Konsekuensi Meremehkan Bid’ah

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc.
16 April 2026 • 2 VIEWS YOUTUBE SOURCE WHATSAPP SHARE

DENGARKAN AUDIO KAJIAN

konsekuensi-meremehkan-bidah.mp3

DOWNLOAD

Bid'ah seringkali dianggap remeh oleh sebagian kaum Muslimin dengan alasan 'niatnya kan baik'. Namun, dalam timbangan syariat, bid'ah adalah perkara besar yang bisa mengancam kemurnian agama. Dalam kajian yang sangat tegas dan berlandaskan dalil ini, Ustadz Abu Yahya Badrusalam membedah bahaya laten dan konsekuensi dari meremehkan perkara baru dalam urusan ibadah.

Hakikat Kesempurnaan Islam

Allah Ta'ala telah menegaskan bahwa agama Islam ini telah sempurna. Beliau menjelaskan bahwa orang yang melakukan bid'ah secara tidak langsung menganggap bahwa Rasulullah ﷺ telah berkhianat dalam menyampaikan risalah atau ada kebaikan yang belum sempat beliau sampaikan. Jika Islam sudah sempurna, maka segala tambahan dalam urusan ibadah adalah sebuah kelancangan terhadap hak prerogatif Allah sebagai Pembuat Syariat. Niat baik saja tidak cukup untuk diterimanya sebuah amal; ia harus sesuai dengan tuntunan (Ittiba').

Bid'ah: Pintu Masuk Kesesatan

Beliau mengingatkan sebuah kaidah penting: 'Tidaklah suatu bid'ah muncul, melainkan suatu Sunnah akan hilang'. Meremehkan bid'ah kecil akan menyeret seseorang pada bid'ah yang lebih besar hingga akhirnya keluar dari jalur Manhaj Salaf yang benar. Bid'ah lebih dicintai iblis daripada maksiat, karena pelaku maksiat merasa berdosa dan mudah bertaubat, sedangkan pelaku bid'ah merasa sedang beribadah sehingga sulit untuk menyadari kesalahannya dan bertaubat.

Konsekuensi di Dunia dan Akhirat

Amalan bid'ah adalah amalan yang sia-sia dan tertolak (Mardud). Beliau memaparkan konsekuensi berat di akhirat, di mana para pelaku bid'ah akan diusir dari telaga (Al-Haudz) milik Nabi ﷺ. Nabi ﷺ akan memanggil umatnya untuk minum, namun malaikat menghalangi mereka seraya berkata: 'Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (bid'ah) sepeninggalmu'. Betapa ruginya seorang hamba yang telah letih beramal di dunia, namun ternyata amalnya justru menjauhkannya dari syafa'at Nabi ﷺ.

Membentengi Diri dengan Ittiba'

Sebagai penutup, Ustadz Abu Yahya mengajak kita untuk mencukupkan diri dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Ibadah itu tauqifiyah (tergantung dalil). Jangan mengikuti perasaan atau tren masyarakat dalam beragama. Pelajarilah sunnah-sunnah Nabi yang begitu banyak yang belum kita amalkan, daripada sibuk mencari-cari cara baru yang tidak ada asalnya. Keselamatan hanya ada pada sikap tunduk dan patuh pada wahyu yang murni.

POINTERS & CONCLUSIONS

DALIL & REFERENCES

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."
— QS. Al-Ma'idah: 3 • REFERENCE LINK
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَٰذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak."
— HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718 • REFERENCE LINK

KATA BIJAK UNTUK STATUS

"Jika engkau ingin mencintai Nabi ﷺ, maka ikutilah sunnahnya, bukan dengan membuat cara-cara baru dalam memujinya."

WHATSAPP

"Bid'ah itu ibarat racun yang dibungkus dengan madu; manis dirasakan lisan namun mematikan bagi iman."

WHATSAPP

"Lebih baik sedikit beramal di atas sunnah daripada banyak beramal di atas kebid'ahan."

WHATSAPP