Jangan Ragu Bertaubat ○
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
jangan-ragu-bertaubat-dr.mp3
Ibadah taubat adalah ibadah yang agung, bahkan dikatakan oleh para ulama sebagai "wali fathul umur" yang harus dilakukan seumur hidup. Ini karena setiap manusia tidak luput dari dosa. Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat." Allah SWT juga berfirman dalam Hadits Qudsi, "Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di pagi, siang, dan malam hari, dan Aku mengampuni seluruh dosa. Maka mohonlah ampunan dari-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian."
Taubat bukan hanya dibutuhkan oleh orang awam, tetapi oleh seluruh manusia, dari tingkat awam hingga para ulama dan nabi. Para nabi seperti Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Sulaiman, hingga Nabi Muhammad ﷺ pernah melakukan kesalahan dan segera bertaubat kepada Allah. Kisah-kisah mereka dalam Al-Qur'an menjadi teladan bagi kita untuk segera kembali kepada Allah setelah berbuat dosa. Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya." Ini menunjukkan bahwa taubat adalah ibadah yang dicintai Allah. Semakin seseorang suka bertaubat dan beristighfar, semakin dicintai oleh Allah.
Ada perbedaan antara taubat dan istighfar. Taubat berarti kembali kepada Allah setelah seorang melakukan dosa, artinya dia sungguh-sungguh ingin meninggalkan dosa tersebut. Sedangkan istighfar berarti memohon ampunan kepada Allah. Tingkatan taubat lebih tinggi daripada istighfar, karena taubat mensyaratkan meninggalkan dosa, menyesali perbuatan, dan bertekad tidak mengulanginya. Istighfar dapat dilakukan meskipun seseorang masih dalam perjuangan meninggalkan dosa. Istighfar yang sempurna akan mencakup syarat-syarat taubat.
Syarat-syarat taubat terbagi dua, tergantung apakah dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain atau tidak. Jika dosa tersebut tidak berkaitan dengan hak orang lain (misalnya: tidak salat, tidak puasa, bermaksiat melihat hal yang tidak benar), maka ada empat syarat:
- Meninggalkan dosa tersebut.
- Menyesali perbuatan dosa.
- Bertekad untuk tidak mengulangi.
- Masih dalam masa diizinkan taubat, yaitu selama matahari belum terbit dari barat dan nyawa belum sampai di kerongkongan. Allah tidak menerima taubat orang yang telah sampai sakaratul maut atau setelah terbitnya matahari dari barat, sebagaimana kisah Firaun yang taubatnya ditolak.
Terdapat beberapa kesalahpahaman tentang taubat:
- Bukan syarat taubat tidak mengulangi kembali dosa. Jika seseorang telah bertaubat dengan sungguh-sungguh dan kemudian suatu hari mengulangi dosa yang sama, taubat sebelumnya tetap diterima, dan dia perlu bertaubat kembali untuk dosa yang baru. Yang dilarang adalah jika dia bertaubat namun masih terus-menerus melakukan dosa tersebut.
- Bukan syarat taubat harus meninggalkan seluruh dosa sekaligus. Seseorang dapat bertaubat dari satu dosa tertentu tanpa harus sekaligus meninggalkan semua dosanya yang lain. Iblis sering membisikkan bahwa taubat tidak akan diterima jika masih ada dosa lain. Namun, Allah menerima taubat yang bertahap, meskipun yang paling afdhol adalah bertaubat dari seluruh dosa.
- Bukan syarat taubat melakukan salat taubat. Salat taubat hukumnya sunnah, bukan wajib. Taubat tetap sah tanpa salat taubat, namun dengan salat taubat akan lebih sempurna.
Kita perlu sering bertaubat karena berbagai alasan, di antaranya:
- Dosa mengumbar pandangan. Di zaman sekarang, dengan media sosial dan tontonan yang beragam, pandangan kita sering terpapar hal-hal yang haram. Dosa kecil sekalipun, jika sering dilakukan, akan menjadi besar dan menunjukkan betapa kita harus sering beristighfar.
- Kurang bersyukur. Kita sering lupa mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga. Doa keluar toilet "ghufranaka" (ampunan-Mu ya Allah) mengingatkan kita bahwa kita bahkan tidak mampu mensyukuri nikmat bisa buang hajat.
- Kurang beribadah dengan baik. Setelah salat pun kita dianjurkan beristighfar tiga kali, karena seringkali salat kita tidak khusyuk sebagaimana mestinya.
Dosa dapat dibagi menjadi dua: dosa besar dan dosa kecil.
- Dosa besar adalah dosa yang ada ancaman khusus berupa laknat, neraka, atau hukum hadd (hukuman tertentu). Contoh: mencuri, berzina, riba. Untuk dosa besar, taubat adalah syarat mutlak untuk diampuni.
- Dosa kecil adalah dosa selain dosa besar. Dosa kecil dapat dihapus dengan bertaubat atau beristighfar, serta dengan banyak melakukan amal saleh seperti salat lima waktu, umrah, jumat ke jumat, dan puasa Ramadan, dengan syarat menjauhi dosa-dosa besar. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghilangkan dosa-dosa kecil.
Taubat dari harta haram juga memiliki dua cara:
- Harta yang diperoleh dengan keridhoan kedua belah pihak (meskipun hasilnya haram, seperti judi, zina, hasil penjualan khamar/narkoba, riba—dari sisi yang menyerahkan dengan keridhoan). Jika seorang telah bertaubat, harta ini tidak wajib dikembalikan kepada pihak lain karena mereka telah ridho. Harta ini bisa dimanfaatkan oleh orang yang bertaubat jika ia membutuhkan, atau disedekahkan atas nama dirinya.
- Harta yang diperoleh tanpa keridhoan orang lain (seperti mencuri, merampok, menipu). Harta ini wajib dikembalikan kepada pemiliknya. Jika pemiliknya tidak ada, kepada ahli warisnya. Jika ahli warisnya pun tidak ada, maka disedekahkan dengan niat agar pahalanya kembali kepada pemilik aslinya.
Allah SWT Maha Pengampun atas segala jenis dosa, sebesar atau sebanyak apapun, asalkan seorang hamba bertaubat dengan sungguh-sungguh. Allah berfirman, "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar: 53). Contohnya adalah para penyihir Firaun yang bertaubat di penghujung hayat mereka, atau kisah seorang pembunuh 99/100 nyawa yang taubatnya diterima. Bahkan Firaun sendiri masih diberi kesempatan untuk bertaubat, namun ia tidak melakukannya. Jangan pernah membuat orang lain berputus asa dari rahmat Allah, karena pintu taubat senantiasa terbuka lebar.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Taubat adalah ibadah agung yang wajib dilakukan seumur hidup oleh setiap Muslim karena tidak ada yang luput dari dosa.
- Bahkan para nabi dan orang-orang saleh pun bertaubat, menjadi teladan bagi kita.
- Taubat lebih tinggi dari istighfar, mensyaratkan meninggalkan dosa, menyesal, dan bertekad tidak mengulang.
- Syarat taubat untuk dosa pribadi: meninggalkan dosa, menyesal, bertekad tidak mengulang, dan dilakukan pada waktu yang diterima (sebelum matahari terbit dari barat dan nyawa di kerongkongan).
- Syarat taubat untuk dosa terkait hak orang lain: ditambah dengan mengembalikan hak yang dizalimi.
- Kesalahpahaman: Taubat tidak batal jika mengulangi dosa (selama tidak terus-menerus), tidak harus meninggalkan semua dosa sekaligus, dan salat taubat hukumnya sunnah.
- Dosa mata (pandangan), kurang bersyukur, dan ibadah yang tidak sempurna adalah alasan kuat untuk sering bertaubat.
- Dosa kecil dapat dihapus dengan amal saleh, sedangkan dosa besar harus dengan taubat.
- Harta haram dari keridhoan kedua pihak boleh dimanfaatkan/disalurkan, sedangkan dari kezoliman wajib dikembalikan.
- Allah mengampuni semua jenis dosa, sebesar dan sebanyak apapun, bagi hamba yang bertaubat dengan tulus.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Taubat adalah ibadah agung yang wajib dilakukan seumur hidup, karena setiap manusia pasti pernah berbuat dosa."
"Jangan ragu bertaubat, karena Allah mencintai hamba yang sering kembali kepada-Nya dengan penyesalan."
"Taubat bukan hanya untuk orang awam, para nabi dan ulama pun bertaubat sebagai teladan bagi kita."
"Syarat taubat yang benar: tinggalkan dosa, sesali perbuatan, dan bertekad kuat tidak mengulanginya lagi."
"Jika dosa melibatkan hak orang lain, taubatmu belum sempurna tanpa mengembalikan atau meminta maaf."
"Pernah mengulangi dosa setelah bertaubat? Jangan putus asa, taubatmu tetap diterima dan perbarui niatmu."
"Kesalahan kecil seperti pandangan liar atau kurang syukur adalah alasan kuat untuk terus beristighfar setiap hari."
"Dosa kecil bisa terhapus dengan amal saleh, tapi dosa besar hanya bisa diampuni lewat taubat yang tulus."
"Harta haram dari hasil judi atau riba boleh disedekahkan, tapi hasil curian wajib dikembalikan kepada pemiliknya."
"Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, pintu taubat terbuka lebar untuk dosa sebesar apa pun."