Kebiasaan Sepele yang Berpengaruh pada Kematian ○
DENGARKAN AUDIO KAJIAN
kebiasaan-sepele-yang-berpengaruh-pada-kematian-dr.mp3
Hadirin yang dirahmati Allah, kajian ini melanjutkan pembahasan tafsir ayat-ayat Al-Qur'an. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman menegur Ahlul Kitab, terutama Yahudi dan Nasrani, yang dulunya merupakan tetangga Nabi Shallallahu alaihi wasallam di Madinah, juga utusan Najran yang berdiskusi dengan Nabi.
Allah berfirman, menanyakan mengapa mereka kufur terhadap ayat-ayat Allah, padahal Allah menyaksikan perbuatan mereka. Sebagian ahli tafsir mengatakan ini merujuk pada ayat-ayat yang menyebutkan tentang kenabian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Ahlul Kitab seharusnya lebih utama untuk beriman karena memiliki ilmu tentang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dari kitab suci mereka (Taurat dan Injil) yang telah mengabarkan kedatangan Nabi terakhir. Namun, mereka tidak mensyukuri nikmat ini, justru ingkar. Allah bertanya dengan pertanyaan pengingkaran, "Kenapa kalian kufur kepada ayat-ayat Allah?" Allah menyaksikan perbuatan mereka dan akan ada balasannya.
Allah kembali menegur Ahlul Kitab karena mereka tidak hanya ingkar kepada kenabian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, tetapi juga berusaha menghalangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah, ingin agar jalan Allah menjadi bengkok. Ini lebih parah daripada membiarkan orang sesat. Ahlul Kitab melakukan trik-trik untuk menggiring orang beriman keluar dari jalur yang benar, menyebarkan isu-isu buruk tentang Islam. Allah mengingatkan bahwa Dia tidak lalai dari perbuatan mereka dan akan ada balasannya di akhirat kelak.
Kemudian, Allah memperingatkan orang-orang beriman: "Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Alkitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang-orang kafir setelah kalian beriman." Mereka berangan-angan agar kaum muslimin kembali kafir karena hasad. Allah menegaskan bahwa usaha mereka akan gagal, karena ayat-ayat Allah dibacakan kepada kaum muslimin, dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ada di tengah-tengah mereka. Siapa pun yang berpegang teguh kepada Allah, maka dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Ayat ini menunjukkan keutamaan para sahabat yang tidak akan murtad. Mereka dibacakan ayat-ayat Allah secara langsung oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dan Nabi Shallallahu alaihi wasallam hidup membimbing mereka. Ini menciptakan suasana keimanan yang luar biasa. Para sahabat adalah generasi terbaik karena ayat-ayat Al-Qur'an turun kepada mereka, terkait dengan kehidupan mereka, dan mereka dibimbing langsung oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Namun, kita yang hidup di zaman sekarang tetap bisa meraih istiqamah dengan meneladani mereka, yaitu dengan membaca dan mempelajari Al-Qur'an serta sunah Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dan berpegang teguh pada agama Allah.
Allah berfirman, "Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kalian meninggal kecuali kalian dalam kondisi Islam." Takwa adalah menaati Allah dan tidak memaksiati-Nya, mengingat Allah dan tidak melupakan-Nya, serta bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri nikmat-Nya. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam pun, meskipun sudah bertakwa, masih terus diperintahkan untuk bertakwa dan istiqamah. Ini berarti kita harus berusaha meningkatkan ketakwaan secara optimal dan maksimal, bukan berarti ekstrem dalam beragama hingga melalaikan tanggung jawab duniawi.
Poin penting dari ayat ini adalah agar kita meninggal dalam kondisi Islam, yaitu dengan istiqamah. Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan bahwa kita harus menjaga Islam kita saat sehat dan dalam kondisi aman, agar kita meninggal di atas Islam tersebut. Hal ini berdasarkan sunah Allah, bahwa siapa yang hidup di atas suatu kebiasaan, dia akan meninggal di atas kebiasaan tersebut, dan akan dibangkitkan di atas kebiasaan tersebut. Jika seseorang terbiasa beribadah, insyaallah akan meninggal dengan baik. Sebaliknya, jika terbiasa maksiat, kemungkinan besar akan meninggal dalam kondisi tersebut. Oleh karena itu, penting untuk menjaga diri agar selalu berada di jalan kebaikan.
Di antara sebab husnul khatimah adalah beriman kepada Allah dan hari akhirat, serta berakhlak mulia. Hadis Nabi Shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa siapa yang ingin selamat dari neraka dan masuk surga, hendaknya meninggal dalam kondisi beriman kepada hari akhirat dan melakukan kepada manusia apa yang ia suka jika dilakukan kepadanya. Ini adalah definisi akhlak mulia: merenungkan bagaimana jika kita diperlakukan demikian, jika baik, maka lakukanlah; jika tidak, maka jangan. Contohnya, berbakti kepada orang tua, memperlakukan istri dengan baik, atau berbuat adil kepada pembantu.
Sebab lain untuk husnul khatimah adalah berbaik sangka kepada Allah (husnuzon), terutama saat akan meninggal dunia. Allah berfirman, "Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku." Ibnu Qayyim Rahimahullah menyatakan bahwa sulit bagi orang yang sering maksiat untuk berhusnuzon kepada Allah, berbeda dengan orang yang dekat dengan Allah. Dekat dengan Allah melalui ibadah, dzikir, dan taubat akan memudahkan kita untuk berhusnuzon kepada-Nya. Jangan sampai saat meninggal, kita justru disibukkan dengan urusan duniawi karena jarang mengingat Allah.
Firman Allah, "Janganlah kalian meninggal dalam kondisi Islam," berarti istiqamah sampai akhir hayat. Jangan ujub dengan kondisi keimanan saat ini, karena yang diperintahkan adalah istiqamah sampai meninggal dunia. Cara istiqamah adalah dengan membaca ayat-ayat Allah, bertawakal kepada-Nya, dan mempelajari hadis Nabi Shallallahu alaihi wasallam.
Allah juga memerintahkan untuk berpegang teguh pada tali Allah seluruhnya dan jangan berpecah belah. Ingatlah nikmat Allah, ketika kalian dulunya bermusuhan (seperti suku Aus dan Khazraj) lalu Allah menyatukan hati kalian sehingga kalian menjadi bersaudara. Persatuan adalah rahmat, perpecahan adalah azab. Kebersamaan dalam satu visi dan misi adalah nikmat luar biasa dari Allah. Bahkan Nabi Shallallahu alaihi wasallam sendiri tidak akan mampu menyatukan hati manusia tanpa karunia Allah.
Di antara sebab tidak terjadinya perpecahan adalah dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran). Dengan saling menasihati dan mengingatkan, umat akan terjaga dari perselisihan. Jika setiap orang dibiarkan mengikuti hawa nafsunya tanpa nasihat, perpecahan pasti terjadi. Maka, mereka yang berdakwah adalah orang-orang yang beruntung, meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Allah melarang kita menyerupai orang-orang yang tercerai-berai dan berselisih setelah datang bukti kebenaran kepada mereka, seperti Ahlul Kitab. Bagi mereka adalah azab yang pedih.
POINTERS & CONCLUSIONS
- Ahlul Kitab kufur dan berusaha menyesatkan orang beriman karena hasad.
- Allah memperingatkan orang beriman agar tidak mengikuti Ahlul Kitab yang ingin memurtadkan mereka.
- Para sahabat mulia karena dibacakan Al-Qur'an langsung oleh Nabi dan Nabi hidup di tengah mereka.
- Istiqamah sampai akhir hayat adalah kunci untuk meninggal dalam kondisi Islam.
- Takwa meliputi menaati Allah, mengingat-Nya, dan bersyukur kepada-Nya.
- Seseorang akan meninggal di atas kebiasaan hidupnya, jadi jaga kebaikan.
- Akhlak mulia adalah melakukan kepada orang lain apa yang kita suka jika dilakukan kepada kita.
- Berhusnuzon kepada Allah, terutama saat meninggal, adalah penting untuk husnul khatimah.
- Kunci istiqamah adalah membaca Al-Qur'an, mempelajari sunah, dan bertawakal kepada Allah.
- Berpegang teguh pada tali Allah (agama-Nya) dan jangan berpecah belah.
- Amar ma'ruf nahi mungkar adalah cara menjaga persatuan dan meraih keberuntungan.
DALIL & REFERENCES
KATA BIJAK UNTUK STATUS
"Kita di zaman ini sangat mudah terpengaruh, apa yang kita nonton, lihat, dan dengarkan bisa merubah hati dalam hitungan"
"Berpegang teguh dan bertawakal kepada Allah adalah sumber hidayah sejati, bukan hanya ikut pengajian semata."
"Siapa yang hidup di atas suatu kebiasaan, dia akan meninggal di atas kebiasaan tersebut."
"Berbuatlah kepada manusia apa yang engkau suka jika dilakukan kepadamu, itulah inti akhlak mulia."
"Allah tergantung persangkaan hamba-Nya; berprasangka baiklah kepada-Nya, terutama saat mendekati kematian."
"Sulit berhusnuzon kepada Allah jika kita sering membangkang dan bermaksiat."
"Ibadah, dzikir, dan taubat mendekatkan kita kepada Allah dan mempermudah husnuzon."
"Jangan ujub dengan keimanan saat ini, karena istiqamah sampai meninggal adalah perintah Allah."
"Berkumpul dalam kebaikan dan satu visi adalah nikmat luar biasa dari Allah."
"Persatuan adalah rahmat, sedangkan perpecahan dan pertikaian adalah azab."