Tanda-Tanda Takut Kepada Allah

Ustadz Najmi Umar Bakkar
22 April 2026 • 2 VIEWS • Durasi: 1:21:21 YOUTUBE SOURCE WHATSAPP SHARE

DENGARKAN AUDIO KAJIAN

tanda-tanda-takut-kepada-allah-najmi.mp3

DOWNLOAD

Kaum muslimin Bapak Ibu sekalian yang berbahagia, kita bersyukur kepada Allah *tabaraka wa ta'ala* di sore hari ini dapat menghadiri majelis ilmu yang semoga diberkahi oleh Allah *Subhanahu wa Ta'ala*. Kita masih diberikan kesempatan, kesehatan, dan keluasan waktu untuk bisa melakukan ibadah menuntut ilmu agama. Semoga apa yang kita lakukan ini diterima oleh Allah *Subhanahu wa Ta'ala* dan menjadi pemberat timbangan amal kebaikan kita nanti pada hari kiamat.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas satu tema yang berjudul Tanda-Tanda Takut Kepada Allah *tabaraka wa ta'ala*. Rasa takut kepada Allah inilah yang menjadi modal besar bagi seseorang untuk mampu mentaati Allah sepanjang hidupnya dan menjauhi perbuatan dosa.

Allah *tabaraka wa ta'ala* berfirman di Surah Ali Imran, pada ayat 175:

Allah *tabaraka wa ta'ala* berfirman, "Janganlah kamu takut kepada mereka (makhluk), tetapi hendaknya kamu takut kepada-Ku saja, jika kamu mengklaim bahwa kamu itu benar-benar termasuk orang yang beriman." Orang beriman itu disebutkan kalau betul-betul dia beriman, hanya takut kepada Allah. Jika ada di antara kita mengaku sebagai orang beriman lalu dia takut kepada selain Allah dengan rasa takut yang disertai pengagungan, meninggikan, membesarkan sebagaimana dia mengagungkan Allah, tentunya jatuh kepada dosa syirik. Kita boleh takut dengan hal-hal yang sifatnya tabiat manusia, seperti suara petir, kilat menyambar, atau ular yang sangat menakutkan, itu bisa dimaklumi. Tapi rasa takut yang tertinggi, terbesar, dan teratas yang disertai dengan pengagungan, memuliakan, meninggikan, membesarkan itu tidak boleh diberikan kepada sembarang makhluk, siapapun makhluknya, hanya kepada Allah semata.

Seseorang yang memiliki rasa takut kepada Allah dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar ucapan saja. Orang yang betul-betul memiliki rasa takut kepada Allah dia buktikan dengan semakin baik menjadi orang yang taat kepada Allah dan menjauhi berbagai macam bentuk kemaksiatan.

Berikut adalah tanda-tanda seseorang memiliki rasa takut kepada Allah:

  1. Kesesuaian antara lahir dan batin. Zahirnya mengatakan dia takut kepada Allah, batinnya pun menunjukkan dia takut kepada Allah, dan dibuktikan dalam perbuatan sehari-hari. Ini bukti dia orang beriman. Berbeda dengan orang munafik yang menyatakan dengan lisan bahwa mereka beriman kepada Allah dan takut kepada Allah, tapi di hatinya tidak. Huzaifah *radhiallahu'anhu* pernah didatangi oleh seseorang yang mengatakan, "Saya takut menjadi orang munafik." Maka Huzaifah mengatakan, "Seandainya engkau seorang munafik, maka engkau tidak mungkin memiliki rasa takut yang takut kepada Allah." Hanya seorang mukmin yang memiliki rasa takut kepada Allah selaras antara lahir dan batin, lisan, dan anggota badannya.

    Maka perhatikan, apakah kita seorang mukmin yang sejati, yang dibuktikan dengan perbuatan sehari-hari, bukan dengan lisan. Manusia bisa melihat perbuatan lahiriah kita. Semua ini dibuktikan ketika tidak ada orang, kita tetap memiliki rasa takut. Itulah orang-orang yang benar-benar takut kepada Allah. Jika kita takut kepada Allah di depan orang, namun ketika sendirian tidak takut, ini berarti dusta, ini berarti orang-orang munafik. Kita harus selalu merasa diawasi oleh Allah (*muraqabatullah*).

  2. Merasa selalu diawasi oleh Allah. Meskipun tidak ada orang yang melihatnya, dia tahu Allah Maha Melihat apapun yang dia lakukan. Selalu merasa diawasi, dipantau, dan dilihat oleh Allah. Itulah orang mukmin yang memiliki rasa takut kepada Allah. Karena dia tahu Allah mengawasi, maka otomatis dia tidak berani untuk melakukan dosa. Selama ini, mohon maaf, ketika kita melakukan dosa, itu salah satu sebabnya kita lupa bahwa Allah melihat. Kita tahu Allah Maha Melihat, tetapi ketika melakukan dosa kita kadang-kadang lupa dan lalai bahwa Allah itu Maha Melihat dan malaikat pun ada bersama kita untuk mencatat. Orang yang takut kepada Allah senantiasa merasa diawasi oleh Allah sehingga tidak berani melakukan dosa. Semua para ulama, orang-orang saleh dan salehah, orang-orang bertakwa, dimanapun mereka berada, mereka takut kepada Allah, baik mau dipuji maupun dicela oleh manusia. Yang mereka cari adalah wajah Allah, dan mereka takut kalau Allah melihat hatinya ternyata ada unsur ingin dipuji oleh manusia.

  3. Ikhlas dalam melakukan berbagai perkara yang Allah wajibkan atau Rasul sunahkan. Ini tanda ketiga. Orang yang memiliki rasa takut kepada Allah pasti dia ikhlas dalam beramal. Dia tahu Allah mengetahui hatinya, "*Rabbukum a'lamu bimâ fî nufûsikum* (Tuhanmu mengetahui apa yang ada di dalam hatimu)." Terkadang kita riya, sombong, atau ujub. Allah tahu isi hati kita. Orang yang takut kepada Allah selalu berusaha untuk ikhlas dan istikamah di atas keikhlasan. Tidak peduli dengan ucapan, pujian, atau celaan manusia, karena dia mencari wajah Allah. Jika kita mudah riya, ingin dipuji, pamer kekayaan, kecantikan di sosial media, pamer ilmu, atau menceritakan ibadah kita kepada orang lain dalam rangka untuk dipuji, itu menunjukkan bahwa kita tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Itu bohong, dusta. Ikhlaskan niat kita karena Allah dalam segala aktivitas kita di dunia.

  4. Merespon panggilan Allah dengan merendahkan dirinya. Dia selalu menghinakan dirinya di hadapan Allah *tabaraka wa ta'ala* ketika dia merespon panggilan dari Allah untuk taat kepada-Nya. Dia siap untuk merespon dengan, "*Sami'na wa atha'na* (kami dengar, kami taat)." Kapan pun dan di mana pun dihinakan dirinya, ditundukkan hatinya, dan seluruh jiwa raganya diserahkan hanya kepada Allah semata. Allah ridai dan cintai orang yang seperti ini. Sebagaimana disebutkan dalam Surah As-Sajdah ayat 15:

    Allah *tabaraka wa ta'ala* berfirman bahwa orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat kami, mereka hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan (dibacakan firman Allah) kepadanya, mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Allah *tabaraka wa ta'ala*, dan mereka pun tidak menyombongkan diri. Mereka siap diatur hidup dan kehidupannya oleh Allah dan Rasulullah *alaihi salatu wassalam*. Apapun kata Allah dia patuhi, apa kata Rasul dia patuhi. Apakah kita sudah termasuk? Jangan sampai ada yang membantah, ngeyel, mengingkari, mendustakan, atau menolak firman Allah karena tidak sesuai dengan hawa nafsu.

  5. Mudah tersentuh dan menangis kepada Allah. Sebagaimana Allah sebutkan dalam Surah Az-Zumar ayat 23:

    Allah sebutkan bahwa bergetar hatinya, bergetar kulit orang-orang yang takut kepada Allah. Hati dan kulitnya bergetar karena rasa takutnya tinggi kepada Allah. Mudah tersentuh ketika dibacakan firman Allah, hadis Rasulullah, atau diingatkan tentang kehidupan alam akhirat. Hati dagingnya lembut, bersih (*qalbun salim*). Kenapa bisa lembut? Karena sedikit dosanya. Dosa semakin sedikit maka hati semakin bersih dan lembut, akhirnya mudah meneteskan air mata. Para sahabat Nabi *alaihi sholatu wassalam* diceritakan tentang surga pun mereka menangis, bukan karena siksaan, tapi karena merasa itu hal yang sangat mereka idam-idamkan dan takut kalau mereka tidak terpilih untuk bisa masuk surga. Contoh ucapan dari Umar Bin Khattab *radhiallahu'anhu*:

    "Seandainya ada penyeru yang menyeru dari langit dengan mengatakan, 'Wahai manusia, *kullukum fil jannah* (kalian semuanya masuk ke dalam surga) kecuali satu orang laki-laki yang tidak boleh masuk surga, dia masuk neraka,' aku khawatir jangan-jangan aku ini yang dimaksud."

    Ini menunjukkan tanda-tanda takut kepada Allah dari seorang Umar yang dijamin masuk surga. Mereka tidak berbangga-bangga dengan ilmunya, nasabnya, atau statusnya, karena yang bermanfaat nanti di akhirat hanyalah iman dan amal saleh. Iman yang diteguhkan Allah karena dia memang benar imannya ketika di dunia mengikuti amal saleh yang Rasul contohkan. Istikamah mengucapkan syahadat dengan konsekuensinya, dibuktikan dengan perbuatan ketaatan, kepatuhan, ketundukan, keikhlasan, keyakinan, kepasrahan. Orang yang takut kepada Allah, mudah dinasihati, mudah menangis, mudah taat, mudah menjauhi maksiat, karena hatinya sudah baik. Jika hati baik, seluruh jasad akan baik. Allah berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 2: "Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hatinya." Jika hati kita tidak bergetar ketika disebut nama Allah, jangan-jangan hati kita berpenyakit, keras, atau kotor. Rasa takut, cinta, harap, tawakal, keikhlasan, kesabaran, syukur, semuanya ada di hati. Hati yang bersih akan mudah mengamalkan amalan hati ini.

  6. Sangat berhati-hati dalam hidupnya. Ini ciri khas orang yang punya rasa takut kepada Allah. Dia tidak mau sembarangan. Segala sesuatu dia pelajari dulu: haram atau halal, boleh atau tidak, syirik atau tauhid, sunah atau bid'ah, ketaatan atau maksiat. Dia tidak mau melakukan perkara-perkara yang syubhat (meragukan) sampai dia tahu persis bahwa ini disyariatkan, ada tuntunannya, ada dalilnya, baru dia melakukannya. Sebagaimana Allah firmankan di Surah Al-Mu'minun ayat 57:

    Orang-orang yang terpilih akan berhati-hati. Jika kita tidak berhati-hati, belajar sembarangan di mana saja, masjid manapun, siapapun narasumbernya, berarti dia tidak punya rasa takut kepada Allah. Orang yang punya rasa takut kepada Allah akan memilih narasumber, melihat akidahnya, manhajnya, temanya, masjidnya, semua dipelajari. Kenapa? Takut nanti disampaikan tidak benar. Ini adalah orang yang berhati-hati, bukan was-was. Orang yang berhati-hati takut jatuh kepada dosa. Anas bin Malik *radhiallahu'anhu* pernah mengatakan kepada para tabiin, "Hai kalian mengerjakan beberapa perbuatan yang perbuatan itu di mata kalian lebih rendah, lebih kecil, lebih ringan dibandingkan rambut yang pada masa Rasulullah *Shallallahu Alaihi Wasallam* kami menganggapnya sebagai perbuatan yang bisa membinasakan." Ini perbandingan antara sahabat dengan tabiin, bagaimana jika dibandingkan dengan kita zaman sekarang yang makin banyak orang tidak peduli dengan agamanya, atau peduli tapi meremehkan dosa.

  7. Menilai amal kebaikan masih sedikit. Sebanyak apapun amal kebaikannya, dia selalu mengatakan, "Saya enggak punya apa-apa, saya masih sedikit amal saya, saya baru mulai berusaha." Padahal amalnya sudah banyak, yang wajib maupun sunah. Dia sering bersedekah, berpuasa sunah, bangun malam tahajud, taklim di mana-mana. Tetapi dia mengatakan, "Saya enggak punya amal yang baik, saya banyak dosa." Inilah orang-orang yang takut kepada Allah. Dia justru menilai keburukannya sangat banyak. Amalnya dianggap sedikit, keburukannya dianggap banyak, padahal sebetulnya tidak. Dia orangnya amal yang banyak, keburukannya sedikit, tapi dia tidak pernah menyombongkan dirinya. Inilah orang yang memiliki rasa takut kepada Allah, sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri *rahimahullah*:

    "Seorang mukmin itu mengerjakan berbagai macam ketaatan dengan kondisi ia merasa khawatir dan takut (kalau amalnya) tidak diterima oleh Allah. Berbeda dengan orang yang *fajir* (durhaka) yang mengerjakan kemaksiatan dalam kondisi ia merasa aman atas perbuatan dosa yang dilakukannya."

    Allah mengisahkan dalam Surah Al-Mu'minun ayat 60-61 tentang orang yang sudah melakukan kebaikan tapi takut setelah melakukan kebaikan tersebut. Nabi *alaihi sholatu wassalam* menjelaskan kepada Aisyah *radhiallahu anha* bahwa ayat ini bukan tentang orang yang mencuri, berzina, atau membunuh lalu takut akan dosanya. Melainkan, maksudnya adalah orang-orang yang telah salat, berpuasa, bersedekah, lalu mereka takut kalau amal mereka tidak diterima oleh Allah. Justru setelah beramal saleh banyak ketaatannya, bukan makin pede, bukan makin berani untuk berbuat dosa dan maksiat. Pernahkah kita melakukan hal seperti ini? Setelah salat malam, setelah salat Ashar, setelah bersedekah kita takut kalau amal kita tidak diterima? Hal seperti ini yang Allah sukai. Allah menyebutkan di ayat 61: "Mereka itulah orang-orang yang akan bersegera melakukan kebaikan-kebaikan yang lain." Semakin luas kebaikannya dan mereka adalah orang yang pertama kali mendapatkan pahala dari Allah *tabaraka wa ta'ala*. Ini keuntungannya. Mereka terpilih karena mereka adalah orang-orang yang selalu menilai amal kebaikan sedikit. Justru mereka semakin takut kalau amal yang sudah baik ini ternyata tidak diterima oleh Allah *Subhanahu wa Ta'ala*.

    Imam Ibnu Rajab *rahimahullah* menyebutkan bahwa orang-orang Salaf terdahulu, setelah selesai ibadah Ramadan, mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amal ibadah mereka. Mereka takut kalau amal ibadah Ramadannya tidak diterima karena mereka sudah mengerahkan semua waktunya, tenaganya, pikirannya, hartanya, dan potensi apapun untuk beribadah kepada Allah. Ini tanda-tanda orang yang takut kepada Allah.

  8. Menyesali kejelekan dan dosa yang telah dilakukan. Seseorang yang menyesali, bersedih, dan menangis setelah berbuat dosa. Ini tanda orang yang takut kepada Allah, bukannya setelah selesai berbuat dosa malah gembira, bahagia, dan tertawa. Suatu hari, Qurs bin Wafiroh didapati sedang menangis. Ditanya penyebabnya, dia mengatakan, "Tadi malam aku gagal membaca Al-Qur'an sebagaimana biasanya, dan itu semua gara-gara satu dosa yang telah aku kerjakan." Ini balasan dari Allah. Begitu juga disebutkan oleh Ali bin Husein bin Abu Maryam (Zainal Abidin) Dia berkata, "Aku memiliki dosa sebanyak 40 lebih, kemudian sungguh aku telah mohon ampun kepada Allah sebanyak 100.000 kali untuk setiap dosa." Kenapa bisa sebanyak itu? Karena dia mengetahui bahwa Allah itu Maha Keras azabnya, Maha Keras hukumannya, maka dia sangat ketakutan mendapatkan azab dari Allah, sehingga dia beristighfar terus untuk satu dosa. Orang seperti ini bersemangat untuk memperbanyak ibadah, termotivasi untuk memperbanyak ibadah karena takut. Jika kita malas dan tidak sungguh-sungguh, banyak ibadah sunah yang ditinggalkan. Ini tanda-tanda orang yang tidak takut kepada Allah, hanya mengandalkan yang wajib-wajib saja. Padahal yang wajib pun banyak kekurangannya, banyak bolong-bolongnya. Tentunya kita sempurnakan dengan yang sunah-sunah. Puasa Senin-Kamis tidak ditinggalkan karena takut dosa, berharap kasih sayang Allah.

  9. Berusaha keras untuk menjaga anggota badannya dari perbuatan dosa. Rasa takut yang sebenarnya adalah rasa takut kepada Allah di mana dengan rasa takut itu akan menghalangi seseorang untuk berbuat maksiat. Jika kita masih berbuat maksiat (melihat hal terlarang, dll.) berarti kita bukan orang yang memiliki tanda-tanda rasa takut kepada Allah. Orang yang punya rasa takut kepada Allah matanya terjaga, telinganya terjaga, lisannya terjaga, hatinya, tangan, kaki, semua anggota tubuhnya terjaga. Lisannya tidak gampang menggibah orang lain, hatinya banyak berdzikir kepada Allah, tidak ada hasad, dengki, dendam. Dia menjaga perutnya jangan sampai memakan makanan yang haram. Dia menjaga kedua kakinya untuk tidak melangkah ke tempat-tempat yang dimurkai oleh Allah. Dia menjaga tangannya agar tidak mencuri, mengambil hak orang lain, berbuat curang. Dia menjaga segala aspek kehidupannya jangan sampai jatuh kepada dosa. Manusia bukan malaikat, kita pasti punya dosa. Tapi orang yang punya tanda-tanda rasa takut kepada Allah, semakin baik, maka dosanya semakin sedikit. Orang bertakwa bukan tidak punya dosa, tapi dosanya semakin hari semakin sedikit. Dia istikamah, segera bertaubat jika berbuat kesalahan, dan tidak lagi mengulangi perbuatan dosa yang sama. Itulah orang yang bertakwa.

  10. Banyak berdoa kepada Allah untuk dikaruniai rasa takut kepada-Nya. Minta kepada Allah dengan kalimat-kalimat doa seperti: "*Allahummaj'al hubbaka ahabba ilaiya min nafsi wa ahli wamali*" (Ya Allah jadikanlah cintaku kepada-Mu merupakan cinta yang terbesar yang paling aku cintai, dan jadikan rasa takutku kepada-Mu merupakan rasa takut yang paling aku takuti). Atau contoh lain, "*Allahumma aqsimlana min khoshyatika maa tahulu bihi bainana wa baina ma'aashik*" (Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang dengan itu menjauhkan kami dari bermaksiat kepada-Mu). Atau "*Allahummarzuqni tha'atika abadan ma abqaitani warhamni rahmatika maa abqaitani*" (Ya Allah berikanlah rezeki kepadaku untuk bisa selalu taat kepada-Mu dan berikan rezeki kepadaku (rahmati aku kasihani aku) Ya Allah untuk bisa selalu senantiasa menjauhi dosa-dosa selama Engkau hidupkan aku di muka bumi ini). Atau doa "*Allahumma innaka ta'lamu ma fi nafsi faghfirli dzunubi kullaha*" (Ya Allah Sesungguhnya Engkau memberikan tabir di antara seseorang dengan hatinya maka tabirilah antara diriku dengan berbagai macam dosa kepada-Mu agar aku tidak melakukan sedikitpun di antara dosa-dosa tersebut). Kalimat-kalimat seperti itu diminta kepada Allah agar bisa dijauhkan dari semua dosa, agar dikaruniakan kemampuan dan kekuatan untuk bisa memiliki rasa takut yang besar kepada Allah. Rasulullah *shallallahu 'alaihi wasallam* pun berdoa demikian. Rasulullah, orang yang paling takut kepada Allah, meminta ditambahkan rasa takut, karena itulah modal untuk semangat ibadah dan semangat untuk menjauhi dosa dan kemaksiatan.

Tanya Jawab:

1. Mengapa ada perkara syubhat di dunia ini?

Perkara syubhat ada untuk menguji keimanan kita. Adanya syubhat menjadikan kita harus waspada dan hati-hati agar tidak jatuh kepada dosa. Ini menjadi cobaan dan ujian bagi seseorang, untuk melihat apakah dia memiliki rasa takut kepada Allah atau tidak.

2. Hadis tentang jihad dan berbakti kepada orang tua?

Memang ada hadis tentang seorang yang ingin berjihad namun Rasulullah *shallallahu 'alaihi wasallam* menyuruhnya kembali berbakti kepada kedua orang tuanya. Ini menunjukkan keutamaan berbakti, terutama jika orang tua sangat membutuhkan anaknya sebagai penopang kehidupan sehari-hari. Rasulullah mengetahui kondisi tersebut dan memerintahkan untuk kembali ke orang tua.

3. Rasa takut yang berlebihan terhadap kematian, azab kubur, siksa neraka, dan nasib di akhirat, apakah termasuk takut yang benar?

Ini bukan berlebihan, justru rasa takut ini harus diperbanyak dan ditambahkan. Semakin tinggi rasa takut ini, semakin baik keimanan kita. Rasa takut yang negatif itu positif. Dengan rasa takut yang bertambah ini, kita akan semakin baik keimanan kita.

4. Orang yang sebelumnya bermaksiat, bertaubat, lalu tergelincir lagi, dan saat bertaubat kembali hatinya hambar, apakah tidak mendapatkan taufik dari Allah?

Bisa jadi karena kurang ikhlas atau taubatnya bukan taubat nasuha, sehingga hambar dan tidak merasakan nikmat ibadah. Perlu meningkatkan kualitas taubat. Allah menerima taubat yang benar, yaitu menyesal, menangis, bersedih, beristighfar, dan tidak lagi mengulangi perbuatan yang sama, serta berusaha membentengi diri dari dosa. Selama kita bertaubat dengan benar, meskipun jatuh lagi lalu taubat lagi, teruslah seperti itu hingga setan putus asa.

5. Apakah doa bisa merubah takdir?

Doa bisa merubah takdir dengan izin Allah. Takdir Allah sudah ditetapkan, dan di dalamnya sudah termasuk sebab-sebab, termasuk doa kita. Terjadinya sesuatu dengan takdir Allah, dan ketika kita berdoa lalu takdirnya berubah, itu pun takdir Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu untuk merubah apapun yang Dia inginkan. Kita tetap berdoa karena doa itu bermanfaat dan Allah menyuruh kita berdoa.

6. Bekerja di bank konvensional dan suami bekerja di kota lain, apakah lebih baik resign?

Bekerja di bank konvensional saat ini tidak dibolehkan karena jelas ada transaksi riba yang hukumnya haram. Anda harus segera resign. Ini dosa besar, dosa riba. Bagaimana jika besok mati dan Allah tidak memberikan ampunan? Siksa kubur menanti. Gaji yang Anda terima adalah harta haram. Ini bukan keras, tapi tegas. Sampaikan pada suami bahwa ini hukumnya haram dan tidak boleh melanjutkan kerja di bank konvensional. Allah Maha Pemberi Rezeki, carilah rezeki yang halal, berkah, dan bermanfaat.

7. Menggunakan uang pribadi untuk keperluan kantor karena anggaran terbatas, bolehkah membuat entri lain untuk menutupi uang pribadi?

Bicaralah dengan jujur kepada kantor mengenai kekurangan anggaran dan bukti-bukti penggunaan uang pribadi, jangan berbohong atau memanipulasi data. Ini sebagai tanda takut kepada Allah. Jika memang bisa menunjukkan buktinya, minta penggantian. Jika memungkinkan, ajukan perkiraan anggaran lebih dari awal, dan jika ada sisa dikembalikan.

8. Bagaimana cara mengobati hati yang sudah keras padahal sudah mengikuti kajian, baca Quran, dan salat, namun belum tersentuh?

Ada 30 obat hati yang keras. Anda bisa mencari artikel "30 Obat Hati yang Keras" di channel Telegram pribadi Ustadz Najmi Umar. Silakan baca poin-poinnya untuk melunakkan hati, mudah tersentuh, menangis, taat, dan menjauhi maksiat.

9. Doa agar anak-anak menjadi saleh dan salehah, senantiasa menegakkan salat fardu tepat waktu, berjamaah, dan takut kepada Allah?

Semoga Allah menjadikan anak-anak Anda seperti itu. Namun, bukan sekadar doa saja, harus ada usaha dari orang tua. Ada banyak cara agar anak menjadi saleh dan salehah. Ustadz merekomendasikan bukunya "100 Kiat Bagi Orang Tua Agar Anak Insya Allah Menjadi Saleh dan Shalehah". Lakukan kiat-kiat tersebut dengan serius dan sungguh-sungguh, *insyaallah* Allah akan menakdirkan Anda memiliki anak yang saleh dan salehah.

10. Memiliki anak dari istri pertama, bercerai, lalu menikah lagi, dan setelah talak kedua kalinya, istri memberikan syarat memilih antara istri atau anak-anak untuk rujuk.

Tidak bisa memilih antara istri atau anak. Anak adalah kewajiban sampai mati, tidak ada mantan anak. Jika istri memang wanita yang baik dan mau memperbaiki diri, rujukanlah kembali (jika masa iddah belum lewat) atau nikah ulang (jika masa iddah sudah lewat). Didik kembali istri karena memang itu tugas suami. Jangan disuruh memilih antara istri atau anak, karena dua-duanya kita butuhkan, apalagi anak.

POINTERS & CONCLUSIONS

DALIL & REFERENCES

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman."
— QS. Ali Imran (3): 175 • REFERENCE LINK
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhan mereka, dan mereka tidak menyombongkan diri."
— QS. As-Sajdah (32): 15 • REFERENCE LINK
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Kitab (Al-Qur'an) yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah."
— QS. Az-Zumar (39): 23 • REFERENCE LINK
إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang karena takut azab Tuhan mereka, mereka sangat berhati-hati."
— QS. Al-Mu'minun (23): 57 • REFERENCE LINK
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ۝ أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan (dengan ikhlas), sedang hati mereka takut (bahwa amalan mereka tidak diterima), karena sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera dalam (melakukan) kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya."
— QS. Al-Mu'minun (23): 60-61 • REFERENCE LINK

KATA BIJAK UNTUK STATUS

"Takut kepada Allah bukan sekadar ucapan, tetapi dibuktikan dengan ketaatan dan menjauhi maksiat dalam kehidupan sehari-hari."

WHATSAPP

"Orang yang benar-benar takut kepada Allah akan merasa diawasi oleh-Nya, baik saat sendiri maupun di hadapan orang lain."

WHATSAPP

"Keikhlasan dalam beramal adalah bukti nyata rasa takut kepada Allah, bukan karena ingin dipuji atau dilihat manusia."

WHATSAPP

"Saat dipanggil Allah untuk taat, jawablah dengan merendahkan diri dan penuh kepatuhan, tanpa bantahan atau kesombongan."

WHATSAPP

"Hati yang takut kepada Allah mudah tersentuh dan menangis saat mendengar firman-Nya serta ingatan tentang hari akhir."

WHATSAPP

"Berhati-hatilah dalam hidup; pelajari hukum syariat sebelum bertindak, dan jauhi perkara syubhat yang meragukan."

WHATSAPP

"Jangan pernah merasa amal kebaikanmu sudah banyak, tetaplah khawatir dan rendah hati karena takut amal tidak diterima."

WHATSAPP

"Setiap dosa yang dilakukan hendaknya disesali dengan sungguh-sungguh, disertai istigfar dan tekad untuk tidak mengulanginya."

WHATSAPP

"Jagalah seluruh anggota badanmu dari dosa, karena rasa takut kepada Allah mendorong kita untuk selalu menjaga diri."

WHATSAPP

"Perbanyaklah doa kepada Allah agar dianugerahi rasa takut yang besar kepada-Nya, sehingga mampu taat dan menjauhi larangan."

WHATSAPP