Jangan Meremehkan Dua Situasi Ini ○
Ada dua fitnah yang sangat menghancurkan kehidupan hati kita. Yang pertama dan paling berat adalah fitnah syubhat. Yang kedua adalah fitnah syahwat, yang tak kalah berat namun lebih ringan dari yang pertama.
Fitnah syubhat berhubungan dengan pemikiran, akidah, dan ilmu. Syubhat dapat merusak pemikiran, ilmu, bahkan akidah kita. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan tentang fitnah ini, "Akan datang fitnah-fitnah bagaikan bagian malam yang gelap. Di waktu pagi masih mukmin, di waktu sore sudah kafir. Di sore hari masih mukmin, di pagi harinya sudah kafir." Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan bahwa di waktu pagi seseorang masih mengharamkan apa yang Allah haramkan, namun di waktu sore ia sudah menghalalkannya. Ini terjadi karena syubhat pemikiran.
Orang yang tadinya di atas sunah bisa melenceng pemikirannya karena terkena syubhat seperti pemikiran takfiri Khawarij, Syiah, atau Murji'ah. Para ulama menganggap fitnah syubhat ini lebih berat daripada fitnah syahwat, karena penyesatan dan penyimpangan akidah itu lebih berat dibandingkan dengan maksiat. Rasulullah ﷺ sangat keras terhadap orang-orang yang menyimpang dalam akidah, seperti kaum Khawarij yang disebut sebagai "anjing-anjing api neraka" dan "seburuk-buruk orang yang terbunuh". Bahkan Abu Said Al-Khudri berkata, "Memerangi kaum Khawarij bagiku lebih besar daripada memerangi orang kafir," menunjukkan bahaya mereka bagi umat Islam. Terhadap kelompok Qadariyah yang menolak takdir, Rasulullah ﷺ menyebut mereka "Majusinya umat ini."
Namun, lihatlah perlakuan Rasulullah ﷺ terhadap orang yang jatuh pada maksiat. Terhadap seorang sahabat pemabuk yang sering dicambuk, Rasulullah ﷺ melarang sahabat lain melaknatnya, "Jangan dilaknat, karena dia masih mencintai Allah dan Rasul-Nya." Ini menunjukkan bahwa penyimpangan pemikiran dan akidah dipandang lebih serius daripada maksiat, meskipun keduanya berat. Jangan salah paham, fitnah syahwat tetap berat dan tidak boleh diremehkan.
Di zaman ini, fitnah syubhat sangat berbahaya. Orang-orang seperti Khawarij, Qadariyah, Murji'ah, dan Mu'tazilah memiliki argumentasi dan seringkali membawa dalil Al-Qur'an dan Hadis. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa keburukan murni tidak akan laris di tengah manusia. Keburukan menjadi laris karena diberi bumbu kebenaran, ada sedikit kebenaran di dalamnya sehingga mengelabui banyak orang. Khawarij itu jago membaca Al-Qur'an, bahkan hafal Al-Qur'an, namun bacaan mereka tidak sampai ke kerongkongan (tidak dipahami dengan benar). Mereka membawa dalil Al-Qur'an dan hadis, namun pemahamannya menyimpang.
Jaringan Islam Liberal (JIL) juga membawa dalil seperti Surat Al-Baqarah ayat 62 untuk mengklaim bahwa semua agama sama, padahal pemahaman mereka bertentangan dengan ayat-ayat lain yang menegaskan kekafiran orang-orang yang menyimpang. Oleh karena itu, merujuk Al-Qur'an dan Hadis saja tidak cukup. Kita harus merujuk kepada pemahaman yang benar, yaitu pemahaman para sahabat Rasulullah ﷺ.
Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, "Kenapa umat Islam ini berpecah belah, sementara Nabinya satu, kitab sucinya satu, kiblatnya satu?" Ibnu Abbas menjawab bahwa para sahabat membaca dan memahami Al-Qur'an sesuai yang dipahami Rasulullah ﷺ, namun akan datang kaum-kaum yang memiliki pendapat sendiri. Jika setiap orang punya pemahaman sendiri, saat itulah perpecahan pasti terjadi. Memahami Al-Qur'an dan Hadis dengan akal sendiri tanpa merujuk pada pemahaman yang benar adalah penyebab syubhat dan perpecahan.
Jangan memfitnah diri sendiri dengan membuka telinga lebar-lebar terhadap semua pemikiran. Imam Ahmad bin Hanbal, yang hafal jutaan hadis, selalu menutup telinganya saat melewati majelis Mu'tazilah. Beliau menyuruh anaknya melakukan hal yang sama karena hati kita lemah, sedangkan syubhat menyambar-nyambar. Jika kita tidak menjaga hati, akan mudah bingung mana yang benar. Orang yang bingung akan merasa semua benar, atau bahkan tidak tahu mana yang benar karena tidak punya kemampuan ilmu untuk melihat kebenaran. Jangan masukkan syubhat pemikiran ke hati kita, karena itu adalah fitnah terhadap diri sendiri.
Fitnah yang kedua adalah syahwat, yang biasanya berhubungan dengan tiga hal: harta, tahta, dan wanita. Jangan memfitnah diri dengan syahwat ini. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa fitnah terberat bagi laki-laki adalah wanita. Jangan menganggap remeh fitnah ini, seperti menerima pertemanan lawan jenis di media sosial jika tidak yakin tidak akan terfitnah. Syahwat harta membuat seseorang tidak peduli halal dan haram, bahkan mencari cara agar yang haram terlihat halal dengan embel-embel syariat. Syahwat kedudukan juga sangat berbahaya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan pada sekelompok kambing itu lebih merusak agama seseorang dari orang yang sangat rakus terhadap harta dan kedudukan." Rakusnya orang terhadap harta dan kedudukan bisa merusak keimanan dan ketakwaan, bahkan lebih parah dari serigala lapar.
Kenali dua fitnah ini: syubhat dan syahwat. Sadari sejak awal sebelum hati terfitnah. Jika kita menyadari itu adalah fitnah, insyaallah kita akan lari darinya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Akan datang fitnah dan fitnah itu akan terasa yang datang sebelumnya lebih ringan dibandingkan dengan fitnah setelahnya." Seorang mukmin akan berkata, "Ini yang akan membinasakan diriku." Ia sadar sebelum terkena fitnah. Jika Anda sadar bahwa perilaku tertentu (misalnya terlalu asyik dengan HP, susah membaca Quran, atau senang melihat lawan jenis) adalah fitnah, segera tinggalkan. Jika tidak sadar, di situlah musibah. Anda akan terus terjerembap dan menjadi mangsa setan. Orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Ada dua fitnah besar yang menghancurkan hati: syubhat dan syahwat.
- Fitnah syubhat merusak pemikiran, akidah, dan ilmu, serta lebih berbahaya dari fitnah syahwat.
- Kaum Khawarij, Qadariyah, Murji'ah, dan JIL membawa dalil namun dengan pemahaman yang menyimpang.
- Merujuk Al-Qur'an dan Hadis harus dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman para sahabat.
- Jangan memfitnah diri dengan membuka telinga terhadap pemikiran yang menyimpang; hati itu lemah.
- Fitnah syahwat meliputi harta, tahta, dan wanita, yang juga dapat merusak keimanan dan ketakwaan.
- Rakusnya terhadap harta dan kedudukan lebih berbahaya daripada serigala lapar bagi agama seseorang.
- Kenali dan sadari fitnah sejak awal agar dapat menghindarinya.
- Orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Dua fitnah, syubhat dan syahwat, siap menghancurkan hati kita."
"Syubhat mampu mengubah imanmu secepat malam berganti pagi."
"Penyimpangan akidah jauh lebih berat daripada sekadar maksiat."
"Hati-hati, keburukan sering dibungkus kebenaran agar diterima."
"Dalil itu benar, tapi pemahaman yang salah bisa menyesatkanmu."
"Jangan biarkan hatimu jadi tong sampah syubhat dari segala arah."
"Fitnah wanita adalah ujian terberat bagi kaum lelaki, waspadalah."
"Harta dan kedudukan, jika dirakus, bisa melumat habis agamamu."
"Sadari fitnah sebelum ia merasuk, lalu segera lari menghindar."
"Kebahagiaan sejati adalah dijauhkan Allah dari segala fitnah dunia."