Khutbah Jum'at
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
khutbah-jum-at-ali.mp3
Khutbah ini dimulai dengan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala nikmat, terutama nikmat Islam, Al-Qur'an, dan Sunnah, serta menjadi umat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Semua nikmat ini menunjukkan bagaimana semestinya kita menjalani kehidupan dunia.
Hakikat hidup di dunia adalah ujian. Dunia dengan segala hiruk-pikuknya bukanlah tempat untuk bersenang-senang dan kekal abadi, melainkan tempat kita diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Segala sesuatu yang kita jalani dan nikmati—waktu luang, pekerjaan, harta, pasangan, keluarga, makanan, pakaian—adalah ujian dari Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Kahfi:
"Inna ja'alna ma 'alal ardhi zinatan laha linabluwahum ayyuhum ahsanu 'amala. Wa inna laja'iluna ma 'alaiha sha'idan juruza."
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering."
Ayat ini adalah bagian dari 10 ayat pertama Surat Al-Kahfi yang memiliki keutamaan besar. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, barang siapa menghafal 10 ayat pertama Surat Al-Kahfi akan diselamatkan dari fitnah Dajjal (HR. Muslim). Juga, barang siapa membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat, akan diberikan cahaya di antara dua Jumat (HR. Hakim).
Ujian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan siapa yang layak dan tidak layak, siapa yang pantas dan tidak pantas, serta siapa yang berhak mendapatkan penghargaan dan siapa yang harus mendapatkan sanksi. Allah menegaskan dalam Al-Qur'an untuk memisahkan mana yang buruk dari yang baik. Kebaikan dalam menyikapi ujian di dunia akan membawa kebaikan di alam barzakh dan akhirat.
Meskipun Allah menciptakan alam semesta dan manusia dengan begitu sempurna, semua ini akan dihancurkan. Manusia yang diciptakan dalam bentuk paling sempurna akan menua, melemah, dan mati. Ini adalah pesan bahwa sebagaimana Allah memulai, Dia akan mengakhiri dan menciptakan kembali di padang mahsyar, tempat kita mempertanggungjawabkan semua perbuatan.
Di akhirat, yang tersisa hanyalah amalan kita. Segala kesenangan duniawi seperti traveling, harta, atau jabatan tidak akan lagi dikenang. Yang akan diingat adalah bagaimana kita menghabiskan waktu di dunia, apakah taat kepada Allah atau tidak. Amalan terbaik, sebagaimana dikatakan oleh Fudhail Ibnu Iyad, adalah yang ikhlas karena Allah dan benar sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Allah menguji kita dengan dua jenis ujian besar: keburukan dan kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Wa nablukum bisyarri wal khairi fitnah, wa ilaina turja'un."
Artinya: "Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan." (Q.S. Al-Anbiya': 35)
Seorang mukmin selalu dalam kondisi baik karena statusnya selalu menang dalam menghadapi ujian. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
"Ajaban li amril mukmin, inna amrahu kullahu lahu khair. Wa in ashobathu sarraa syakar fakana khairun lah, wa in ashobathu dharraa shabar fakana khairun lah."
Artinya: "Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sesungguhnya semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa keburukan, ia bersabar, maka itu baik baginya." (HR. Muslim)
Orang beriman akan bersyukur ketika mendapatkan kebaikan, menyadari bahwa itu adalah ujian dari Allah dan bukan dari dirinya sendiri. Dia akan memanfaatkan nikmat untuk ketaatan kepada Allah, bukan untuk maksiat. Orang yang kufur nikmat akan menyombongkan diri atas kepintaran atau strateginya, padahal segala kebaikan datang dari Allah. Ingatlah Qarun yang mengingkari nikmat Allah.
Ketika diuji dengan keburukan, seorang mukmin akan bersabar. Sabar dan syukur akan meninggikan derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Keduanya hanya bisa terwujud dengan pertolongan Allah.
Kita diuji dengan kesenangan dan hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Gaza atau Sudan. Mereka yang syahid adalah orang-orang mulia di sisi Allah, kematian syahid adalah Husnul Khatimah terbaik setelah para nabi. Justru kita yang hidup harus lebih mengkhawatirkan diri sendiri, apakah kita bisa selamat dari fitnah dan ujian dunia, dan apakah kita akan mendapatkan Husnul Khatimah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Wa lanabluwannakum bisyai'in minal khaufi wal ju'i wa naqsim minal amwali wal anfusi wats tsamarat. Wa basysyirish shabirin. Alladzina idza ashobathum mushibah, qolu inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Ulaika alaihim shalawatun min rabbihim wa rahmah, wa ulaika humul muhtadun."
Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.S. Al-Baqarah: 155-157)
Ucapan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" adalah pengingat bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kita akan ditanya tentang semua nikmat yang diberikan (penglihatan, pendengaran, kesehatan, waktu, keluarga), bahkan hingga air sejuk yang kita minum, serta tentang ketaatan dan maksiat kita. Mumpung masih hidup, siapkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Jangan mempersulit diri dengan melanggar aturan Allah. Ingatlah betapa beratnya menghadap Rabbul Alamin di hari kebangkitan, di mana tidak ada hakim yang bisa disogok atau pengacara yang bisa membantu.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Nya dan sabar terhadap ujian-ujian yang Allah timpakan kepada kita.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Dunia adalah tempat ujian, bukan tempat kesenangan abadi.
- Segala nikmat dan musibah adalah ujian dari Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em>.
- Orang beriman senantiasa dalam kebaikan, baik saat bersyukur atas nikmat maupun bersabar atas musibah.
- Amalan terbaik adalah yang ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Rasulullah <em>Shallallahu 'Alaihi wa Sallam</em>.
- Ucapan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" mengingatkan kepemilikan Allah atas diri kita dan pertanggungjawaban di akhirat.
- Persiapkan diri untuk hari penghisaban dengan ketaatan dan menjauhi maksiat.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Hakikat hidup di dunia adalah ujian. Dunia dengan segala hiruk-pikuknya bukanlah tempat untuk bersenang-senang dan kekal abadi, melainkan tempat kita diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ."
"Amalan terbaik, sebagaimana dikatakan oleh Fudhail Ibnu Iyad, adalah yang ikhlas karena Allah dan benar sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ."
"Justru kita yang hidup harus lebih mengkhawatirkan diri sendiri, apakah kita bisa selamat dari fitnah dan ujian dunia, dan apakah kita akan mendapatkan Husnul Khatimah."
"Ucapan 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' adalah pengingat bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya."