangan atau kendaraan yang sering mogok dan boros: menimbulkan kerugian.
Ini sesuai dengan hadis Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: "Tidak ada penyakit menular, tidak ada tiyarah, dan kesialan itu hanya ada di tiga perkara: pada istri (yang durhaka), di sebuah rumah (yang tidak sehat), dan pada kendaraan (yang bermasalah)." (HR. Bukhari dari Ibnu Umar).
Kebalikan dari tiyarah adalah fa'al, yaitu optimisme atau ucapan yang baik yang membuat kita optimis. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada tiyarah, dan sebaik-baik tiyarah adalah fa'al." Para sahabat bertanya, "Apa itu fa'al, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ucapan yang baik yang didengar oleh salah seorang di antara kalian." (HR. Bukhari dari Abu Hurairah). Fa'al memiliki syarat: tidak bisa dijadikan sandaran sepenuhnya dan tidak dijadikan tujuan utama, melainkan terjadi secara spontan.
Termasuk kebid'ahan yang tercela adalah mengambil mushaf atau ayat Al-Qur'an untuk mendukung fa'al atau sebagai penangkal, misalnya menempelkannya di dinding dengan keyakinan menangkal hujan. Ini termasuk menjadikan ayat-ayat Allah sebagai main-main, seperti yang Allah murkai pada Bani Israil dalam Surah Al-Maidah ayat 78 dan Surah An-Nisa ayat 93.
Bagi orang yang pernah terjerumus ke dalam tiyarah karena ketidaktahuan, kifaratnya adalah mengucapkan doa: "Allahumma La khairo illa khairuk Wal thirir illa thiriruk wala ilaha ghairuk" (Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu, dan tidak ada sesembahan selain Engkau). (HR. Ahmad). Kifarat lainnya adalah bertawakal sepenuhnya kepada Allah, sebagaimana hadis: "Tiyarah itu syirik, tapi tidak ada seorang pun di antara kita kecuali pernah terjerumus ke dalamnya. Akan tetapi Allah akan menghilangkan dosa tiyarah ini dengan tawakal." (HR. Abu Daud dari Abdullah bin Mas'ud).
Termasuk ramalan kesialan adalah keyakinan tentang bulan Safar sebagai bulan sial, yang sudah ada sejak zaman jahiliah. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam membantah hal ini dengan bersabda: "La hamah wal Safar" (Tidak ada hamah dan tidak ada kesialan di bulan Safar).
Hamah adalah keyakinan orang jahiliah bahwa setiap orang yang mati dan dikuburkan, dari kuburannya akan keluar hamah, yaitu seekor burung jelmaan tulang-belulang mayit. Nabi shalallahu alaihi wasallam mengingkari dan membantah keyakinan tahayul dan khurafat ini.
Kemudian, pembahasan tentang ghul. Ghul adalah sebutan orang Arab jahiliah untuk hantu atau jurig, yang diyakini sebagai kejahatan setan dari kalangan bangsa jin atau ahli sihir. Mereka sangat takut padanya. Dahulu, ketika melewati lembah, mereka akan meminta perlindungan kepada penguasa jin di lembah tersebut, seperti yang disinggung dalam Surah Jin ayat 6. Ini justru menambah kedurhakaan mereka.
Allah dan Rasul-Nya membatalkan keyakinan ini dan mengajarkan untuk meminta perlindungan kepada Allah, Sang Pencipta dan Penguasa langit dan bumi. Di antara doa perlindungan dari godaan setan adalah: "Wa qul Rabbi a'udzu bika min hamazatis syayathin wa a'udzu bika Rabbi an yahdhurun" (Dan katakanlah, "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekatiku.") (QS. Al-Mu'minun: 97-98). Juga Surah Al-Falaq, An-Nas, dan Ayat Kursi.
Nabi shalallahu alaihi wasallam juga mengajarkan doa perlindungan ketika singgah di suatu tempat, seperti saat bepergian dan beristirahat. Siapa pun yang membaca doa: "A'udzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq" (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya), dia tidak akan dimudaratkan oleh sesuatu pun sampai dia meninggalkan tempat itu. (HR. Muslim).
Imam Al-Qurtubi rahimahullahu taala memiliki pengalaman nyata dengan doa ini, selalu aman dari gangguan kecuali ketika lupa membacanya. Ini menunjukkan bahwa perlindungan sejati hanya dari Allah, bukan dengan meminta kepada makhluk atau penguasa jin.
Pada sesi tanya jawab, Ustadz Abu Haidar menjelaskan beberapa hal:
- Permisi numpang lewat di tempat angker: Ini adalah kebiasaan jahiliah dan menunjukkan rasa takut kepada jin. Syariat Islam mengajarkan untuk memohon perlindungan hanya kepada Allah dengan membaca doa-doa perlindungan yang telah diajarkan, seperti doa di atas, Al-Falaq, An-Nas, atau Ayat Kursi. Jangan menunjukkan rasa takut kepada jin, melainkan tunjukkan keimanan kepada Allah yang Maha Kuasa.
- Membaca Surah Al-Waqi'ah rutin setiap Jumat sore: Ini termasuk perbuatan dalam agama (ibadah) yang tidak memiliki tuntunan dari Al-Qur'an dan Sunnah. Menambah-nambah amalan dalam agama yang tidak ada dasarnya adalah bid'ah. Bid'ah tertolak, tidak berpahala, bahkan terancam azab. Membaca Al-Waqi'ah kapan saja dan di mana saja (di tempat yang layak) adalah boleh, namun mengkhususkan waktu tertentu tanpa dalil adalah bid'ah. Waktu antara Asar hingga Maghrib di hari Jumat adalah waktu yang dianjurkan untuk berdoa, bukan mengkhususkan bacaan surah tertentu.
- Bawang putih dicampur garam sebagai tanda sihir: Sihir adalah perkara gaib yang hanya bisa diketahui melalui wahyu. Keyakinan seperti ini tidak ada dasarnya dan dapat menimbulkan su'uzhon (prasangka buruk). Gangguan jin bisa terjadi karena empat alasan: 1) Balas dendam (misalnya tak sengaja melukai jin); 2) Jin jatuh cinta pada manusia; 3) Iseng; 4) Sihir. Untuk mengatasi gangguan jin atau sihir, lakukan ruqyah mandiri, hindari musik, asap rokok, gambar/patung makhluk bernyawa di rumah, dan perbanyak ibadah seperti membaca Al-Qur'an, zikir, shalat sunah, serta mendengarkan kajian tauhid.
- Nazar untuk berziarah ke makam orang saleh: Nazar untuk ketaatan wajib ditunaikan. Ziarah kubur adalah sunah yang dianjurkan untuk mengingatkan akan kematian. Yang dikritisi bukan ziarah kuburnya, melainkan penyimpangan yang dilakukan selama ziarah, seperti meminta-minta kepada penghuni kubur atau bertawasul yang tidak sesuai syariat. Berziarah ke makam orang saleh, Nabi, para sahabat, atau pahlawan adalah boleh. Bahkan, berziarah ke makam orang kafir pun boleh untuk mengambil ibrah (pelajaran), dengan syarat tidak mendoakan ampunan atau rahmat bagi mereka. Adab berziarah kubur antara lain: membuka alas kaki saat masuk area perkuburan, membaca doa masuk kubur, tidak melangkahi atau menduduki kuburan, dan berdoa menghadap kiblat (bukan kuburan).
POINTERS & CONCLUSIONS
- Tiyarah (ramalan kesialan) adalah syirik kecil yang bertolak belakang dengan iman kepada takdir.
- Kesialan yang realistis hanya terbatas pada tiga hal: istri durhaka, rumah tidak sehat, dan kendaraan bermasalah.
- Fa'al (optimisme) adalah lawan dari tiyarah dan dianjurkan.
- Menggunakan ayat Al-Qur'an sebagai jimat penangkal adalah bid'ah dan perbuatan tercela.
- Kifarat tiyarah adalah berdoa dan bertawakal kepada Allah.
- Keyakinan bulan Safar sebagai bulan sial dan hamah (jelmaan tulang mayit menjadi burung) adalah khurafat jahiliah yang dibantah Islam.
- Ghul (hantu/jurig) adalah gangguan jin. Perlindungan hanya diminta kepada Allah, bukan kepada jin.
- Doa "A'udzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq" melindungi dari segala kejahatan di tempat singgah.
- Berbuat bid'ah dalam ibadah (seperti mengkhususkan bacaan surah tertentu di waktu tertentu tanpa dalil) adalah tertolak dan terancam azab.
- Gangguan jin bisa disebabkan balas dendam, jatuh cinta, iseng, atau sihir.
- Mengatasi gangguan jin/sihir dengan ruqyah mandiri dan menciptakan lingkungan rumah yang sesuai sunah.
- Nazar ketaatan wajib ditunaikan; nazar maksiat haram; nazar mubah tapi madarat jangan dilaksanakan.
- Ziarah kubur adalah sunah, namun harus sesuai adab syariat dan menghindari penyimpangan seperti meminta-minta kepada penghuni kubur.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Jangan biarkan keyakinan sesat menggagalkan niat baikmu, karena semua kejadian adalah ketetapan Allah."
"Kesialan sejati bukanlah pada burung atau orang cacat, melainkan pada durhaka dan kelalaianmu sendiri."
"Optimisme itu baik, tapi jangan sampai kau sandarkan harapanmu pada selain kuasa Allah."
"Ayat-ayat Allah adalah petunjuk hidup, bukan jimat yang bisa kau gantungkan untuk menangkal hujan."
"Jika kau terjerumus dalam takhayul, bertawakallah dan kembalikan semua urusan kepada Allah semata."
"Tidak ada bulan yang sial, tidak ada makhluk jelmaan, yang ada hanyalah ketetapan dan kehendak Allah."
"Jangan takut pada hantu dan jurig, takutlah hanya kepada Allah yang Maha Kuasa atas segala makhluk."
"Hanya kepada Allah kita berlindung, dari segala kejahatan makhluk-Nya, di mana pun kita berada."
"Bid'ah adalah amalan tertolak yang menjauhkanmu dari sunah, bukan mendekatkanmu kepada rahmat."
"Hadapi gangguan jin dengan iman dan ibadah, bukan dengan prasangka buruk atau perbuatan tak berdasar."