Untukmu yang Lalai dari Kematian

Ustadz Maududi Abdullah Lc.
16 April 2026 • 10 VIEWS YOUTUBE SOURCE WHATSAPP SHARE

DENGARKAN AUDIO KAJIAN

untukmu-yang-lalai-dari-kematian-maududi.mp3

DOWNLOAD

Kita panjatkan syukur kepada Allah Jalla wa 'Ala, Rabb yang telah menciptakan kita dan segala yang kita miliki. Sesungguhnya, semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Apapun yang kita punya hanyalah titipan dan amanah, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Shalawat serta salam kita haturkan kepada Nabi tercinta, Rasulullah Muhammad bin Abdillah Shallallahu Alaihi Wasallam, sebaik-baik manusia di muka bumi ini. Beliau bersabda, "Akulah yang paling mulia dari seluruh Bani Adam," bukan untuk berbangga, melainkan itulah kenyataannya. Beliaulah suri tauladan terbaik yang Allah anugerahkan syariat paling sempurna untuk umat terbaik.

Dalam kehidupan ini, kita seringkali terlena oleh berbagai hal duniawi yang membuat kita lupa akan akhirat. Padahal, kita semua beriman bahwa kita tidak akan selamanya tinggal di bumi ini. Suatu saat, kita pasti akan meninggalkan dunia menuju akhirat, berkumpul di padang Mahsyar, mulai dari Nabi Adam hingga manusia terakhir.

Secara logika, seharusnya kita sangat fokus dan benar-benar mempersiapkan diri untuk sesuatu yang pasti akan kita tuju, bukan pada apa yang pasti kita tinggalkan. Allah Tabaraka wa Ta'ala dengan tegas menyatakan dalam Al-Qur'an, "Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dari dunia." (QS. Adh-Dhuha: 4, bukan Adh-Dhuha:17). Bukankah ayat ini sering kita dengar dan bahkan sebagian kita hafal? Aneh jika kita lalai dari sesuatu yang pasti kita tuju, sementara fokus pada yang akan kita tinggalkan.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman tentang kematian dalam banyak ayat. Khatib tidak akan membacakan semuanya karena pada dasarnya, semua manusia saat ini beriman dan yakin akan adanya kematian. Kematian adalah realita yang kita saksikan hari demi hari, banyak orang yang didatangi kematian dan meninggalkan dunia menuju pemakaman.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, "Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Ali 'Imran: 185). Semua makhluk yang bernyawa, termasuk malaikat maut sekalipun, pasti akan merasakan kematian. Semua makhluk ini berasal dari tiada dan akan kembali kepada tiada, kecuali Allah Jalla wa 'Ala. Hanya Dia satu-satunya yang tidak pernah berasal dari ketidakadaan dan tidak akan pernah menuju ketidakadaan. Ketika semua makhluk mati, Allah menggenggam langit dan bumi lalu berkata, "Akulah Raja! Akulah Penguasa!" (Ana al-Malik, Ana al-Jabbar). Mana raja-raja dunia? Semuanya telah mati.

Dalam ayat lain, Allah berfirman, "Katakanlah: 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.'" (QS. Al-Jumu'ah: 8). Kematian akan menjumpai kita di mana pun kita berada.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur kelezatan." Mengapa Nabi menyuruh kita mengingat kematian, padahal kita semua sudah yakin akan adanya kematian? Jawabannya adalah agar kita bersiap untuk sesuatu yang ada setelah kematian. Kematian bagi orang Mukmin dan yang bukan Mukmin memiliki sudut pandang berbeda. Bagi orang yang tidak beriman, kematian adalah akhir perjalanan hidup. Namun, bagi orang beriman, kematian adalah awal dari perjalanan hidup yang sangat panjang.

Tahukah kita berapa panjangnya hari di padang Mahsyar? Di mana semua kita pasti akan berkumpul dan berhadapan dengan mahkamah ilahiah, pengadilan Ilahi, untuk dimintai pertanggungjawaban atas segala yang Allah berikan kepada kita di permukaan bumi. Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, "Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang ukurannya lima puluh ribu tahun." (QS. Al-Ma'arij: 4). Ini adalah hari Padang Mahsyar, hari perhitungan (hisab), yang pasti akan kita alami. Berapa usia kita dibanding satu hari akhirat itu? Itu baru hari hisab, padahal lebih dari itu, hari yang ada setelahnya adalah hari "khalidina fiha" (mereka kekal pada hari itu untuk selama-lamanya).

Karena pasca kematian, Allah akan menghidupkan kita kembali, dan setelah kehidupan itu, tidak ada lagi yang namanya kematian. Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, "Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan?" (QS. Al-Baqarah: 28). Para ulama mengatakan, setelah Allah menyebutkan "kemudian Allah hidupkan kalian kembali", Allah tidak lagi menyebut kematian. Ayat ini menunjukkan, pasca kehidupan yang kedua, tidak ada lagi kematian. Maka 50.000 tahun di padang Mahsyar itu tidak ada apa-apanya dibanding waktu setelahnya yang tanpa batas.

Untuk inilah kita diperintahkan Allah dan Rasul-Nya yang tercinta untuk mengingat kematian, agar kita mempersiapkan diri. Manusia yang cerdas adalah orang yang ingat kematian, bersiap untuk kematian, dan melakukan ketaatan untuk apa yang terjadi pasca kematian. Tidakkah yang terbaik kita simpan untuk kehidupan akhirat, kehidupan yang sangat panjang?

Di antara makna mengapa kita harus ingat kematian adalah agar kita mau menyegerakan tobat dari aneka ragam kesalahan yang kita tahu itu adalah kesalahan, dan dari perbuatan-perbuatan yang pada dasarnya adalah keingkaran kepada Allah, perintah dan larangan-Nya. Ketahuilah, keingkaran kita kepada Allah tidak akan memberikan mudarat apapun kepada Allah. Apapun maksiat yang kita lakukan, pada dasarnya kita hanya mengundang petaka untuk diri kita sendiri.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman (dalam Hadits Qudsi), "Wahai hamba-hamba-Ku, sekiranya kalian dari yang awal sampai yang akhir, dari jin dan manusia, semuanya bejat sebejat-bejatnya, itu tidak akan sedikit pun mengurangi kekuasaan-Ku. Sekiranya kalian dari yang awal sampai yang akhir, dari jin dan manusia, semuanya bertakwa setakwa-takwanya, itu tidak akan menambahkan kekuasaan-Ku sedikit pun." Yang terjadi adalah siapa yang beramal saleh, dia akan mendapatkan kebaikan dari amal salehnya, dan barang siapa yang beramal maksiat, dia yang akan merasakan pedihnya maksiat yang dikerjakannya itu. "Barang siapa mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri." (QS. Fussilat: 46).

Akibat perbuatan buruk itu nanti di akhirat. Jangan kalian mengira Allah lalai atau tidak tahu apa yang dilakukan orang-orang zalim. Allah hanya mengundur mereka, mengundur pembalasan itu kepada hari di mana pandangan manusia akan tertunduk karena saking takutnya balasan yang akan mereka dapatkan dari Allah. Dunia bukan tempat balasan. Maksiat demi maksiat yang dilakukan seolah Allah biarkan karena memang dunia ini bukan tempat pembalasan perbuatan maksiat. Nanti di akhirat, setelah kematian, semua perbuatan maksiat kita akan kita rasakan pedihnya jika tidak dimaafkan Allah Rabbul 'Alamin.

Inilah gunanya kita ingat kematian, agar mengerem nafsu kita dari mengikuti hal-hal yang tidak diridai Allah Pencipta langit dan bumi. Kita lakukan tobat dan permintaan maaf kepada Allah agar Allah memaafkan dosa dan kesalahan itu, dan tidak menjadikan dosa itu sesuatu yang berbentuk azab, penderitaan, dan penyesalan tanpa batas waktu.

POINTERS & CONCLUSIONS

DALIL & REFERENCES

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ
"Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dari dunia."
— QS. Adh-Dhuha: 4 • REFERENCE LINK
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ
"Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati."
— QS. Ali 'Imran: 185 • REFERENCE LINK
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
"Katakanlah: 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.'"
— QS. Al-Jumu'ah: 8 • REFERENCE LINK
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
"Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang ukurannya lima puluh ribu tahun."
— QS. Al-Ma'arij: 4 • REFERENCE LINK
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan?"
— QS. Al-Baqarah: 28 • REFERENCE LINK
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا
"Wahai hamba-hamba-Ku, sekiranya kalian dari yang awal sampai yang akhir, dari jin dan manusia, semuanya bejat sebejat-bejatnya, itu tidak akan sedikit pun mengurangi kekuasaan-Ku."
— Hadits Qudsi (HR. Muslim) • REFERENCE LINK
مَن عَمِلَ صالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ ومَن أَساءَ فَعَلَيها ۗ
"Barang siapa mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri."
— QS. Fussilat: 46 • REFERENCE LINK

KATA BIJAK UNTUK STATUS

"Akulah yang paling mulia dari seluruh Bani Adam dan bukan untuk dibangga-banggakan, bukan untuk disombongkan, akan tetapi itulah realita yang sebenarnya."

WHATSAPP

"Ana al-Malik, Ana al-Jabbarun!"

WHATSAPP

"Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur kelezatan."

WHATSAPP