Ketika Kita Mendapat Takdir yang Tidak Kita Sukai ○
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
ketika-kita-mendapat-takdir-yang-tidak-kita-sukai-yazid.mp3
Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan beberapa sikap yang harus diperhatikan seorang muslim ketika mendapatkan takdir yang tidak disukai. Hal ini berkaitan dengan keimanan kita kepada takdir Allah, baik yang baik maupun yang buruk.
1. Pandangan Tauhid
Ketika menghadapi takdir yang tidak disukai, pandangan pertama kita haruslah tauhid, yaitu mengesakan Allah. Kita wajib meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Pencipta, Pemberi Rezeki, Pemilik, Pengatur, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan alam semesta. Semua yang terjadi, baik di langit maupun di bumi, telah ditetapkan oleh Allah 50.000 tahun sebelum penciptaan-Nya. Allah tidak pernah zalim kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, kita wajib mengikhlaskan ibadah dan doa hanya kepada Allah semata. Allah berbuat apa yang Dia kehendaki, dan segala ketetapan-Nya adalah kebaikan bagi hamba-Nya.
2. Allah Maha Adil
Pandangan kedua adalah meyakini bahwa Allah itu Maha Adil. Allah tidak pernah berbuat zalim kepada hamba-Nya. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman, "Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya telah Kuharamkan kezaliman atas diri-Ku, maka janganlah kalian saling menzalimi." Apapun yang menimpa kita adalah keadilan dari-Nya. Kita wajib berprasangka baik (husnudzon) kepada Allah.
3. Allah Maha Kasih Sayang
Ketiga, kita harus memandang bahwa Allah itu Maha Kasih Sayang. Allah adalah Ar-Rahman, Ar-Rahim, dan Arhamur rahimin (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan sebaik-baik penyayang). Bahkan para Nabi yang merupakan kekasih Allah pun menghadapi ujian berat, seperti dibunuh. Oleh karena itu, kita tidak boleh berburuk sangka kepada Allah, karena Dia Maha Sayang kepada hamba-Nya.
4. Semua ada Hikmahnya
Keempat, setiap takdir Allah pasti mengandung hikmah. Tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia. Bencana, gempa, banjir, kematian, semua memiliki hikmah yang mungkin belum kita ketahui. Seorang mukmin wajib mengimani bahwa di balik setiap kejadian, ada pelajaran dan kebaikan yang terkandung di dalamnya.
5. Allah Tetap Terpuji
Kelima, Allah adalah Dzat yang Maha Terpuji dalam setiap keadaan. Apapun yang Allah lakukan, Dia tetap berhak mendapatkan pujian. Hanya Allah yang berhak atas segala sanjungan. Nabi ﷺ pun selalu memuji Allah, bahkan dalam shalat ketika i'tidal. Orang yang marah atas takdir berarti dia marah kepada Allah. Kita wajib bersyukur dan bersabar atas segala musibah, serta senantiasa memuji Allah.
6. Masyhadul Ubudiyah (Sebagai Hamba)
Terakhir, kita adalah hamba Allah (abid), bukan yang disembah (ma'bud). Sebagai hamba, kita wajib menerima semua ketetapan Allah, karena Allah tidak pernah zalim. Untuk keselamatan di dunia dan akhirat, kita harus mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah.
Ustadz Yazid kemudian menguraikan makna dari dzikir yang mulia: Raditu billahi Rabba, wabil Islami Dina, wabi Muhammadin Nabiyya (Aku ridha Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabiku).
Redha Allah sebagai Rabb
Ini berarti kita ridha Allah sebagai Pencipta, Pemberi rezeki, Pemilik, Pengatur, Penghidup, Pematikan, dan Penentu takdir. Kita ridha bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang wajib diibadahi, memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi, serta meyakini semua ketetapan dan hukum-Nya. Kita wajib mentauhidkan Allah dan menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan. Jika kita ridha, Allah pun akan ridha. Sebaliknya, jika kita murka, Allah pun akan murka.
Musibah yang menimpa kita, jika kita hadapi dengan sabar dan ridha, akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kita, bahkan bisa mengantarkan kita ke surga. Para ulama menyebut musibah sebagai nikmat (al-masa'ibu ni'mah) karena ia dapat menghapus dosa dan mengembalikan kita pada ketundukan serta kerendahan hati kepada Allah. Ujian adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. Ujian duniawi adalah hal yang ringan dibandingkan musibah dalam agama. Kita harus selalu berdoa, “Ya Allah, jangan jadikan musibah kami pada agama kami.” Yang terbaik yang Allah takdirkan untuk kita adalah selalu yang terbaik. Meskipun demikian, kita tetap wajib berikhtiar dan berdoa, dan tidak berharap kepada manusia, karena Allah-lah yang pasti memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya.
Redha Islam sebagai Agama
Kita wajib ridha Islam sebagai agama kita. Nikmat Islam adalah nikmat terbesar, melebihi segala nikmat dunia. Orang kafir, meskipun diberikan banyak kenikmatan dunia, jika meninggal dalam kekufuran, tempatnya adalah neraka. Surga adalah tujuan hidup kita, bukan dunia yang nilainya lebih rendah dari bangkai kambing. Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Islam adalah agama yang sempurna, membawa rahmat bagi sekalian alam, dan penuh toleransi. Allah telah menyatakan keridhaan-Nya atas Islam sebagai agama kita. Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. Semua Nabi agamanya adalah tauhid, yaitu Islam. Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ adalah satu-satunya agama yang diterima, bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman Salafus Shalih, bukan tradisi nenek moyang.
Redha Muhammad sebagai Nabi
Kita wajib ridha Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi kita, beriman kepadanya, dan mencintainya melebihi diri sendiri, orang tua, anak, dan seluruh manusia. Konsekuensi dari mencintai beliau adalah mentaati dan mengikuti (ittiba') Rasulullah ﷺ, serta beribadah sesuai dengan syariat yang beliau ajarkan.
Kesimpulan
Dengan memegang teguh enam pandangan ini dan senantiasa meridhakan Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi, seorang mukmin akan mampu menghadapi setiap takdir, termasuk yang tidak disukai, dengan hati yang lapang, sabar, dan penuh harapan akan rahmat serta pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Hadapi takdir yang tidak disukai dengan pandangan tauhid, meyakini Allah adalah satu-satunya Pengatur.
- Allah Maha Adil dan tidak pernah zalim kepada hamba-Nya.
- Allah Maha Kasih Sayang, bahkan ujian berat bisa menimpa kekasih-Nya seperti para Nabi.
- Setiap takdir Allah pasti mengandung hikmah dan kebaikan.
- Allah adalah Dzat yang Maha Terpuji dalam setiap keadaan, wajib bersyukur dan bersabar.
- Sebagai hamba, kita wajib menerima ketetapan Allah dan beribadah sesuai Al-Qur'an dan Sunnah.
- Meyakini "Raditu billahi Rabba" berarti ridha Allah sebagai Tuhan yang berhak diibadahi dan segala ketetapan-Nya.
- Musibah yang dihadapi dengan sabar dan ridha dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat.
- "Wabil Islami Dina" mengajarkan bahwa Islam adalah nikmat terbesar dan satu-satunya agama yang diterima Allah.
- "Wabi Muhammadin Nabiyya" menuntut kita mencintai Nabi Muhammad ﷺ dan mengikuti syariatnya.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Ketika takdir tidak sesuai harapan, ingatlah bahwa Allah adalah satu-satunya Pengatur, serahkan semua kepada-Nya."
"Musibah bukan tanda kebencian Allah, tapi bukti cinta-Nya untuk menguji dan membersihkan dosa."
"Jangan pernah berburuk sangka kepada Allah, karena di balik setiap takdir-Nya ada kasih sayang yang tak terhingga."
"Setiap kesulitan yang menimpa pasti mengandung hikmah, yakinlah ada kebaikan di baliknya."
"Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka; ridha dengan ujian-Nya adalah kunci ridha Allah."
"Musibah adalah nikmat yang menghapus dosa, kembalikan hatimu pada kerendahan dan ketundukan kepada Allah."
"Dunia ini tidak ada harganya; tujuan hidup kita adalah surga, bukan kenikmatan fana."
"Islam adalah nikmat terbesar; jangan pernah menukarnya dengan apapun, karena ia adalah jalan kebahagiaan sejati."
"Cintailah Nabi Muhammad ﷺ melebihi segalanya, dan buktikan dengan menaati serta mengikuti ajarannya."
"Berharaplah hanya kepada Allah, karena Dialah yang mengatur rezeki dan memberikan yang terbaik bagi kita."