Makna Kalimat Tauhid

Ustadz Beni Sarbeni Lc. M.Pd.
16 April 2026 • 2 VIEWS YOUTUBE SOURCE WHATSAPP SHARE

DENGARKAN AUDIO KAJIAN

live-makna-kalimat-tauhid-beni.mp3

DOWNLOAD

Islam adalah agama yang berdasarkan dalil, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah, bukan agama yang mengikuti hawa nafsu atau ikut-ikutan. Oleh karena itu, seorang muslim wajib berilmu sebelum berucap dan beramal.

Kita wajib senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah limpahkan, karena tidak ada seorang pun yang mampu menghitung nikmat-Nya. Setiap nikmat bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat tersebut, sebagaimana firman-Nya, "Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu."

Kajian ini melanjutkan pembahasan tentang makna Lailahaillallah, kalimat tauhid yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Kalimat ini merupakan cabang keimanan paling tinggi, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

Selain itu, Lailahaillallah adalah kunci surga. Barangsiapa yang mengakhiri hidupnya dengan mengucapkan kalimat ini, dijamin akan masuk surga, sesuai sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: "Barangsiapa yang akhir ucapannya (di dunia) adalah Lailahaillallah, niscaya ia akan masuk surga." Karena pentingnya kalimat ini, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga memerintahkan untuk mentalqin (membimbing) orang yang sedang sakaratul maut agar mengucapkannya: "Bimbinglah orang yang akan mati di antara kalian untuk mengucapkan Lailahaillallah." Kalimat tauhid ini juga merupakan pembatas antara seorang mukmin dengan orang kafir.

Makna Lailahaillallah harus dipahami dengan benar, terdiri dari dua rukun utama:

  1. Nafi (peniadaan): Bagian "La ilaha" berarti tidak ada yang berhak diibadahi atau disembah. Ini adalah penafian dan pembatalan terhadap segala bentuk peribadatan kepada selain Allah.
  2. Itsbat (penetapan): Bagian "Illallah" berarti kecuali Allah. Ini adalah penetapan bahwa ibadah itu hanya untuk Allah Rabbul Alamin semata.

Terdapat kekeliruan dalam pemaknaan Lailahaillallah oleh sebagian kelompok dalam Islam, seperti Ahlul Kalam, yang menafsirkannya sebagai "La Rabba Illallah" (tidak ada pencipta kecuali Allah). Pemaknaan ini tidak tepat karena keyakinan bahwa hanya Allah-lah pencipta alam semesta juga dimiliki oleh orang-orang kafir jahiliyah, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Thalib, namun keyakinan tersebut tidak menjadikan mereka seorang mukmin atau muslim. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Luqman (31:25), "Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' niscaya mereka menjawab, 'Allah'."

Inti dari kalimat tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah, bukan sekadar meyakini-Nya sebagai pencipta. Penafsiran yang salah ini berpotensi menjadi dasar bagi aliran pluralisme yang menganggap semua agama benar selama meyakini adanya pencipta. Secara kebahasaan pun, makna "ilah" dapat diartahami sebagai "yang disembah" (Isim Maf'ul), bukan hanya "pencipta" (Isim Fa'il).

Dalil-dalil yang memperkuat makna Lailahaillallah sebagai "La Ma'buda bihaqqin illallah" (tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah) antara lain:

Untuk tetap istiqamah di atas tauhid dan terhindar dari kesyirikan yang tidak disadari, ada beberapa kiat:

  1. Berdoa: Memohon perlindungan kepada Allah dari dosa syirik yang diketahui maupun tidak diketahui, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui."
  2. Belajar: Mengkaji ilmu untuk mengetahui berbagai bentuk kesyirikan. Kitab Kitabut Tauhid karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah salah satu rujukan terbaik.
  3. Memilih teman yang shalih: Lingkungan pertemanan sangat berpengaruh. Seseorang akan mengikuti agama temannya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: "Seseorang itu menurut agama teman dekatnya." Berteman dengan orang yang menjaga akidahnya akan membantu kita untuk ikut menjaga akidah.

POINTERS & CONCLUSIONS

DALIL & REFERENCES

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللّٰهُ
"Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' niscaya mereka menjawab, 'Allah'."
— QS Luqman: 25 • REFERENCE LINK
وَإِذْ قَالَ إِبْرٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦٓ إِنَّنِى بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ ۝ إِلَّا الَّذِى فَطَرَنِى فَإِنَّهُۥ سَيَهْدِينِ
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali dari Zat yang telah menciptakan aku; karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'"
— QS Az-Zukhruf: 26-27 • REFERENCE LINK
وَجَعَلَهَا كَلِمَةًۢ بَاقِيَةً فِى عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Dan dia (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali kepada kalimat tauhid itu."
— QS Az-Zukhruf: 28 • REFERENCE LINK
قُلْ يٰٓأَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا إِلٰى كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّٰهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak ada yang kita sembah kecuali Allah dan kita tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa sebagian dari kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.' Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim (yang berserah diri).'"
— QS Ali Imran: 64 • REFERENCE LINK
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطّٰغُوتَ
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut.'"
— QS An-Nahl: 36 • REFERENCE LINK
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui."
— HR. Ahmad 4/403, Shahih Al-Jami’ 3/233 • REFERENCE LINK

KATA BIJAK UNTUK STATUS

"Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu."

WHATSAPP

"Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, yang paling tingginya adalah ucapan Lailahaillallah."

WHATSAPP

"Iman itu ada enam puluh sekian cabang, yang paling tingginya adalah ucapan Lailahaillallah."

WHATSAPP

"Barangsiapa yang akhir ucapannya (di dunia) adalah Lailahaillallah, niscaya ia akan masuk surga."

WHATSAPP

"Bimbinglah orang yang akan mati di antara kalian untuk mengucapkan Lailahaillallah."

WHATSAPP

"Seseorang itu menurut agama teman dekatnya."

WHATSAPP