Kisah Orang-Orang yang Yakin
Agama ini pada dasarnya adalah mudah. Kita tidak perlu berkreasi dalam beragama, cukup mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabat ridha Allah. Kita wajib bersyukur kepada Allah atas segala nikmat, terutama nikmat Islam, nikmat sunnah, dan nikmat dimudahkannya kita menuntut ilmu agama. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat kelak.
Kajian malam ini melanjutkan pembahasan kitab A'malul Qulub, amalan-amalan hati, dan kita masih membahas tentang Al Yaqin. Ini adalah pasal terakhir dari bahasan tentang yakin, yaitu di antara cerita tentang orang-orang yang yakin.
Sebelumnya, ada sedikit faedah dari Ustadz Beni Sarbeni. Beliau menceritakan kisah seorang tukang sayur yang sambil berdagang, tetap membaca kitab. Ini menggambarkan bagaimana bahagianya orang tersebut. Keadaan dia sebagai seorang tukang sayur tidak menghalangi dia untuk tetap belajar. Hal ini semoga menjadi inspirasi bagi kita, bahwa siapapun kita, sesungguhnya di antara kenikmatan yang sangat besar adalah kesempatan yang Allah berikan untuk kita belajar.
Sebagaimana Ibnu Taimiyah rahimahullah mengungkapkan bahwa jannatuddunya (surganya dunia) itu ada di dalam dada seorang mukmin. Nabi ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Imam At-Tirmidzi yang dinyatakan Hasan: “Barangsiapa di pagi hari dalam keadaan sehat (bukan hanya sehat badan, tapi paling penting sehat hatinya), dia dalam keadaan aman (bukan dalam keadaan perang), dan dia hanya punya makanan pokok untuk kebutuhan satu harinya, maka seolah-olah dunia dan seisinya diberikan kepadanya.” Hati membutuhkan nutrisi, sebagaimana fisik pun demikian. Di antara nutrisi hati adalah ilmu, belajar.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Kaya itu bukan karena banyaknya harta, tapi kaya itu adalah kayanya hati.” Kajian ilmu adalah nutrisi bagi hati, semoga bermanfaat.
Pasal yang akan disampaikan malam ini berjudul Di antara Cerita Orang-orang yang Yakin. Banyak cerita tentang yakin, sebagian sudah disampaikan, seperti kisah Saad bin Abi Waqqash yang dengan yakinnya bisa melewati Sungai Dajlah hanya dengan mengatakan Hasbunallah Wanikmal Wakil.
Cerita Pertama: Wanita dari Bani Dinar
Diriwayatkan dari sahabat Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ta'ala anhu oleh Al Imam Al Baihaqi, bahwa Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang wanita dari kalangan Bani Dinar. Suami, saudara, dan bapaknya gugur dalam peristiwa Perang Uhud. Ketika dikabarkan musibah ini kepadanya, yang biasanya menjadikan hati sedih, justru yang dia tanya adalah: “Bagaimana kabar Rasulullah ﷺ?” Mereka menjawab bahwa Rasul dalam keadaan baik, segala puji hanya milik Allah. Kemudian wanita itu ingin meyakinkan keadaan Rasulullah ﷺ dan ia pun ditunjukkan. Setelah melihat Rasulullah ﷺ, ia mengungkapkan kata-kata yang mengukir sejarah: “Kullu musibahtin ba'daka Jalal (Setiap musibah apapun musibah itu, asal musibah itu tidak menimpa Rasulullah ﷺ, maka musibah itu ringan).” Dengan keyakinannya, dia mengatakan apapun musibahnya, yang penting tidak menimpa Rasulullah ﷺ. Wafatnya suami, saudara, bapaknya yang mati syahid tidak jadi masalah baginya, yang penting Rasulullah ﷺ masih bersama mereka. Wafatnya Rasulullah ﷺ adalah musibah bagi seluruh umat. Oleh karena itu, ketika dikabarkan Rasulullah ﷺ wafat, Umar bin Khattab marah. Setelah itu, Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ta'ala anhu berkata: “Barangsiapa yang beribadah menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa yang dia beribadah kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu hidup, tidak akan mati.” As-Syahid yang menjadi dalil terkait Bapak kita ini adalah kalimat wanita itu: “Setiap musibah, asal tidak menimpamu wahai Rasul, itu adalah ringan.” Jadi, setiap musibah, apapun yang menimpa kita, asal tidak menimpa agama kita, itu ringan. Sebaliknya, musibah dalam agama, walaupun kecil, itulah yang besar.
Cerita Kedua: Ummu Haritsah
Putranya, Haritsah, terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah ﷺ (mati syahid). Ummu Haritsah datang menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ya Rasulullah, engkau tahu bagaimana sayangnya aku kepada Haritsah. Tapi kalaulah dia di surga, aku sabar dan hanya berharap pahala kepada Allah Rabbul Alamin. Namun, jika nasibnya berbeda, engkau akan menyaksikan apa yang akan kuperbuat.” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh malangnya kamu. Bukan hanya satu surga, sesungguhnya ia adalah surga yang banyak. Bahkan Haritsah ada di dalam surga Firdaus, surga yang paling afdol.” Surga Firdaus adalah surga yang paling tinggi. Makanya Nabi ﷺ memerintahkan kita, jika engkau minta kepada Allah, mintalah surga Firdaus. Kalau minta kepada Allah, jangan nanggung. Kita masuk surga bukan karena amal kita, tapi karena rahmat Allah. Namun, bukan hal yang mustahil bagi Allah untuk memasukkan kita ke dalam surga Firdaus.
Kisah ini dibawakan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab shahihnya dari hadis Anas bin Malik.
Cerita Ketiga: Amir bin Abdi Al-Qais
Kisah ini dibawakan oleh Abu Nu'aim Al-Asyhani dalam kitabnya Al-Haliyah, yaitu Hilyatul Aulia, dari Amir bin Abdi Al-Qais. Beliau berkata: “Seandainya penutup ini dibuka, itu tidak menjadikan aku tambah yakin.” Maksudnya, ada tiga tingkatan yakin: ilmu yakin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Ilmu yakin adalah ketika kita dikabarkan tentang adanya surga. Ainul yaqin adalah ketika kita melihat surga. Haqqul yaqin adalah ketika kita masuk ke dalam surga. Amir bin Abdi Al-Qais sudah berada di puncak keyakinan, sehingga baginya, walaupun tabir sudah dibuka (ia melihat surga dan neraka), keyakinannya tidak akan bertambah. Karena, walaupun di dunia, ia sudah mencapai haqqul yaqin. Dengan keyakinan yang tertanam kuat dalam diri, melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan akan terasa ringan dan mudah, karena yakin akan membawa keikhlasan. Ikhlas menjadikan semua amal ringan dan bisa dinikmati.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata bahwa kenikmatan atau balasan pertama yang Allah berikan kepada orang yang betul-betul ibadah kepada Allah dengan baik adalah kenikmatan dalam ibadah tersebut. Allah di antara nama-Nya adalah Asy-Syakur, Maha Berterima Kasih. Allah tidak akan mengabaikan setiap bentuk keimanan yang kita lakukan, secuil apapun pasti akan Allah balas, bahkan balasannya 10 kali lipat sampai 700 kali lipat.
Cerita Keempat: Orang yang Melihat Surga dan Neraka Hakiki
Sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin, yang menjelaskan firman Allah “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (Hanya kepada-Mu Ya Allah kami beribadah, dan hanya kepada-Mu Ya Allah kami mohon pertolongan). Kitab-kitab Imam Ibnul Qayyim banyak membahas kunci-kunci kebahagiaan, termasuk kitab Miftah Daris Sa’adah (Kunci Perkampungan Kebahagiaan).
Dikisahkan ada seorang yang berkata: “Aku melihat surga dan neraka Hakiki.” Orang itu ditanya: “Bagaimana kok bisa kamu melihat surga dan neraka itu nyata?” Dia menjawab: “Aku melihat keduanya dengan kedua mata Rasulullah ﷺ.” Maksudnya, ia membaca apa yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ tentang surga dan neraka, dan karena Nabi ﷺ adalah yang jujur dan dipercaya, maka seolah-olah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, nyata Surga itu seperti itu dan neraka itu seperti itu. Misalnya, dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah duduk bersama para sahabat, tiba-tiba terdengar suara keras benda jatuh. Nabi bertanya: “Tahu tidak kamu apa suara yang tadi bunyi itu?” “Itu suara batu dilemparkan ke dalam api neraka selama 70 tahun baru terdengar.” Begitu dalamnya neraka tersebut. Orang itu ketika mendengar penjelasan Nabi ﷺ, saking yakinnya, ia melihat surga dan neraka seperti melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Cerita Kelima: Haiwah Ibnu Syuraih
Kisah ini dibawakan di dalam kitab Tazkiratul Huffazh. Haiwah Ibnu Syuraih adalah seorang ahli fikih, ahli hadis, dan orang yang terkenal dengan kezuhudannya. Beliau biasa mendapatkan gaji dari negara (Baitul Mal) sebanyak 60 dinar setiap tahunnya. Namun, uang itu tidak sampai ke rumahnya, justru ia bagi-bagikan di jalan kepada orang yang membutuhkan. Allah ﷺ menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa setiap apa yang kita infakkan, Allah yang akan menggantinya. Demikian pula dalam hadis, setiap pagi ada dua malaikat berdoa: “Allahumma atimunfikan khalafa (Ya Allah, gantilah harta orang yang berinfak).”
Suatu ketika, sepupu Haiwah Ibnu Syuraih menirunya. Setiap mendapatkan uang, ia bagi-bagikan, tapi ketika pulang ke rumah, dilihat di bawah kasur, tidak ada uang pengganti. Ia datang kepada Haiwah Ibnu Syuraih dan bertanya: “Kok saya tidak seperti Anda? Anda setiap sedekah, pulang ke rumah dapat, kok saya tidak?” Haiwah menjawab: “Aku memberikan itu untuk Allah, disertai dengan keyakinan bahwa Allah akan menggantikannya. Sementara Anda bersedekah karena pengalaman saya, bukan karena keyakinan.”
Ada cerita nyata di Saudi Arabia, seorang fakir yang meskipun miskin, tidak menghalangi dirinya menyisihkan setiap uang yang dia miliki, misalnya 500 perak setiap hari, dan setelah sebulan ia berikan kepada orang yang membutuhkan. Setelah sekian lama, orang yang bercerita ini mendapati orang fakir itu sudah pindah ke tempat lain dan Allah berikan kelapangan dalam kehidupan dunianya. Sebagian orang menirunya, bersedekah, tapi tidak ada perubahan. Karena orang fakir itu melakukan dengan keyakinan pasti Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih, sementara orang lain melakukannya karena pengalaman, bukan karena keyakinan.
Cerita Keenam: Diskusi tentang Fakir dan Kaya
Suatu hari, orang-orang zuhud berkumpul, ada Hudzaifah Al-Mar’asy, Sulaiman Al-Khawas, dan Yusuf Ibnu Asbat. Mereka berdiskusi tentang kefakiran dan kekayaan, sementara Sulaiman Al-Khawas diam mendengarkan. Sebagian di antara mereka berkata bahwa orang kaya adalah orang yang punya rumah yang bisa menaunginya, punya pakaian yang bisa menutupi auratnya, dan punya bekal hidup yang cukup, sehingga ia tidak minta-minta kepada orang lain. Adapula yang mengatakan orang kaya adalah orang yang tidak butuh kepada manusia.
Kemudian mereka bertanya kepada Sulaiman Al-Khawas: “Menurutmu, orang yang kaya itu bagaimana?” Beliau tiba-tiba menangis, lalu berkata: “Aku melihat bahwa sesuatu yang terkumpul padanya kekayaan itu adalah tawakal. Orang yang tawakal pasti kaya. Dan aku melihat bahwa inti daripada keburukan adalah putus asa.” Adapun orang yang kaya yang betul-betul kaya adalah orang yang Allah tenangkan hatinya karena kekayaan dengan keyakinan. Orang yang yakin pasti Allah akan menolongnya, apalagi dia menolong agama Allah. “In tanshuruullaha yanshurkum” (Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu).
Guru Ustadz Beni sering mengajarkan dakwah ikhlas karena Allah. Jika kita menolong agama Allah, mendakwahkan tauhid, menebarkan sunnah, Allah pasti menolong kita. Oleh karena itu, jangan minta-minta kepada manusia, kita punya izzah, harga diri sebagai ahlul ilmi. Pasti Allah akan menolong kita, bahkan Allah akan menggerakkan hati mereka agar betul-betul mereka pun ingin ikut serta dalam menolong agama Allah Rabbul Alamin. Namun, tetap harus mengajarkan kepada mereka bahwa ini adalah kewajiban seluruhnya, bukan hanya kewajiban kita.
Jadi, orang yang betul-betul kaya adalah orang yang hatinya ditenangkan oleh Allah dengan keyakinan, karena makrifatnya kepada Allah dengan tawakalnya. Orang yang kenal kepada Allah pasti tawakal. Tawakal itu artinya hati yang bersandar kepada Allah secara jujur dalam rangka mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan, baik terkait urusan dunia maupun akhirat. Bagaimana tidak tawakal kepada Allah? Tidak ada yang lebih sayang kepada kita melebihi sayangnya Allah kepada kita. Tidak ada yang lebih mampu untuk mencukupi kebutuhan kita daripada Allah Rabbul Alamin. Dan Allah Maha Tahu kapan tepatnya kita mendapatkan apa yang kita inginkan, bahkan jika kita dapatkan itu membahayakan kita. Maka kita harus berhusnudzon kepada Allah. Ini pun dinyatakan oleh Allah dalam sebuah Hadis Qudsi: “Aku sesuai dengan prasangka hambaku kepadaku.”
Allah tenangkan hatinya karena dia betul-betul ridho dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Itulah orang-orang yang benar-benar kaya, walaupun di sore hari dalam keadaan lapar, di pagi hari dalam keadaan pincang. Itulah orang-orang yang kaya. Semua yang mendengar penjelasan Sulaiman Al-Khawas menangis, menyadari bahwa itu yang sebenarnya orang kaya.
Nabi ﷺ bersabda: “Kekayaan bukan karena banyaknya harta.” Banyak orang kaya hartanya melimpah, tapi hidupnya ruwet (benang kusut). Tapi banyak juga kita saksikan orang yang kehidupannya sederhana, tapi Masya Allah, sepertinya tidak ada masalah hidupnya. Mereka pergi ke kajian, orang-orang biasa, kadang-kadang orang yang ngaji datang ke majelis ilmu itu bukan orang-orang yang kaya yang sebenarnya (secara harta). Kadang orang yang fakir itu punya makan di pagi hari, sementara untuk sore hari belum ada, harusnya dia yang lebih memikirkan, tapi tidak, dia pikirkan penting saya bisa ngaji. Masya Allah.
Jadi, bisa juga kita buat sebuah kalimat: “Orang yang kaya itu adalah orang yang diberikan kesempatan oleh Allah untuk banyak berbuat baik, di antaranya ngaji.” Di majelis ilmu itulah sesungguhnya kekayaan, di situlah sesungguhnya ketenangan. Kata Nabi ﷺ: “Tidaklah satu kaum mereka berkumpul di rumah di antara rumah-rumah Allah, mereka membaca Al-Qur'an, mengkaji isi kandungan Al-Qur'an, kecuali akan turun kepada mereka Sakinah (ketenangan), diliputi dengan rahmat kasih sayang Allah, kemudian dikelilingi oleh para malaikat, kemudian nama-nama mereka akan disebut oleh Allah di kalangan makhluk Allah yang ada di langit, di kalangan para malaikat.”
Tanya Jawab:
Q: Bagaimana sikap kita ketika menasehati orang dekat tapi dijawab dengan kurang baik, seperti tidak mau dengar, tidak peduli, kadang marah atau mengejek?
A: Jika kita masih terganggu dengan sikap yang kurang baik dari orang yang kita nasehati, itu menunjukkan kadar keikhlasan kita yang tipis. Orang yang ikhlas sama sekali tidak mengharapkan balasan, juga ucapan terima kasih. Yang penting kita sampaikan nasehat yang baik. Ada yang menerima, Alhamdulillah, tidak menerima juga bukan urusan kami dari Allah. Janganlah merasa terganggu dengan sikap orang yang kita nasehati. Yang penting kita menyampaikan kewajiban kita sebagai orang yang tahu untuk menasehati orang yang berlaku salah. Sesudahnya kita berdoa kepada Allah semoga Allah memberikan hidayah untuknya. Pahala kita tidak akan hilang.
Q: Apakah berpakaian untuk laki-laki harus di atas mata kaki itu di dalam salat saja atau sehari-hari juga?
A: Baginda Nabi ﷺ menjelaskan dalam banyak hadis tentang hukum isbal (melebihkan pakaian dari mata kaki). Di antaranya kata Nabi ﷺ: “Ma asfalal Ka'bah...” (Apa yang melebihi mata kaki, neraka bagiannya). Hadis ini umum, baik di dalam salat ataupun di luar salat. Bahkan hadis yang mengkhususkan isbal hanya di dalam salat itu tidak ada. Jadi, isbal atau melabuhkan pakaian melebihi mata kaki berlaku di dalam salat maupun di luar salat.
Q: Hukumnya untuk jual rokok bagaimana Ustaz?
A: Hukum menjual rokok kembali kepada hukum rokok itu sendiri. Hukum rokok sebenarnya dijelaskan oleh bungkus rokok itu sendiri. Coba baca saja, “Rokok membunuh.” Bahkan ada gambarnya. Allah berfirman: “Walatulkum...” (Jangan kau hancurkan dirimu dengan tanganmu sendiri). Kata “rokok membunuh” berarti setiap orang yang merokok membunuh dirinya sendiri. Dan Allah menegaskan jangan kau hancurkan dirimu dengan tanganmu sendiri. Maka para ulama mengatakan rokok itu haram. Orang yang mengatakan rokok itu tidak haram, suruh baca bungkus rokok. Kata rokok, tidak ada produk yang lebih jujur daripada rokok. Kalau orang mengatakan tidak ada hadis atau Al-Qur'an yang mengharamkan rokok, memang tidak ada karena zaman Nabi ﷺ tidak ada rokok. Jadi jelas ayatnya: “Jangan kau hancurkan dirimu sendiri dengan tanganmu sendiri.” Sementara rokok itu sendiri, tanya saja ahli kesehatan, bagaimana dampaknya untuk kesehatan. Wallahualam, berarti menjualnya juga haram. Ketika Allah mengharamkan sesuatu, maka mengharamkan pula uang yang diberikan untuknya, nilainya haram.
Q: Mohon penjelasannya mengenai zakat mal, kapan dikeluarkannya?
A: Zakat mal adalah salah satu bentuk zakat. Secara umum, zakat itu ada dua: zakat fitri dan zakat mal. Kalau zakat fitri kewajibannya atas badan kita, kalau zakat mal atas harta kita. Zakat mal itu pembagiannya banyak juga, termasuk di dalamnya nanti zakat uang, zakat perak, zakat emas, zakat hasil bumi dan seterusnya. Tapi secara umum ada beberapa syarat wajib zakat: pertama, nishab (harus mencapai nilai minimal wajib zakat). Yang kedua, harus haul, yaitu genap satu tahun. Artinya, nilai tersebut harus dimiliki dalam satu tahun. Baru setelah itu, kalau sudah satu tahun, dia mengeluarkan zakatnya. Jadi, kalau uangnya tidak sampai nishab, itu tidak wajib zakat.
Q: Mohon pengertiannya hukum membuka usaha salon kecantikan khusus perempuan?
A: Pertama, ini bab muamalah, hukum asal muamalah itu adalah boleh. Sekarang, hukum buka usaha rias khusus wanita, selama praktik-praktik yang di dalamnya tidak ada sesuatu yang melanggar syariat, maka tidak masalah, masuk ke dalam hal yang wajar. Misalnya, ada seorang wanita yang mau menikah, lalu dihias sewajarnya, tidak masalah. Tapi dengan syarat tadi, praktik yang di dalamnya tidak ada yang melanggar syariat Allah.
Q: Afwan Ustaz, mau tanya, apakah jasad seorang muslim yang sudah dikubur lama dan kebetulan dibongkar terus jasadnya masih utuh, apakah itu tanda orang tersebut dapat jaminan surga dari Allah?
A: Tidak ada pernyataan secara tegas demikian. Wallahualam, tapi kita hanya berharap saja ya, semoga itu menjadi tanda kebaikan bagi diri. Tapi kalau memastikan, saya tidak tahu adanya dalil tentang hal itu. Kadang-kadang memang masyarakat itu membuat cerita-cerita, bagaimana wangi-wangi, ternyata di sampingnya ada orang pakai banyak wangi. Atau ada cerita lain, jadi ada seseorang menceritakan tentang salah seorang ustadnya, ketika Ustadz Fulan meninggal, ada burung indah nungguin segala, lalu disambung-sambungkan bahwa dia husnul khotimah. Mana dalilnya? Ini perkara yang gaib, kita tidak tahu, apalagi memastikan si fulan ahli surga, tidak boleh itu. Termasuk Al-Qaul alallah, mengatakan sesuatu tentang perkara gaib, atau mendahului Allah dan mendahului Rasul-Nya. Maka dalam bab pembahasan akidah ada pasal yang menjelaskan tidak boleh kita menyatakan seseorang sebagai ahli surga kecuali ada dalil, sebagaimana kita tidak boleh mengatakan seseorang sebagai penghuni neraka kecuali ada dalilnya. Kita hanya bisa berdoa semoga Fulan menjadi ahli surga, begitu saja.
Q: Mengenai mendahulukan kaki kanan dan kaki kiri saat masuk dan keluar masjid, itu mulai dari teras masjid atau pintunya?
A: Mulai dari teras masjid, karena teras masjid diikutkan ke dalam masjid. Yang dimaksud dengan teras masjid itu adalah sesuatu yang sedikit nempel ke dalam masjid, bukan sesuatu yang lapang seperti pelataran. Nah, kalau itu ukurannya teras yang dekat pintu masjid itu sesuatu yang diikutkan ke dalam masjid, atau istilah para ulama mulhaq (diikutkan). Karena diikutkan, maka aturan yang berlaku di dalam masjid pun berlaku di situ. Sebagaimana di dalam masjid tidak boleh melakukan akad jual beli, maka di apa namanya ya, sesuatu yang ikutnya ke dalam masjid, nempel ke masjid, di situ pun tidak boleh melakukan akad jual beli. Wallahualam.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Agama itu mudah, cukup ikuti sunnah Nabi ﷺ dan para sahabat.
- Nikmat terbesar adalah kesempatan menuntut ilmu agama.
- Jannatuddunya (surganya dunia) ada di dalam hati seorang mukmin.
- Kaya sejati adalah kayanya hati, bukan banyaknya harta.
- Kisah wanita dari Bani Dinar menunjukkan keyakinan bahwa musibah apapun ringan selama tidak menimpa agama (Nabi ﷺ).
- Wafatnya Nabi ﷺ adalah musibah terbesar bagi umat.
- Kisah Ummu Haritsah mengajarkan untuk berharap surga Firdaus (surga tertinggi) saat berdoa kepada Allah.
- Ada tiga tingkatan yakin: ilmu yakin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.
- Orang yang yakin sepenuhnya, amal ibadahnya terasa ringan dan nikmat.
- Kenikmatan pertama yang Allah berikan kepada hamba yang taat adalah kenikmatan dalam ibadah itu sendiri.
- Allah adalah Asy-Syakur (Maha Berterima Kasih), pasti membalas setiap kebaikan.
- Iman yang kuat membuat seseorang melihat kebenaran (surga dan neraka) seolah nyata.
- Kisah Haiwah Ibnu Syuraih mengajarkan pentingnya sedekah dengan keyakinan penuh kepada janji Allah, bukan hanya karena pengalaman.
- Kaya sejati adalah orang yang hatinya tenang dengan keyakinan dan tawakal kepada Allah.
- Jika menolong agama Allah, Allah pasti akan menolong hamba-Nya.
- Tawakal adalah hati yang bersandar kepada Allah secara jujur.
- Sikap saat menasehati orang lain harus ikhlas, tidak terganggu oleh penolakan atau ejekan, dan tetap mendoakan hidayah.
- Hukum isbal (pakaian di bawah mata kaki) berlaku umum, baik di dalam maupun di luar salat.
- Hukum rokok adalah haram berdasarkan dalil kerusakan diri dan penjelasan para ulama; menjualnya juga haram.
- Syarat wajib zakat mal adalah mencapai nisab dan haul (dimiliki selama satu tahun).
- Usaha salon kecantikan khusus wanita boleh, selama praktiknya tidak melanggar syariat.
- Jasad yang utuh setelah dikubur lama bukan jaminan surga, karena perkara gaib tidak boleh dipastikan tanpa dalil shahih.
- Mendahulukan kaki kanan saat masuk masjid dimulai dari teras yang menjadi bagian (mulhaq) dari masjid.
- Majelis ilmu adalah sumber kekayaan, ketenangan, rahmat Allah, dan tempat nama-nama disebut di langit.