Mukhtashar Shahih Muslim Versi Lebih Lengkap

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc.
23 April 2026 • 1 VIEWS • Durasi: 1:34:19 YOUTUBE SOURCE WHATSAPP SHARE

DENGARKAN AUDIO KAJIAN

mukhtashar-shahih-muslim-versi-lebih-lengkap-abu.mp3

DOWNLOAD

Pembahasan pagi ini mengisahkan tentang seorang sahabat mulia, Ka’ab bin Malik, yang terlambat mengikuti Perang Tabuk. Ini adalah kisah panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, di mana Ka'ab mengakui bahwa ia belum pernah terlambat dari perang bersama Rasulullah ﷺ sebelumnya, kecuali Perang Badar yang memang tidak diwajibkan.

Perang Badar sendiri bukan tujuan utama Rasulullah dan kaum Muslimin saat itu, melainkan untuk menghadang iring-iringan dagang Quraisy. Namun, takdir Allah berkehendak lain, sehingga terjadilah pertempuran besar. Ka'ab juga menjadi saksi Bai'atul Aqabah yang menurutnya lebih agung dari Perang Badar, meskipun Perang Badar lebih dikenal luas.

Kisah keterlambatan Ka'ab dalam Perang Tabuk terjadi saat ia sedang berada dalam puncak kekuatannya dan memiliki dua kendaraan. Rasulullah ﷺ, seperti biasanya dalam persiapan perang, menggunakan strategi tauriyah (ucapan samar yang memiliki makna ganda) agar tidak mudah diketahui musuh. Namun, untuk Perang Tabuk, beliau secara langsung mengumumkan tujuannya karena sulitnya kondisi saat itu. Tauriyah hukumnya boleh dalam Islam jika memang dibutuhkan, seperti kisah Nabi Ibrahim AS dengan Sarah atau ketika menghancurkan patung berhala.

Kisah ini juga menjadi pelajaran bahwa boleh menceritakan dosa masa lalu jika mengandung maslahat (kebaikan) dan faedah yang besar, bukan untuk berbangga. Namun, hal ini tidak boleh menjadi kebiasaan karena dapat merusak niat hijrah dan taubat seseorang. Taubat yang sejati ditandai dengan penyesalan, dan rasa malu untuk menceritakan dosa adalah bagian dari penyesalan tersebut.

Perang Tabuk diumumkan pada musim panas yang ekstrem di Madinah, dengan suhu bisa mencapai 45-50°C. Perjalanan yang sangat jauh dan musuh yang jumlahnya besar menjadikan perang ini ujian berat. Ditambah lagi, waktu itu bertepatan dengan musim panen buah kurma, dan Ka'ab mengakui hatinya condong pada kenikmatan buah-buahan tersebut.

Ka'ab menunda-nunda persiapan perang, merasa bisa mengejar kapan saja. Ini adalah penyakit taswif, yaitu menunda-nunda amal kebaikan. Abdullah bin Umar RA menasihati agar tidak menunda amal dari pagi ke sore, atau sore ke pagi. Al-Hasan Al-Bashri juga mengingatkan agar menjauhi taswif, karena umur manusia tidak ada yang tahu. Penuntut ilmu khususnya, harus menjauhi penyakit ini.

Setelah Rasulullah ﷺ dan pasukannya berangkat, Ka'ab merasa sedih dan terasing di Madinah, karena yang tersisa hanyalah orang-orang munafik atau orang yang memiliki udzur syar'i (sakit atau tua renta). Seorang mukmin akan merasa sedih jika terluput dari kebaikan dan gembira dengan amal salehnya. Ini adalah tanda keimanan.

Sesampainya di Tabuk, Rasulullah ﷺ menanyakan Ka'ab. Seorang dari Bani Salimah menuduh Ka'ab disibukkan oleh dua mantelnya atau dunia. Muadz bin Jabal RA membela Ka'ab, bersaksi bahwa ia hanya mengetahui kebaikan dari Ka'ab. Ini menunjukkan keutamaan membela kehormatan saudara Muslim. Rasulullah ﷺ pun diam, yang menunjukkan bolehnya pembelaan tersebut.

Mendengar kabar kembalinya Rasulullah ﷺ ke Madinah, Ka'ab dilanda kegalauan dan sempat berniat untuk berdusta. Namun, niat itu sirna ketika Rasulullah ﷺ benar-benar tiba. Ka'ab sadar bahwa berdusta demi menghindari kemarahan Rasulullah ﷺ hanya akan mendatangkan kemurkaan Allah. Ia memilih jujur, sekalipun itu akan membuat Rasulullah ﷺ marah, dengan harapan kesudahan yang baik di sisi Allah. Ini adalah ciri keimanan yang sejati, di mana keridaan Allah lebih utama dari keridaan manusia.

Rasulullah ﷺ menerima alasan dari sekitar 80 orang yang tidak ikut perang, yang bersumpah dan memberikan alasan lahiriah. Rasulullah ﷺ memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan batin mereka kepada Allah. Ini mengajarkan kita untuk menerima apa yang tampak dari seorang Muslim, kecuali jika jelas orang tersebut adalah seorang fasiq (pelaku dosa besar yang terang-terangan).

Ketika Ka'ab menyampaikan kejujurannya, Rasulullah ﷺ tersenyum dengan senyum marah dan memintanya menunggu keputusan Allah. Beberapa orang dari Bani Salimah mencoba membujuk Ka'ab untuk berdusta saja seperti yang lain, yang alasan mereka diterima dan dimohonkan ampunan. Ini adalah syubhat yang hampir menggoyahkan Ka'ab, namun ia dikuatkan ketika mengetahui ada dua sahabat saleh lain, Murarah bin Rabi' al-Umari dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi, yang juga jujur seperti dirinya. Kehadiran teman yang saleh dapat menguatkan kita dalam kebaikan.

Rasulullah ﷺ kemudian menjatuhkan sanksi dengan memerintahkan kaum Muslimin untuk tidak berbicara dengan ketiga sahabat yang jujur itu selama 50 hari. Sanksi ini disebut hijr, dan boleh diberikan kepada pelanggar syariat jika tujuannya adalah agar mereka sadar. Ka'ab merasakan terasing di negerinya sendiri. Ia tetap salat berjamaah di Masjid Nabawi, namun tidak ada yang menyapanya. Bahkan ketika ia mencoba berbicara dengan pamannya, Abu Qatadah, ia tidak mendapat jawaban yang diharapkan, hanya berkata: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Ini membuat Ka'ab menangis.

Ujian bertambah ketika seorang pedagang dari Syam memberikan surat dari Raja Ghassan yang menawarkan perlindungan kepada Ka'ab. Ka'ab segera menyadari ini adalah ujian lain dan membakar surat itu. Kesadaran akan ujian adalah hal penting bagi seorang mukmin, agar tidak tergoda oleh godaan dunia seperti telepon genggam di zaman sekarang.

Setelah 40 hari, Rasulullah ﷺ memerintahkan Ka'ab dan kedua temannya untuk menjauhi istri mereka (tidak berinteraksi intim, bukan cerai). Istri Hilal bin Umayyah meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tetap melayani suaminya yang tua dan tidak punya pembantu, dan Rasulullah ﷺ mengizinkan, namun tetap melarang hubungan intim. Istrinya bersaksi bahwa Hilal hanya menangis sejak hari pertama.

Pada hari ke-50, setelah salat Subuh di atap rumahnya, Ka'ab mendengar suara yang menyerukan kabar gembira bahwa taubatnya telah diterima. Ia segera bersujud syukur. Rasulullah ﷺ telah mengumumkan diterimanya taubat mereka setelah salat Subuh. Kaum Muslimin berlomba-lomba memberikan kabar gembira kepada mereka, bahkan ada yang menunggang kuda dan ada yang berlari lebih cepat dari kuda.

Ka'ab saking gembiranya memberikan satu-satunya bajunya kepada pembawa kabar gembira. Kemudian ia pergi menemui Rasulullah ﷺ, yang wajahnya berseri-seri. Rasulullah ﷺ bersabda, "Bergembiralah dengan sebaik-baik hari sejak ibumu melahirkanmu." Ini menunjukkan bahwa hari terbaik bagi seorang Muslim adalah hari ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang nasuha. Ka'ab kemudian berjanji tidak akan berdusta lagi sepanjang hidupnya, dan berharap Allah menjaganya untuk selalu jujur hingga akhir hayat. Ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu percaya diri dengan keimanan, melainkan selalu berharap dan berdoa agar Allah menjaga keistiqamahan.

Allah ﷻ kemudian menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an (QS At-Taubah: 117-118) yang mengisahkan tentang diterimanya taubat Nabi, kaum Muhajirin, Ansar, dan ketiga sahabat tersebut. Allah ﷻ juga menegaskan pentingnya bertakwa dan menjadi orang-orang yang jujur. Ka'ab bersaksi bahwa tidak ada nikmat yang lebih besar setelah hidayah Islam, selain nikmat kejujuran yang menyelamatkannya dari kebinasaan, seperti halnya orang-orang yang berdusta dan bersumpah palsu (munafik) yang tempatnya adalah neraka Jahanam (QS At-Taubah: 95-96).

POINTERS & CONCLUSIONS

DALIL & REFERENCES

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Bagaimana kamu menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus."
— QS Ali 'Imran: 101 • REFERENCE LINK
لَقَدْ تَّابَ اللّٰهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ فِيْ سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيْغُ قُلُوْبُ فَرِيْقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۗ اِنَّهٗ بِهِمْ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
"Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, para Muhajirin dan Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka."
— QS At-Taubah: 117 • REFERENCE LINK
وَعَلَى الثَّلٰثَةِ الَّذِيْنَ خُلِّفُوْا ۗ حَتّٰٓى اِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْاَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ اَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوْٓا اَنْ لَّا مَلْجَاَ مِنَ اللّٰهِ اِلَّآ اِلَيْهِ ۗ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوْبُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Dan kepada tiga orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang); hingga apabila bumi telah terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka (tetap) bertobat. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."
— QS At-Taubah: 118 • REFERENCE LINK
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ ۖ إِنَّهُمْ رِجْسٌ ۖ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Mereka bersumpah kepadamu dengan (nama) Allah, ketika kamu kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah dari mereka; sesungguhnya mereka itu kotor, dan tempat mereka neraka Jahanam, sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan."
— QS At-Taubah: 95 • REFERENCE LINK
يَحْلِفُونَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
"Mereka bersumpah kepadamu agar kamu ridho kepada mereka. Jika kamu ridho kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridho kepada orang-orang yang fasik."
— QS At-Taubah: 96 • REFERENCE LINK

KATA BIJAK UNTUK STATUS

"Menunda amal kebaikan hari ini berarti kamu tidak menghargai kesempatan dari Allah."

WHATSAPP

"Keridaan Allah itu di atas segalanya, sekalipun manusia murka kepadamu."

WHATSAPP

"Jangan berbangga dengan dosa masa lalu, jadikan ia pelajaran bukan cerita panggung."

WHATSAPP

"Kejujuran adalah perisai terkuat seorang mukmin di hadapan manusia dan Allah."

WHATSAPP

"Kekuatan imanmu seringkali diuji justru ketika kamu sendirian."

WHATSAPP

"Majelis ilmu adalah 'charger' imanmu, jangan biarkan ia kosong dan mati."

WHATSAPP

"Pilihlah teman yang membawamu ke surga, bukan yang menjerumuskanmu ke neraka."

WHATSAPP

"Hari terbaikmu bukanlah hari lahirmu, tetapi hari di mana kamu bertaubat dengan tulus kepada Rabbmu."

WHATSAPP

"Jangan pernah pede dengan imanmu, selalu berharap Allah jaga keistiqamahanmu."

WHATSAPP

"Memperbaiki hubungan itu wajib, memaafkan itu sunnah; jangan salah prioritas."

WHATSAPP