Menjadi Manusia Berkah

Ustadz Ammi Nur Baits S.T. B.A.
02 May 2026 • 1 VIEWS • Durasi: 47:46 YOUTUBE SOURCE WHATSAPP SHARE

DENGARKAN AUDIO KAJIAN

menjadi-manusia-berkah-ammi.mp3

DOWNLOAD

Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Pada kesempatan kajian ini, kita akan membahas bagaimana menjadi manusia yang berkah, karena menjadi manusia yang bermanfaat adalah sebuah prestasi yang kita dambakan.

Memberi manfaat berarti memperbaiki, bukan sekadar menjadi figur masyarakat yang pada kenyataannya merusak. Contohnya Firaun dan Abu Jahal, mereka adalah figur besar namun kehadirannya merusak tatanan masyarakat. Ketika ada orang yang datang untuk memperbaiki, justru merekalah yang terdepan melawan, karena itu dianggap menggeser posisi mereka.

Bentuk memperbaiki itu ada dua:

  1. Memperbaiki urusan dunia: Ini adalah tugas mereka yang paham urusan dunia, seperti pejabat yang mengatur pembangunan, tata ruang kota, atau membuka lowongan kerja.
  2. Memperbaiki urusan agama: Sifatnya mengajak manusia untuk kembali kepada agama yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, kembali kepada Al-Qur'an dan ajaran Nabi ﷺ yang mungkin sudah ditinggalkan.

Apabila masyarakat diajak untuk meninggalkan Al-Qur'an dan Hadis Nabi ﷺ, maka hakikatnya yang mengajak ini adalah perusak, karena dia mengajak orang untuk meninggalkan aturan yang diturunkan oleh Allah. Sebagaimana Abu Bakar Ibnu Ayyasy rahimahullah pernah mengatakan (dikutip oleh As-Suyuti dalam Ad-Durrul Mantsur): "Innallaha ta'ala ba'atsa Muhammadan Shallallahu Alaihi Wasallam ila ahlil ardhi wahum fi fasadin fa ashahhumullahu bibi'tsati Muhammadin Shallallahu Alaihi Wasallam." Artinya, Sesungguhnya Allah Ta'ala mengutus Muhammad ﷺ kepada penduduk bumi dalam kondisi mereka sedang rusak, lalu Allah memperbaikinya dengan diutusnya Muhammad ﷺ.

Kerusakan yang dimaksud bukan kerusakan fisik, seperti eksploitasi alam atau pencemaran lingkungan. Kerusakan yang dimaksud adalah kerusakan tatanan sosial, kepribadian, dan agama. Nabi ﷺ tidak memperbaiki fisik seperti membangun Masjidil Haram atau menata ruang kota Makkah, melainkan memperbaiki tatanan sosial, mengembalikan manusia kepada kebaikan melalui ajaran yang benar.

Maka, siapa yang mengajak masyarakat menjauhkan diri dari ajaran Nabi ﷺ, ia adalah perusak. Contohnya, ada orang yang menganggap salat cepat itu biasa saja, padahal Nabi ﷺ menggambarkan salat orang munafik itu cepat. Orang-orang yang merusak ini akan menggembosi pihak-pihak yang berupaya memperbaiki masyarakat.

Banyak orang ingin terkenal atau viral, namun ketenaran itu bukan jaminan bermanfaat. Pertanyaannya, Anda terkenal di posisi mana? Apakah mendekatkan masyarakat kepada ajaran yang benar, ataukah mengajak orang untuk melakukan penyimpangan? Jika ketenaran justru mengajak pada penyimpangan, itu adalah kerusakan.

Dalam surat An-Naml ayat 48, Allah menceritakan tentang kaum Nabi Saleh yang hanya ada sembilan orang perusak di kota tersebut. Masyarakat dominan hanya ikut arus, sehingga mereka yang memiliki kebencian dan ingin menjegal dakwah Nabi Saleh itu diikuti banyak orang. Dosanya orang yang diikuti (pemimpin kesesatan) lebih besar daripada yang mengikuti. Syahwat ingin terkenal memiliki risiko, seperti privasi terganggu dan mudah viral jika melakukan kesalahan. Kunci utamanya adalah bermanfaat, bukan terkenal.

Kata "berkah" memiliki dua makna. Pertama, tumbuh dan berkembang (azziyadah wan nama). Kedua, menetap dan tidak berubah (al-istiqrar wad-dawam). Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arab menjelaskan bahwa kata berkah diambil dari kata barika (unta menderum dan menetap) serta birkah (sumur yang menghasilkan kebaikan terus-menerus dan tidak pernah habis). Jadi, berkah secara makna bahasa adalah sesuatu yang selalu memberikan kebaikan secara terus-menerus, tidak berhenti sesaat. Orang yang berkah adalah orang yang memberikan kebaikan secara berkelanjutan, seperti pendidikan yang terus-menerus.

Ibnu Abbas mendefinisikan ulama Rabbani sebagai orang yang mengajarkan ilmu dari yang mudah sebelum yang susah, secara bertahap. Oleh karena itu, jangan menganggap remeh pelajaran dasar karena "sudah sering dengar", sebab ada tahapan ilmu yang lebih sulit yang tidak akan bisa dipahami tanpa menguasai dasar.

Sumber berkah adalah Allah Azza wa Jalla. Dialah Zat yang Maha Memberikan kebaikan bagi seluruh makhluk-Nya. Maka sebagian makhluk-Nya bisa memberikan kebaikan karena Allah yang memberikannya. Pujian "Tabaroka" hanya boleh diberikan kepada Allah, sedangkan makhluk bisa dikatakan "Mubarok" (diberkahi). Contoh makhluk yang diberkahi Allah adalah kota Makkah (QS Ali Imran: 96), Masjidil Aqsa dan sekitarnya (QS Al-Isra: 1), malam Lailatul Qadar (QS Ad-Dukhan: 3-4), hujan (QS Qaf: 9), dan pohon zaitun (QS An-Nur: 35).

Kita mengetahui apa yang berkah dan tidak, hanya dari petunjuk Allah. Manusia tidak bisa menciptakan malam berkah sendiri atau menentukan keberkahan tanpa bimbingan-Nya. Contoh kesalahan dalam mencari berkah adalah: menganggap keberkahan Al-Qur'an dengan meminum air rendaman kertasnya (teh celup Quran), mencari ludah atau semburan kiai daripada ilmunya, atau mengorek-ngorek Ka'bah untuk mengambil batunya. Bahkan, mengambil tanah gundukan kuburan seorang wali adalah bentuk kesalahan fatal dalam mencari berkah, menunjukkan hilangnya akal sehat.

Pentingnya memiliki akidah yang lurus agar tahu bagaimana cara mencari berkah yang benar. Contoh lain kekeliruan adalah menyamakan sentuhan tiang AC yang sejuk di Madinah dengan sentuhan tembok biasa yang dianggap membawa berkah. Sesungguhnya Allah memberkahi pohon zaitun karena ia mendapatkan sinar matahari secara optimal, dan Nabi ﷺ bersabda untuk mengonsumsi minyak zaitun karena keberkahannya. Nabi Isa Alaihissalam juga disebut sebagai manusia yang diberkahi karena mengajarkan kebaikan melalui wahyu Allah.

Inti keberkahan adalah bagaimana kita bisa memberi manfaat bagi orang lain sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan kepada kita masing-masing. Nabi ﷺ bersabda, "Ahabbunnasi ilallah anfa'uhum linnas" (Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain). Ini bisa diwujudkan sesuai profesi. Contohnya seorang programmer yang membuat web jualan tiket/pulsa yang sukses, lalu mewakafkannya sebagai aset produktif untuk masjid. Atau pengusaha kuliner yang mewakafkan salah satu cabangnya untuk dikelola masjid. Nabi ﷺ juga bersabda, "Annasu Ma'adin" (Manusia itu seperti barang tambang), artinya manusia memiliki potensi yang berbeda-beda, seperti emas, perak, atau kerikil. Semua saling melengkapi dan memiliki peran penting dalam memberi manfaat bagi umat. Jangan sampai kehadiran kita bukan memberi manfaat, tapi justru menjadi masalah bagi yang lain.

Semoga kita dapat menjadi manusia yang baik dan dicintai oleh Allah Ta'ala.

POINTERS & CONCLUSIONS

DALIL & REFERENCES

وَكَانَ فِي ٱلْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍۢ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ
"Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki (pemimpin) yang berbuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan."
— QS An-Naml [27]: 48 • REFERENCE LINK
إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan."
— QS Ad-Dukhan [44]: 3 • REFERENCE LINK
مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍۢ زَيْتُونَةٍۢ لَّا شَرْقِيَّةٍۢ وَلَا غَرْبِيَّةٍۢ
"dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat(nya)."
— QS An-Nur [24]: 35 • REFERENCE LINK
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."
— HR Ath-Thabrani (dihasankan oleh Al-Albani) • REFERENCE LINK
النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوا
"Manusia itu bagaikan tambang (emas dan perak). Orang-orang terbaik di masa jahiliah adalah orang-orang terbaik di masa Islam apabila mereka memahami (ilmu agama)."
— HR Bukhari dan Muslim • REFERENCE LINK

KATA BIJAK UNTUK STATUS

"Menjadi manusia berkah bukan soal terkenal, tapi seberapa besar manfaat yang terus mengalir dari kebaikan kita."

WHATSAPP

"Keberkahan adalah kebaikan yang tumbuh, menetap, dan terus menerus memberi manfaat, bukan sekadar fenomena sesaat."

WHATSAPP

"Jangan bangga dengan popularitas jika justru mengajak pada penyimpangan; ukurlah dengan seberapa dekat kau pada kebenaran."

WHATSAPP

"Perbaiki urusan dunia dengan amanah, dan urusan agama dengan mengajak kembali pada Al-Qur'an dan Sunnah."

WHATSAPP

"Orang yang menjauhkan masyarakat dari ajaran Allah adalah perusak, karena aturan Allah adalah fondasi kebaikan."

WHATSAPP

"Sumber segala berkah hanya dari Allah, maka carilah keberkahan sesuai petunjuk-Nya, bukan dengan khurafat atau rekaan."

WHATSAPP

"Setiap manusia punya potensi unik seperti barang tambang; temukan peranmu untuk saling melengkapi dan memberi manfaat."

WHATSAPP

"Jangan remehkan ilmu dasar karena dari situlah keberkahan ilmu bertahap dan terus mengalir."

WHATSAPP

"Kehadiranmu di dunia bukan untuk menjadi masalah, melainkan untuk memberi solusi dan kebaikan yang berkelanjutan."

WHATSAPP

"Manusia paling dicintai Allah adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama, sesuai kemampuan yang Allah berikan."

WHATSAPP