Konsekuensi Meremehkan Bid’ah ○
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
konsekuensi-meremehkan-bidah.mp3
Bid'ah seringkali dianggap remeh oleh sebagian kaum Muslimin dengan alasan 'niatnya kan baik'. Namun, dalam timbangan syariat, bid'ah adalah perkara besar yang bisa mengancam kemurnian agama. Dalam kajian yang sangat tegas dan berlandaskan dalil ini, Ustadz Abu Yahya Badrusalam membedah bahaya laten dan konsekuensi dari meremehkan perkara baru dalam urusan ibadah.
Hakikat Kesempurnaan Islam
Allah Ta'ala telah menegaskan bahwa agama Islam ini telah sempurna. Beliau menjelaskan bahwa orang yang melakukan bid'ah secara tidak langsung menganggap bahwa Rasulullah ﷺ telah berkhianat dalam menyampaikan risalah atau ada kebaikan yang belum sempat beliau sampaikan. Jika Islam sudah sempurna, maka segala tambahan dalam urusan ibadah adalah sebuah kelancangan terhadap hak prerogatif Allah sebagai Pembuat Syariat. Niat baik saja tidak cukup untuk diterimanya sebuah amal; ia harus sesuai dengan tuntunan (Ittiba').
Bid'ah: Pintu Masuk Kesesatan
Beliau mengingatkan sebuah kaidah penting: 'Tidaklah suatu bid'ah muncul, melainkan suatu Sunnah akan hilang'. Meremehkan bid'ah kecil akan menyeret seseorang pada bid'ah yang lebih besar hingga akhirnya keluar dari jalur Manhaj Salaf yang benar. Bid'ah lebih dicintai iblis daripada maksiat, karena pelaku maksiat merasa berdosa dan mudah bertaubat, sedangkan pelaku bid'ah merasa sedang beribadah sehingga sulit untuk menyadari kesalahannya dan bertaubat.
Konsekuensi di Dunia dan Akhirat
Amalan bid'ah adalah amalan yang sia-sia dan tertolak (Mardud). Beliau memaparkan konsekuensi berat di akhirat, di mana para pelaku bid'ah akan diusir dari telaga (Al-Haudz) milik Nabi ﷺ. Nabi ﷺ akan memanggil umatnya untuk minum, namun malaikat menghalangi mereka seraya berkata: 'Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (bid'ah) sepeninggalmu'. Betapa ruginya seorang hamba yang telah letih beramal di dunia, namun ternyata amalnya justru menjauhkannya dari syafa'at Nabi ﷺ.
Membentengi Diri dengan Ittiba'
Sebagai penutup, Ustadz Abu Yahya mengajak kita untuk mencukupkan diri dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Ibadah itu tauqifiyah (tergantung dalil). Jangan mengikuti perasaan atau tren masyarakat dalam beragama. Pelajarilah sunnah-sunnah Nabi yang begitu banyak yang belum kita amalkan, daripada sibuk mencari-cari cara baru yang tidak ada asalnya. Keselamatan hanya ada pada sikap tunduk dan patuh pada wahyu yang murni.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Islam telah sempurna, segala bentuk tambahan dalam ibadah adalah kesia-siaan.
- Niat baik tidak bisa melegalkan amalan yang tidak dicontohkan Rasulullah ﷺ.
- Bid'ah merusak kemurnian aqidah dan menyebabkan perpecahan di tengah umat.
- Pelaku bid'ah sulit bertaubat karena menganggap perbuatannya adalah ketaatan.
- Satu bid'ah yang dilakukan akan mematikan satu sunnah yang seharusnya dihidupkan.
- Amalan bid'ah pasti tertolak oleh Allah meskipun dilakukan dengan penuh semangat.
- Waspadalah terhadap ancaman diusir dari Telaga Al-Haudz pada hari kiamat.
- Kembalilah pada pemahaman para sahabat dalam memahami dan mengamalkan agama.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Islam sudah sempurna, siapa yang menambah-nambah ibadah berarti menganggap Rasulullah berkhianat."
"Niat baik tidak cukup, amal harus sesuai tuntunan agar diterima Allah."
"Setiap bid'ah yang muncul pasti mematikan satu sunnah yang dulu hidup."
"Pelaku bid'ah sulit bertaubat karena mengira sedang beribadah, padahal tersesat."
"Jangan remehkan bid'ah kecil, karena ia bisa menyeret pada kesesatan yang lebih besar."
"Amalan bid'ah tertolak walau dilakukan penuh semangat, karena tidak ada dalilnya."
"Bid'ah lebih dicintai iblis daripada maksiat, karena pelakunya merasa benar dan enggan taubat."
"Waspadalah, pelaku bid'ah akan diusir dari telaga Rasulullah pada hari kiamat."
"Ibadah itu tauqifiyah, jangan ikut perasaan atau tren, ikutilah sunnah."
"Keselamatan hanya pada tunduk pada wahyu, bukan pada kreasi ibadah baru."