Hakikat Kehidupan
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
hakikat-kehidupan-sofyan.mp3
Alhamdulillah, sidang Jumat yang saya cintai dan muliakan, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada kita sekalian.
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menegur dan membantah orang-orang kafir di dalam kitab-Nya yang mulia dalam banyak ayat Al-Qur'an. Di antaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
Bahwasanya kalian Kami ciptakan sekadar untuk main-main saja dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami untuk menerima pembalasan.
Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu Wa Ta'ala membantah dua persangkaan keliru dari orang-orang kafir. Pertama, mereka menyangka bahwa kehidupan ini sekadar untuk main-main belaka. Kedua, mereka juga menyangka mereka tidak akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menerima pembalasan terhadap semua amalan yang pernah mereka kerjakan.
Kehidupan orang-orang yang kafir kepada Allah dan orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, mereka mengira adalah kehidupan yang main-main. Kehidupan yang main-main itu, sebagaimana dijelaskan ulama mufasirin, adalah kehidupan seperti binatang ternak. Mereka diciptakan ke dunia ini cuman sekadar untuk main-main, kemudian mati, dan tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada tugas mereka di muka bumi ini yang Allah bebankan sebagaimana kepada manusia, dan kemudian mati tidak akan dimintai pertanggungjawaban.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan kita, orang-orang kafir itu bersenang-senang di muka bumi ini, kemudian mereka makan sebagaimana makannya binatang-binatang ternak, dan neraka adalah tempat tinggal mereka.
Demikian pula Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan kita:
Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan begitu saja diciptakan secara sia-sia?
Maksudnya sia-sia, kata para ulama, adalah tidak diperintah dan tidak dilarang. Artinya, itulah persangkaan orang kafir, persangkaan yang keliru yang harus kita hindari. Bahwasanya menurut mereka, kehidupan dunia ini cuman sekadar untuk bersenang-senang, dinikmati, kemudian mereka pergi meninggalkan dunia ini tanpa dimintai pertanggungjawaban.
Maka ketahuilah, jamaah sekalian, kita diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena satu tujuan, dan kelak Allah Tabaraka Wa Ta'ala akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan di muka bumi ini, sebagaimana yang telah Allah kabarkan kepada kita di dalam ayat-ayat-Nya Yang Maha Mulia, kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku saja. Aku tidak menginginkan rezeki dari mereka, tidak pula agar mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Dialah Yang Maha Memberikan rezeki, pemilik kekuatan yang sangat kokoh.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengabarkan kepada kita untuk apa kita diciptakan di muka bumi ini dan mengapa kita dianugerahkan rezeki dan dicurahkan berbagai macam kenikmatan. Semata-mata untuk beribadah kepada-Nya, semata-mata untuk menyembah-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jadi inilah, jamaah sekalian, tujuan kita diciptakan di muka bumi ini, bukan untuk sekadar main-main, bukan untuk sekadar menikmati hidup, kemudian kita pergi meninggalkan dunia ini dan selesai urusan. Tidak, jamaah sekalian, kita diciptakan semata-mata untuk menghamba kepada Allah, untuk beribadah kepada-Nya, dan kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas semua amalan yang kita kerjakan.
Tetapi, jamaah sekalian, perlu kita pahami dengan baik bahwasanya ibadah yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala bukan sekadar menyembah Allah, namun mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yaitu memurnikan ibadah itu hanya kepada Allah yang satu saja, tidak dipersembahkan sedikitpun kepada selain Allah Tabaraka Wa Ta'ala, disertai dengan pengingkaran terhadap semua yang mereka anggap Tuhan selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebagaimana kata sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, semua kata ibadah yang terdapat di dalam Al-Qur'an artinya adalah tauhid. Jadi ini yang harus kita pahami dengan baik. Beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala bukanlah sekadar menyembah Allah, melainkan memurnikan penyembahan itu hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang satu saja, tidak boleh kita persembahkan sedikitpun kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Oleh karenanya, jamaah sekalian, orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang yang mempersembahkan sebagian dari ibadahnya kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka dia telah melakukan dosa yang terbesar, dosa yang paling membuat Allah murka, sebab dia telah menghilangkan penghambaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebagaimana Allah telah mengingatkan kita:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa menyekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang lebih ringan daripada itu bagi siapa yang Dia kehendaki.
Bahkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan kita:
Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka Allah haramkan surga atasnya, Neraka adalah tempatnya, dan tidak ada yang sanggup menolong orang-orang yang zalim tersebut.
Maka, jamaah sekalian, barangsiapa yang menyekutukan Allah, berarti dia bukan orang yang beribadah kepada Allah. Kalaupun dia beribadah kepada Allah, dia melakukan salat, dia melakukan puasa, dia berzakat, dia berhaji, tetapi bersamaan dengan itu dia juga menyekutukan Allah, dia mempersembahkan ibadahnya kepada selain Allah, maka seluruh amal ibadahnya tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebagaimana firman-Nya:
Dan tidak ada yang menghalangi diterima sedekah-sedekah mereka kecuali karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.
Bukan hanya itu, jamaah sekalian, orang yang menyekutukan Allah, maka semua ibadah yang pernah dia kerjakan menjadi terhapus, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:
Sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada nabi-nabi sebelummu, "Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan gugur semua amalmu dan engkau termasuk orang-orang yang merugi."
Jadi, jamaah sekalian, tidak akan mungkin berkumpul dalam diri seorang hamba antara ibadah kepada Allah dan ibadah kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Artinya, walaupun dia beribadah kepada Allah, namun dia juga menyembah kepada selain Allah, maka semua amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bahkan seluruh ibadah yang pernah dia kerjakan menjadi terhapus, sebagaimana orang yang telah berwudhu kemudian dia buang angin. Maka walaupun dia salat sebanyak 1.000 rakaat, salatnya tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena wudhunya sudah batal. Dia harus berwudhu kembali. Demikian pula orang yang menyekutukan Allah, Islamnya menjadi batal, imannya menjadi batal, ibadahnya seluruhnya menjadi batal. Maka tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Oleh karenanya, jamaah sekalian, hendaklah kita senantiasa memurnikan ibadah hanya kepada Allah yang satu saja.
Oleh karena itu, kita perlu mempelajari apa saja macam-macam ibadah yang Allah wajibkan kepada kita. Betapa banyak orang-orang yang terjerumus dalam perbuatan kesyirikan karena mereka tidak menyadari dan tidak mengetahui bentuk-bentuk ibadah yang Allah syariatkan sehingga mereka persembahkan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Maka di antara ibadah yang sangat agung adalah berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Doa adalah ibadah yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menegaskan: “Doa itu adalah ibadah.” Sehingga apabila seseorang berdoa kepada selain Allah, berarti dia telah menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Demikian pula ibadah yang sangat agung, yaitu menyembelih sebagai pengorbanan dan pengagungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang telah Allah perintahkan dalam banyak ayat, di antaranya dalam firman-Nya:
Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).
Maka menyembelih itu adalah ibadah, sebagaimana salat. Sehingga apabila seseorang menyembelih untuk pengagungan dan pengorbanan serta penyembahan kepada selain Allah, maka berarti dia telah menyekutukan Allah. Dan masih banyak lagi, jamaah sekalian, ibadah-ibadah zahir, sebagaimana pula ibadah-ibadah batin, yaitu ibadah-ibadah hati, tidak boleh kita persembahkan kepada selain Allah.
Contohnya ibadah hati yang sangat agung, jamaah sekalian, adalah tawakal kepada Allah:
Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu orang yang beriman.
Maka Allah katakan dalam ayat ini, orang yang beriman adalah yang senantiasa bertawakal kepada Allah. Menunjukkan kepada kita tawakal itu adalah ibadah yang sangat agung. Sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengabarkan kepada kita: Barangsiapa yang menggunakan jimat, maka dia telah menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena dia telah bertawakal kepada jimat tersebut. Demikian pula orang-orang yang bertawakal kepada hari-hari tertentu atau angka-angka tertentu yang mereka anggap dapat mendatangkan keberuntungan. Sebaliknya, mereka takut, mereka khawatir dengan hari-hari tertentu atau angka-angka tertentu yang menurut mereka dapat mendatangkan kesialan. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah menegaskan: “Barangsiapa yang dihalangi oleh perasaan takut sial untuk melakukan hajat-hajatnya, maka dia telah menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.” Oleh karenanya, jamaah sekalian, hendaklah kita senantiasa bertawakal kepada Allah karena tawakal adalah ibadah yang sangat agung. Jangan kita bertawakal kepada selain-Nya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh ibadah, baik ibadah zahir maupun ibadah hati, yang harus semuanya kita pelajari dan kita persembahkan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang satu saja, tidak boleh kita persembahkan kepada selain-Nya.
Kemudian, jamaah sekalian, juga perkara penting yang harus kita pahami dengan baik bahwasanya ibadah yang Allah inginkan bukanlah sembarang ibadah, bukanlah ibadah semau kita, apa yang kita anggap baik kemudian kita lakukan, apa yang kita anggap jelek tidak kita lakukan. Bukan seperti itu ibadah yang Allah inginkan. Kalau begitu, ibadah seperti apa yang Allah inginkan, jamaah sekalian? Maka ketahuilah, juga termasuk tujuan kita diciptakan di muka bumi ini adalah merealisasikan ibadah sebagaimana yang Allah inginkan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Mahasuci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.
Perhatikanlah, jamaah sekalian, di dalam ayat yang mulia ini Allah juga mengabarkan kepada kita tujuan kita diciptakan di muka bumi ini, sebagaimana itu juga tujuan kita dimatikan. Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian bagi kalian untuk menguji kalian. Apa ujian bagi kita? Yaitu: “Siapa di antara kalian yang paling baik amalannya.” Perhatikanlah dengan baik ayat yang mulia ini, Allah mengatakan yang paling baik amalannya. Inilah ibadah yang Allah inginkan, bukan sekadar yang paling banyak dari segi kuantitasnya, tetapi yang paling baik, yaitu dari segi kualitasnya. Inilah, jamaah sekalian, juga termasuk tujuan kita diciptakan di muka bumi ini: beribadah kepada Allah dengan ibadah yang paling terbaik.
Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan ibadah yang terbaik itu, jamaah sekalian? Al-Imam Abu Ali bin Ayah rahimahullahu ta'ala telah menjelaskan: “Amalan terbaik adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar.” Kemudian murid-muridnya bertanya, “Wahai Abu Ali, apa yang dimaksud dengan amalan yang paling ikhlas dan amalan yang paling benar?” Kemudian beliau memberikan penjelasan yang sangat menawan. Beliau rahimahullahu ta'ala berkata: “Sesungguhnya satu amalan, apabila dia sudah ikhlas namun belum benar, maka Allah tidak akan menerimanya.” Jadi percuma, jamaah sekalian, kita beribadah walaupun sudah ikhlas tapi belum benar, maka Allah tidak akan menerima ibadah kita. Demikian pula sebaliknya, apabila amalan itu sudah benar namun tidak ikhlas juga tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sampai ibadah kita menjadi ikhlas dan benar. Kemudian beliau menjelaskan: “Adapun yang dimaksud dengan amalan ikhlas itu adalah yang dikerjakan semata-mata karena Allah untuk meraih ridha Allah, agar dimasukkan ke dalam surga-Nya dan dijauhkan dari api neraka.” Itulah, jamaah sekalian, amalan yang Allah akan terima. Adapun amalan orang-orang yang ingin dipertontonkan kepada manusia supaya dia mendapatkan pujian, dia tidak ikhlas semata-mata karena Allah, justru dia malah mendapatkan dosa yang sangat besar, yaitu termasuk dosa kesyirikan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: “Yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil.” Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, apa itu syirik kecil?” Maka beliau bersabda: “Itulah riya', yaitu orang yang beramal di satu sisi niatnya ikhlas karena Allah, tetapi di sisi yang lain ternyata dia juga ingin agar manusia memperhatikannya sehingga dia mendapatkan pujian dan mendapatkan kedudukan di tengah-tengah mereka.” Maka, jamaah sekalian, orang yang beramal seperti ini bukannya amalannya diterima dan bukan pula mendapatkan pahala, malah mendapatkan dosa terbesar, yaitu termasuk kategori syirik.
Kemudian kata beliau rahimahullah: “Adapun amalan yang benar itu adalah amalan yang sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.” Apabila seseorang beramal dengan ikhlas semata-mata karena Allah, namun dia tidak mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka beliau telah mengabarkan kepada kita, amalan tersebut tidak akan diterima oleh Allah, sebagaimana dalam sabda beliau: “Barangsiapa yang mengerjakan satu amalan, tidak ada padanya perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” Sebagaimana juga sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam: “Barangsiapa yang mengadakan atau menciptakan cara-cara baru dalam beragama yang tidak berasal darinya, yaitu tidak berasal dari petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka amalan tersebut tertolak.” Jadi percuma, jamaah sekalian. Oleh karenanya, hendaklah kita beribadah kepada Allah dengan memenuhi dua syarat ibadah ini, yaitu ikhlas semata-mata karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Inilah juga termasuk tujuan kita diciptakan di muka bumi ini, bukan sekadar beribadah, tetapi ibadah yang memenuhi syarat sebagaimana yang Allah telah tetapkan atas kita. Barakallah.
Alhamdulillah, sidang Jumat yang saya cintai dan muliakan, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada kita sekalian.
Mengapa kita harus terus beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Karena kenikmatan yang Allah berikan kepada kita tiada henti-hentinya. Sejak kita diciptakan di muka bumi ini, terus-menerus Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memberikan kenikmatan dan rezeki kepada kita. Maka kewajiban kita untuk mensyukuri segala kenikmatan yang Allah berikan kepada kita dan juga mencintai Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena Dia telah berbuat baik kepada kita dan Dialah yang paling baik kepada kita. Apabila kita cinta kepada orang tua kita yang telah berbuat baik kepada kita, mestinya kita lebih cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena kebaikan Allah kepada kita lebih dari siapapun, nikmat yang Allah berikan kepada kita lebih banyak dari siapapun yang pernah memberikan kebaikan kepada kita. Bahkan kebaikan orang tua kepada kita bagian dari nikmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada kita. Oleh karenanya, jamaah sekalian, di antara landasan ibadah yang sangat agung adalah karena kita cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Demikian pula, jamaah sekalian, mengapa kita terus beribadah kepada Allah? Yaitu agar kita mendapatkan rahmat Allah, kemudian dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari murka Allah serta diselamatkan dari api neraka. Oleh karenanya, jamaah sekalian, ini juga yang harus menjadi landasan ibadah kita: demi mengharapkan rahmat Allah dan takut kepada azab-Nya. Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memuji dalam Al-Qur'an para nabi dan rasul alaihimush-shalatu was-salam, mereka beribadah kepada Allah dengan tiga landasan ini, yaitu karena cinta kepada Allah dan karena mengharapkan rahmat-Nya dan karena takut kepada azab-Nya, sebagaimana firman Allah:
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat, dan mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu itu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
Inilah tiga pilar dalam beribadah kepada Allah yang tidak boleh terpisahkan dari setiap ibadah kita: senantiasa cinta kepada Allah, senantiasa mengharapkan rahmat-Nya, dan takut kepada azab-Nya. Dengan sebab itulah, insya Allahu Ta'ala, kita akan masuk surga. Perlu kita pahami dengan baik, tidak seorangpun dari kita masuk surga karena kehebatan amalannya, karena banyaknya amalannya, tidak sedikitpun, jamaah sekalian. Bahkan tidak pula Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam akan masuk surga karena amalan beliau, melainkan karena rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebagaimana yang beliau tegaskan sendiri: “Tidak seorang pun di antara kalian yang amalannya dapat memasukkannya ke dalam surga.” Kemudian para sahabat bertanya, “Wala anta ya Rasulullah? Apakah tidak juga engkau, ya Rasulullah?” Kata beliau, “Tidak pula aku, amalanku tidak akan memasukkan aku ke dalam surga, melainkan dengan curahan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.” Inilah, jamaah sekalian, di antara tujuan besar mengapa kita beribadah kepada Allah: agar kita meraih rahmat Allah dan ampunan-Nya, sebab kita adalah manusia yang terlalu banyak dosa, sebab kita membutuhkan rahmat Allah. Kalau bukan rahmat Allah Tabaraka Wa Ta'ala, kita tidak akan bisa beribadah kepada-Nya. Kalau bukan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kita tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga.
Oleh karenanya, jamaah sekalian, pertanyaannya, bagaimana cara meraih rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala tersebut? Maka Allah telah mengabarkan kepada kita:
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.
Para ulama mufasirin menjelaskan, maksudnya perjumpaan di sini adalah berjumpa dengan Allah di akhirat kelak dalam keadaan dirahmati dan dicintai oleh Allah. Sebab ada pula orang-orang yang berjumpa dengan-Nya dalam keadaan dimurkai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Maka Allah telah mengabarkan kepada kita bagaimana caranya untuk berjumpa dengan-Nya di akhirat kelak dalam keadaan kita mendapatkan rahmat-Nya yang sangat luas, yaitu dengan memenuhi dua syarat. Yang pertama, kata Allah, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah dalam keadaan dirahmati oleh Allah, hendaklah dia melakukan amal saleh. Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta'ala menjelaskan, yang dimaksud dengan amal saleh adalah amalan yang sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Maka barangsiapa yang melakukan satu amalan dan dia mengira itu adalah amalan saleh, namun ternyata tidak sesuai petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, berarti itu bukan amal saleh, melainkan amal yang jelek. Kemudian syarat yang kedua: “Janganlah dia mempersekutukan dengan seorang pun di dalam beribadah kepada Rabb-nya.” Kata Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta'ala, maksudnya adalah hendaklah dia ikhlas di dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Oleh karenanya, beliau memberikan kesimpulan: “Inilah dua rukun amalan yang diterima. Dua-duanya harus dipenuhi. Apabila satu tidak terpenuhi, percuma amalan yang kita kerjakan, tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.” Yaitu amalan tersebut harus ikhlas dilakukan semata-mata karena Allah, mengharapkan ridha-Nya, karena cinta kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, karena takut kepada azab-Nya. Kemudian harus benar berdasarkan syariat Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita Husnul Khotimah. Subhanallah.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Kehidupan ini memiliki tujuan, bukan sekadar main-main, dan akan ada pertanggungjawaban.
- Tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah dan mentauhidkan Allah semata.
- Syirik (menyekutukan Allah) adalah dosa terbesar yang tidak diampuni dan dapat menghapus seluruh amalan.
- Ibadah harus memenuhi dua syarat: ikhlas (semata-mata karena Allah) dan benar (sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ).
- Landasan beribadah kepada Allah adalah cinta, harapan akan rahmat, dan rasa takut akan azab-Nya.
- Seorang hamba tidak masuk surga karena amalannya, melainkan karena rahmat dan ampunan Allah.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"addoa ibadah (Doa adalah ibadah)."
"ahsanu ala akhlasuhu wa aswahuhu (Amalan terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar)."
"Innal Amala ilakalisan sesungguhnya satu amalan apabila dia sudah ikhlas namun belum benar maka Allah tidak akan menerimanya... Demikian pula sebaliknya apabila amalan itu sudah benar namun tidak ikhlas juga tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala sampai ibadah kita menjadi ikhlas dan benar."
"Wal khalis ayyakuna lillah (Amalan ikhlas adalah yang dikerjakan semata-mata karena Allah)."
"yang paling aku takuti menimpa kalian adalah Syirik kecil... itulah Ria."
"ala sunnah (Amalan yang benar adalah yang sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam)."
"menaamila amalan Laisa Alaihi Amrullah Barang siapa yang mengerjakan satu amalan tidak ada padanya perintah dari kami maka amalan tersebut tertolak."
"inhufahuwarotun Barang siapa yang mengadakan yang menciptakan cara-cara baru dalam beragama yang tidak berasal darinya yaitu tidak berasal dari petunjuk Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam maka amalan tersebut tertolak."
"Tidak seorang pun di antara kalian yang amalannya dapat memasukkannya ke dalam surga... wala Ana illa Aya Robbi rohmati minhum maghfirotin (Tidak pula aku, amalanku tidak akan memasukkan aku ke dalam surga melainkan dengan curahan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta'ala)."
"hadani rukna al-amal al-mutakabbal labudaayakuna khalisari Ati rasulillahi Shallallahu Alaihi Wasallam (Inilah dua rukun amalan yang diterima... harus ikhlas dan sesuai syariat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam)."