Kematian Bukanlah Perpisahan Selamanya
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
khutbah-jumat-kematian-bukanlah-perpisahan-selamanya-sofyan.mp3
Alhamdulillah, nahmaduhu wanasta'inuhu wanastaghfiruh wa na'udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyiati a'malina. Mayyahdillahu fala mudhilla lah, wa mayyudlil fala hadiya lah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh. Shallallahu alaihi wa ala alihi wa shahbihi ajma'in wa man tabi'ahum bi ihsanin ilaa yaumiddin.
Ya ayyuhalladzina amanu ittaqullaha haqqa tuqatihi wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhan nasuttaqu rabbakumulladzi khalaqakum min nafsin wahidah wa khalaqa minha zaujaha wa batssa minhuma rijalan katsiran wa nisa'a. Wattaqullahalladzi tasa'aluna bihi wal arham. Innallaha kana alaikum raqiba. Ya ayyuhalladzina amanu ittaqullaha wa qulu qaulan sadida yushlih lakum a'malakum wa yaghfir lakum dzunubakum. Wa man yuti'illaha wa rasulahu faqad faza fauzan azima. Amma ba'd.
Jamaah shalat Jumat kaum muslimin yang saya cintai dan saya muliakan, rahimani wa rahimakumullah. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada kita sekalian. Sesungguhnya dalam hidup ini, kita mesti menghadapi berbagai macam musibah dan malapetaka sebagai ujian dan cobaan bagi kita. Dan di balik ujian ada kebaikan-kebaikan yang melimpah. Maka pandanglah musibah, pandanglah bencana, pandanglah sesuatu yang tidak menyenangkan dalam hidup kita dari sisi kebaikannya, jangan hanya melihat dari sisi keburukannya saja. Kekurangan harta kita, sakitnya jasad kita, sakitnya orang-orang yang kita cintai, bahkan meninggal dunia, pandanglah itu semua dari sisi kebaikannya, jangan hanya melihat keburukannya. Sesungguhnya kebaikannya jauh lebih banyak bagi orang-orang yang beriman. Apabila ditimpa musibah, sesungguhnya kebaikan yang ada di balik musibah itu jauh lebih banyak karena sayangnya Allah kepada kita. Allah menganugrahkan rahmat-Nya bukan hanya dalam kenikmatan, tapi juga dalam musibah yang menimpa kita. Ada rahmat Allah kalau kita hadapi dengan sikap yang benar.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan: “Sungguh benar-benar Kami akan menguji kalian, Kami akan timpakan kepada kalian balak, yaitu sedikit saja rasa takut, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, dan tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, maka mereka mengucapkan ‘Sesungguhnya kami ini milik Allah dan kami akan kembali kepada Allah.’ Maka orang-orang sabar menghadapi musibah itu akan mendapatkan shalawat dari Allah, rahmat-Nya, dan merekalah yang akan mendapatkan hidayah.”
Perhatikanlah jamaah sekalian ayat-ayat yang mulia ini. Empat keutamaan yang Allah akan berikan kalau kita hadapi musibah dengan kesabaran:
- Pahala Melimpah. Maksudnya, mereka akan mendapatkan pahala yang melimpah. Allah mengatakan, “Hanyalah pahala orang-orang yang sabar itu yang tanpa terhitung.” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga menegaskan, “Sesungguhnya besarnya pahala kita tergantung pada besarnya musibah. Makin besar musibah kita, makin besar pula kesabaran kita, maka pahala semakin melimpah.” Dan sesungguhnya Allah, kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, apabila mencintai satu kaum, maka Allah akan timpakan kepada mereka balak. Kalau mereka ridha, Allah pun ridha kepada mereka. Tapi kalau mereka marah, mereka tidak senang dengan ketentuan Allah, maka Allah pun murka kepada mereka. Jadi, jangan marah-marah dengan adanya musibah, wabah yang melanda kita. Siapa yang ridha dengan takdir, Allah pun ridha kepadanya. Tapi siapa yang marah, Allah pun marah kepadanya.
- Ampunan Dosa. Kata Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, shalawat Allah kepada hamba artinya Allah mengampuni dan memaafkan dosa-dosanya. Jadi, di balik musibah ada ampunan atas dosa-dosa kita. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga menegaskan, “Tidak ada satu musibah pun yang menimpa seorang muslim kecuali itu akan menjadi penghapus dosa-dosanya, walaupun hanya duri kecil yang menusuknya.”
- Rahmat Allah dan Surga. Orang-orang yang sabar menghadapi musibah itu akan mendapatkan rahmat Allah, yaitu mereka dicurahkan berbagai macam kebaikan, dan di akhirat mereka akan dimasukkan ke dalam surga. Dalam sebuah hadits qudsi, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman kepada para malaikat-Nya: “Bangunkan untuk hamba-Ku tersebut sebuah rumah di surga dan namakan rumah itu sebagai rumah al-Hamdu.” Artinya, Allah Maha terpuji, Allah layak dipuji ketika Allah menimpakan musibah kepada kita, bukan hanya ketika Allah memberikan nikmat kepada kita. Allah masih sangat layak untuk dipuji. Oleh karena itu, ucapan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam apabila mendapatkan nikmat: “Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat.” (Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nya menjadi sempurna kebaikan-kebaikan). Dan apabila ditimpa musibah, beliau mengucapkan: “Alhamdulillah ala kulli hal.” (Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan). Maka Allah pantas dipuji dalam setiap keadaan, karena di balik musibah itu ada berbagai macam kebaikan untuk kita.
- Hidayah. Dan merekalah yang akan mendapatkan hidayah. Kematian bukanlah perpisahan selamanya. Kematian itu hanyalah perpisahan sementara dalam waktu yang sangat singkat di dunia ini, untuk kemudian kita akan berjumpa selama-lamanya bagi orang-orang yang beriman. Mereka kelak akan berjumpa dalam keadaan yang lebih baik, yaitu di surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Allah berfirman: “Surga-surga 'Adn yang akan dimasuki oleh orang-orang yang beriman bersama dengan orang tua mereka, istri-istri mereka, dan anak-cucu mereka.” Perjumpaan yang sangat berbahagia untuk selama-lamanya, tidak akan terpisah lagi. Dunia ini sementara, maka hendaklah perjumpaan yang harus lebih kita dambakan adalah di surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam keadaan mendapatkan nikmat yang sangat besar dan kekal abadi. Tapi Allah memberikan syarat perjumpaan di surga hanya bagi orang-orang yang beriman.
Hanya bagi orang-orang yang layak masuk surga, sebagaimana juga di ayat yang lain kata Allah: “Orang-orang yang beriman dan diikuti oleh anak keturunan mereka dalam keimanan, maka Kami akan satukan kelak mereka di surga dan Kami tidak akan mengurangi pahala mereka sedikit pun. Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang dia kerjakan.” Inilah yang kita harapkan sebagai orang yang beriman, berjumpa kembali dengan orang tua dan sahabat-sahabat yang kita cintai yang telah wafat mendahului kita di surga Allah. Tapi syaratnya harus ada keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Oleh karena itu, yang terpenting dalam hidup kita adalah bertaqwa kepada Allah dan jangan sekali-kali kita pergi meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan sebagai orang yang beriman. Karena itulah penentuan beriman atau tidak, yaitu di akhir hayat kita. Allah menegaskan: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya dan jangan sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai seorang muslim.” Karena orang yang bukan muslim, yang tidak beriman kepada Allah, tidak mungkin selamat. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan orang-orang musyrikin, semua yang menyembah kepada selain Allah, tempat mereka di neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.”
Walaupun mereka punya keluarga orang beriman, mereka tidak mungkin berjumpa di surga. Anak Nabi Nuh Alaihissalam yang tidak mau beriman tidak bisa masuk ke surga bersama beliau. Ayah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang tidak mau beriman tidak bisa masuk di surga bersama beliau. Paman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak beriman tidak bisa masuk ke surga bersama beliau. Jadi, syarat kita berjumpa kembali dengan keluarga kita di surga adalah kita masih punya keimanan. Walaupun mungkin kita banyak dosa dan ditetapkan masuk neraka, tapi selama kita masih punya keimanan, kita masih mungkin selamat, masih mungkin diampuni oleh Allah. Adapun orang-orang yang tidak punya keimanan, tidak akan selamat sama sekali.
Selama kita masih punya keimanan, walaupun kita banyak dosa, kita masih mungkin mendapatkan syafaat, di antaranya syafaat dari keluarga, syafaat anak untuk orang tua, syafaat orang tua untuk anak, syafaat teman-teman dekat. Sebagaimana Allah berfirman tentang ucapan orang-orang musyrik kelak di hari kiamat: “Tidak ada yang bisa memberi syafaat, tidak pula sahabat dekat yang dapat menolong kami.” Maksud ayat ini, orang-orang musyrik tidak bisa diberi syafaat walaupun oleh teman dekatnya, walaupun oleh keluarga dekatnya. Maka itu bermakna sebaliknya kata para ulama, orang-orang beriman dapat syafaat. Orang-orang yang beriman bisa mendapatkan syafaat dari keluarga dekat atau teman-teman dekatnya. Oleh karena itu, jangan sekali-kali kita mati kecuali di atas Islam, di atas iman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wasallam.
Ikhwani fiddin, jamaah shalat Jumat kaum muslimin yang saya cintai dan saya muliakan, rahimahullah. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada kita sekalian. Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, orang-orang yang tidak menyembah hanya kepada Allah dan tidak mau mengikuti Rasul-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, tidak pula mau mengikuti agama Islam, kelak di hari kiamat mereka akan menjadi saling bermusuhan. Mereka juga berjumpa, tapi dalam keadaan yang terburuk. Mereka saling memusuhi, melaknat dan menyalahkan antara satu dengan yang lainnya dalam keadaan mendapatkan azab yang sangat pedih.
Di antaranya dalam ucapan Nabi Ibrahim Alaihissalam, Allah berfirman: “Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah sebagai Tuhan-Tuhan kalian, berhala-berhala, patung-patung, makhluk apapun yang kalian anggap sebagai sesembahan selain Allah, untuk memunculkan kecintaan di antara kalian di kehidupan dunia. Kemudian kelak pada hari kiamat, apa yang terjadi di antara kalian? Satu dengan yang lainnya saling menyalahkan. Orang-orang yang dulu mengajak mereka menyembah kepada selain Allah menyalahkan pengikutnya. Pengikutnya menyalahkan yang mengajaknya, tokoh-tokoh agama mereka disalahkan oleh pengikutnya. Dan sebagian kalian melaknat sebagian yang lain. Dan tempat kalian adalah neraka. Dan tidak ada yang bisa menolong kalian, tidak ada yang bisa memberi syafaat kepada kalian.” Di ayat yang lain Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga menegaskan: “Orang-orang yang saling mencintai, yang punya hubungan dekat kelak di hari kiamat menjadi saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa.” Maka berdasarkan ayat ini, semua hubungan kasih sayang, semua hubungan baik yang dibangun di atas perbuatan dosa, perbuatan menentang syariat Allah akan berakhir dengan permusuhan di akhirat kelak. Hanya satu cinta yang akan bertahan, cinta yang dibangun di atas dasar iman dan takwa kepada Allah.
Maka, jika kita ingin berjumpa dengan orang-orang yang kita cintai yang sudah pergi meninggalkan kita, jadilah orang yang beriman dan bertakwa, dan doakan terus orang-orang yang kita cintai tersebut agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka, agar Allah merahmati mereka. Ketahuilah, Allah hanya akan mengampuni kalau dia masih muslim, walaupun dulu di dunia kita kenal ada banyak dosa dia kerjakan, dia masih punya hak untuk kita doakan, dan mungkin dia diampuni dengan sebab doa kita, terutama doa anak yang sholeh. Walaupun hanya teman, kalau kita doakan bisa jadi Allah mengampuni dia walaupun dulu di dunia dia orang yang mungkin banyak dosa, selama dia masih muslim.
Namun, kalau dia telah mempersekutukan Allah, mati di atas kekufuran, Allah melarang kita mendoakannya. Allah berfirman: “Tidak pantas bagi Nabi dan bagi orang-orang yang beriman untuk mendoakan, memohonkan ampun bagi orang musyrik, walaupun kerabat dekat.” Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni syirik, dosa menyembah kepada selain Allah, menduakan Allah, mempersekutukan Allah. Dan Allah akan mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Maka jangan lupakan, doakan ampunan, doakan kebaikan untuk keluarga dan sahabat-sahabat kita yang telah wafat mendahului kita. Dan semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya yang penuh kenikmatan dan dilindungi dari api neraka. Allahumma sholli Alaa Muhammad wa'alaa aali Muhammad kamaa shollaita Alaa Ibrahim wa ala aali Ibrahim innaka hamidum Majid. Allahumma Firli muslimina wal muslimat wal mukminina wal mukminat Al ahyai minhum Wal amwat. Rabbana Atina Fid dunya Hasanah wafil akhiroti hassanah wa qina Adza Bannar. Wa Shallallahu Ala nabiyyina Muhammadin wa alihi wasallam wa akhiru da'wana Anil hamdulillahi rabbil alamin.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Musibah adalah ujian dari Allah yang di baliknya terkandung kebaikan melimpah bagi orang beriman.
- Empat keutamaan bagi orang yang sabar menghadapi musibah: pahala melimpah, ampunan dosa, rahmat Allah dan surga, serta hidayah.
- Kematian bukanlah perpisahan abadi, melainkan perpisahan sementara bagi orang beriman yang kelak akan bersatu di surga.
- Syarat utama perjumpaan di surga adalah memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
- Orang yang tidak beriman (kafir dan musyrik) tidak akan selamat dan tidak dapat bersatu dengan keluarga beriman di surga, bahkan saling bermusuhan di akhirat.
- Syafaat hanya diberikan kepada orang beriman, termasuk syafaat dari keluarga dan teman dekat.
- Allah melarang mendoakan ampunan bagi orang yang meninggal dalam keadaan syirik atau kekufuran, karena dosa syirik tidak diampuni.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Pandanglah musibah, pandanglah bencana, pandanglah sesuatu yang tidak menyenangkan dalam hidup kita dari sisi kebaikannya, jangan hanya melihat dari sisi keburukannya saja."
"Sesungguhnya besarnya pahala kita tergantung pada besarnya musibah."
"Kematian itu hanyalah perpisahan sementara dalam waktu yang sangat singkat di dunia ini, untuk kemudian kita akan berjumpa selama-lamanya bagi orang-orang yang beriman."