Manajemen Keuangan Rumah Tangga

Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi M.A.
16 April 2026 • 2 VIEWS YOUTUBE SOURCE WHATSAPP SHARE

Banyak prahara rumah tangga yang bermula dari masalah finansial, bukan karena kurangnya jumlah materi, melainkan karena salahnya pengelolaan dan hilangnya keberkahan. Dalam kajian yang sangat praktis dan berlandaskan syariat ini, Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi membedah bagaimana mengatur ekonomi keluarga agar menjadi wasilah ketenangan dan tabungan akhirat.

Kewajiban Nafkah dan Skala Prioritas

Seorang suami adalah penanggung jawab utama dalam urusan nafkah. Beliau menjelaskan bahwa nafkah harus diberikan dari harta yang halal dan thoyyib. Skala prioritas dalam belanja keluarga harus dimulai dari kebutuhan pokok (dharuriyat), baru kemudian kebutuhan sekunder (hajiyat), dan terakhir adalah kelapangan (tahsiniyat). Beliau mengingatkan agar para istri tidak menuntut di luar kemampuan suami, dan para suami tidak bersikap bakhil terhadap keluarganya sendiri.

Menjauhkan Rumah dari Jeratan Riba

Salah satu penghancur keberkahan rumah tangga adalah masuknya unsur riba, baik melalui cicilan barang, pinjaman bank konvensional, maupun gaya hidup yang dipaksakan melalui hutang. Beliau menekankan bahwa hidup sederhana tanpa hutang jauh lebih mulia dan menenangkan daripada hidup mewah namun dikejar-kejar bunga riba. Rumah yang dibangun di atas pondasi riba tidak akan pernah merasakan kedamaian yang hakiki, karena Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang terhadap riba.

Pencatatan dan Keterbukaan Keuangan

Islam menganjurkan adanya pencatatan dalam setiap urusan hutang piutang dan transaksi. Beliau memberikan tips agar ada keterbukaan antara suami dan istri dalam masalah keuangan untuk menghindari syak wasangka (prasangka buruk). Istri harus amanah dalam menjaga harta suami, dan suami harus bijak dalam mengalokasikan dana untuk masa depan anak-anak, zakat, serta sedekah jariyah. Perencanaan yang matang adalah bagian dari ikhtiar syar'i.

Menanam Investasi Akhirat

Sebagai penutup, beliau mengingatkan bahwa tujuan akhir dari manajemen keuangan rumah tangga adalah agar seluruh anggota keluarga masuk surga bersama-sama. Jangan sampai harta dunia justru memecah belah ukhuwah di dalam rumah. Harta yang berkah adalah harta yang membuat pemiliknya semakin gemar beribadah dan peduli kepada sesama. Mari kita audit kembali sumber dan pengeluaran harta kita, pastikan tidak ada hak orang lain yang terzalimi di dalamnya.

POINTERS & CONCLUSIONS

DALIL & REFERENCES

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ
"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya."
— QS. At-Talaq: 7 • REFERENCE LINK
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
"Cukuplah seseorang itu berdosa jika dia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggung jawab nafkahnya."
— HR. Abu Dawud no. 1692 • REFERENCE LINK

KATA BIJAK UNTUK STATUS

"Jangan biarkan satu rupiah pun harta haram masuk ke perut anak istrimu, karena ia akan memadamkan cahaya ketaatan di dalam rumahmu."

WHATSAPP

"Keberkahan bukan terletak pada banyaknya angka, tapi pada rasa cukup dan ketenangan batin yang Allah berikan."

WHATSAPP

"Lebih baik makan dengan garam namun halal, daripada makan mewah namun dari hasil riba yang terlaknat."

WHATSAPP